Sebuah kuil berdiri di Delphi, Yunani. Di dalamnya tinggal seorang pendeta wanita bernama Pythia, juru bicara Apollo. Mulai dari rakyat jelata hingga raja datang berduyun-duyun meminta nasihat dan kebijaksanaan Apollo melaluinya. Tepat di atas pintu masuk kuil terpampang tulisan “Gnothi Se Authon” yang artinya “Kenalilah Dirimu Sendiri”. Konon kalimat itu perkataan Apollo, kalimat yang jadi basis ajaran Socrates, “Sang Lalat” Athena. Socrates senantiasa “menyengat” para pemuda Athena untuk berpikir secara jernih ihwal jati diri mereka yang sebenarnya. Dengan eksplisit Socrates menyatakan dia mengemban misi besar, yaitu membantu manusia menemukan pengetahuan diri yang terpendam. Socrates menyatakan karakteristik ilmunya seperti ilmu bidan (ibu kandungnya sendiri adalah bidan) yang membantu kelahiran pengetahuan sejati melalui pengenalan diri. Sebagai seorang maleutikos (bidan) pengetahuan, Socrates “membidani” kelahiran pengetahuan diri murid-muridnya dengan melontarkan pertanyaan yang tepat dan menyentak. Socrates berkeyakinan manusia itu seumpama benda buatan yang mempunyai tujuan atau fungsi tertentu. Adalah tugas manusia untuk menemukan serta melaksanakan tujuan dan fungsi itu dengan tepat.Terkait hal ini, Socrates mengajarkan kepada muridnya tentang dikaiosyne yang berarti “suatu hal diletakkan secara adil (dikaios)”. Socrates menjelaskan dikaiosyne adalah keadaan ketika manusia bertindak adil (dike) dengan menempuh suatu jalan dan pekerjaan yang tepat untuk dirinya, serta tidak mencampuradukkannya dengan jalan dan pekerjaan orang lain. Selain itu, Socrates juga menjelaskan aretè yang sering diterjemahkan sebagai kebajikan. Aretè adalah sebuah keunggulan yang dimiliki setiap manusia dalam hidupnya. Namun, nyatanya, kebanyakan manusia tidak mengenali aretè dirinya. Manusia harus mencari serta menemukan pekerjaannya (ergon) agar dapat mengenali keunggulannya di muka bumi. Bila seseorang menjalankan fungsi yang dirancang untuknya, dan ia melakukannya dengan sempurna, maka ia dipandang memiliki aretè. Misalnya, aretè alat pangkas adalah untuk memotong dahan-dahan pohon, karena dirancang untuk tujuan itu dan melakukan tugas itu lebih baik dari yang lainnya.

Dari masa Yunani Kuno, kita melompat lebih dari 2000 tahun ke masa kini. Salah satu konsep filsafat yang berpengaruh cukup kuat pada dunia pendidikan modern adalah konsep tabula rasa John Locke, seorang filsuf Inggris. Tabula rasa memandang pikiran manusia seperti papan tulis kosong yang di atasnya dituliskan pengetahuan. Locke tidak percaya intuisi atau teori pengetahuan bawaan. Belakangan konsep ini mendapat banyak kritik dan seakan ditinggalkan. Namun sebenarnya tidak sepenuhnya demikian, justru mengalami radikalisasi. Kini manusia dipandang sebagai makhluk tanpa cetakan primordial sama sekali. Manusia bisa jadi apa pun. Dengan satir Walker Percy, filsuf Amerika, mengatakan: “Anda hidup di sebuah zaman yang gila, lebih gila dari biasanya, karena kendati pun ada kemajuan besar-besaran sains dan teknologi, manusia tidak memiliki bayangan ide tentang siapa dirinya dan apa yang dia lakukan.” Bahkan seorang tokoh pendidikan nasional menyatakan apabila dia diberi seorang anak didik, maka dia bisa mencetaknya menjadi apa pun yang dia mau.

