Mendesain Hasrat: Hasrat Visual dan Visualisasi Hasrat pada Objek Desain
(more…)Aku mengamati Arthur memanggil seorang pria bercelana jins, yang dengan menyebalkan datang lalu mengangkat lemari itu seolah lemari itu terbuat dari kertas—lalu aku membuntuti mereka masuk ke dalam toko yang hangat, dan mulai melihat-lihat ke sekeliling lagi padahal baru sepuluh menit yang lalu aku meninggalkan tempat itu. Aku betul-betul menyukai tempat ini. Ke mana pun kau menoleh, selalu ada sesuatu yang kau inginkan. Misalnya kursi berukir yang indah itu, dan penutup sofa dari beludru dengan lukisan tangan…Dan lihatlah jam besar menakjubkan itu! Setiap hari selalu ada barang baru.
Bukan berarti aku pergi ke sini setiap hari.
Aku hanya…tahu, kan. Aku hanya menebak saja.
“Anda telah membeli barang yang sangat bagus,” kata Arthur sambil menunjuk lemari koktail itu. “Anda jelas pintar menilai.” Dia tersenyum padaku, dan menulis sesuatu pada kertas.
“Saya tak begitu yakin,” jawabku merendah.
Walaupun sebetulnya aku memang pintar menilai. Dulu aku selalu nonton Antiques Road Show bersama Mum di setiap Minggu, jadi mestinya ada juga ilmu yang kuserap.
“Itu bagus juga,” ujarku sok pintar sambil mengangguk ke arah cermin besar berbingkai mengkilap.
“Ah, betul,” jawab Arthur. “Modern, tentu saja…”
Tentu saja aku tahu itu benda modern. Maksudku, benda itu bagus meskipun modern.
“Apakah Anda tertarik pada perlengkapan bar tahun 1930-an untuk melengkapi lemari itu?” Arthur menengadah. “Gelas tinggi…pitcher…Kami memiliki perlengkapan yang indah.”
“Oooh ya!” Aku tersenyum padanya. “Tentu saja!”
Gelas tinggi tahun 1930-an! Maksudku, siapa yang mau minum dari gelas modern yang buruk kalau bisa menggunakan gelas antik?
Arthur membuka buku besarnya yang bersampul kulit dengan tulisan “Kolektor”, dan aku merasakan sengatan rasa bangga. Aku seorang kolektor! Aku orang dewasa!
“Miss Rebecca Bloomwood…Perlengkapan bar tahun 1930-an. Saya punya nomor telepon Anda, jadi kalau kami dapat barangnya, saya akan menelepon.” Arthur memeriksa halaman bukunya. “Di sini saya lihat Anda juga tertarik pada jambangan kaca Venesia?”
“Oh! Mm…ya.”
Aku sudah lupa soal mengoleksi jambangan Venesia itu. Bahkan aku tidak yakin di mana jambangan pertamaku kusimpan.
“Juga jam rantai abad kesembilan belas…”jarinya menelusuri daftar. “Cetakan gaya Shaker…bantal jarum…” Dia menengadah. “Apakah Anda masih berminat pada benda-benda ini?”
“Yah…” Aku berdeham. “Sejujurnya, saya sudah tidak terlalu berminat pada jam rantai. Juga benda gaya Shaker itu.”
“Begitu. Dan sendok selai zaman Victoria?”
Sendok selai? Mengapa aku menginginkan setumpuk sendok selai tua?
“Anda tahu,” ujarku serius. “Saya rasa mulai sekarang saya fokus pada perlengkapan bar tahun 1930-an saja. Membangun koleksi yang betul-betul bagus.”
“Saya rasa Anda sangat bijaksana.” Dia melempar senyum padaku dan mulai mencoret-coret daftarnya. “Sampai berjumpa lagi.”
Ketika aku keluar dari toko menuju jalan, cuaca sangat dingin dan serpih-serpih salju melayang turun dari langit. Tapi tubuhku memancarkan kilau puas. Maksudku, itu tadi investasi hebat, kan? Lemari koktail asli tahun 1930-an—dan tak lama lagi aku akan memiliki koleksi perlengkapan bar yang serasi! Aku puas sekali.
Nah, apa tadi tujuanku keluar rumah?
Oh, ya. Dua cappucino.1