Melihat kembali ke khazanah Yunani Kuno, sebenarnya konsep dikaiosyne dan aretè dari Socrates perlu diperhatikan dunia pendidikan. Coba amati kisah hidup Einstein. Waktu kecil dia benar-benar anak yang payah. Dia dipandang bodoh dalam semua mata pelajaran, kecuali matematika. Bahkan gurunya menyatakan kelak bila Einstein besar, dia takkan menjadi apa-apa. Ternyata Einstein jadi fisikawan terbesar di abad dua puluh. Amati juga kisah hidup Thomas Alva Edison yang akhirnya dididik sendiri oleh ibunya setelah guru sekolahnya menolak mendidiknya. Setelah dewasa dia malah jadi seorang penemu. Dia bahkan betah melakukan eksperimen 3000 kali untuk menemukan lampu.

Apa yang paling mencolok dari kisah kedua tokoh itu? Energi minimal. Ini sejalan dengan konsep dikaiosyne dan aretè Socrates. Energi minimal itu semacam bayangan jati diri individu, suatu kemampuan utama yang dimiliki seseorang yang mengalir mudah ketika mengerjakan sesuatu. Energi minimal tidak mengisyaratkan seseorang harus mengerjakan sesuatu tanpa kerja keras. Orang malah bisa kerja keras siang-malam, namun tidak merasa sedang bekerja susah payah. Seperti halnya Edison dengan ribuan eksperimennya, dan Einstein dengan rumus-rumus fisikanya. Pekerjaan jadi begitu menyenangkan dan menggairahkan jika itu merupakan energi minimal. Setiap orang memiliki energi minimal, sehingga ada yang mudah mendalami filsafat, ekonomi, atau bahasa, dan lain sebagainya. Memang ada manusia yang terkategori polymath, tetapi bukan berarti mereka tidak punya energi minimal. Seseorang bisa saja bekerja keras menggeluti suatu hal, bukan dengan energi minimalnya, tetapi lebih kepada hasrat dan ambisi untuk meraih suatu hal. Tetapi agar manusia nyaman belajar dan mengerjakan sesuatu, energi minimal individu ini mesti direnungi, dicari, dan diuji dalam kehidupan.

Deden Himawan, penulis bernama pena Himawijaya, mengatakan guru yang baik mengajari, sementara guru sejati memberi inspirasi. Inspirasi akan membuat si anak didik mencari dan belajar dengan sendirinya. Inspirasi bisa memancing energi minimal keluar. Memang secara umum, kemampuan baca-tulis-berhitung adalah kemampuan standar yang harus dimiliki setiap orang berpendidikan. Namun dalam konteks literasi, tidak setiap orang akan menemukan kesenangan dan energi minimalnya dengan menulis. Dalam skala nasional, kita harus mempertimbangkan jati diri dan karakter tiap suku bangsa di Indonesia.

Cerita ini bisa memberi gambaran tentang bangsa kita. Suatu ketika Bambang Sugiharto, filsuf dan budayawan Bandung, berbincang-bincang dengan Seyyed Hosein Nasr. Bambang menceritakan kompleksitas peradaban Indonesia. Kehidupan masyarakat yang merentang mulai dari zaman batu hingga ke era cyberspace. Bambang mengilustrasikan bagaimana di daerah pedalaman, banyak suku terasing yang masih menggunakan kapak batu untuk membuat perahu. Sementara di kota, orang membuat perahu menggunakan teknologi canggih dan berskala industri massal. Mendengar itu, Nasr berkata seandainya di Indonesia muncul seorang pemimpin yang bisa mengelolanya, maka Indonesia akan jadi negara yang hebat dan besar. Komentar Nasr tersebut sangat menarik.

Dari cerita Bambang kita beralih pada ilustrasi lain yang lebih terkait dengan isu literasi Indonesia. Umumnya masyarakat Indonesia bisa dipilah dalam tiga kategori besar, yakni praliterasi, literasi dan posliterasi. Masyarakat praliterasi mewakili sebagian besar masyarakat negeri ini. Mereka hidup dalam tradisi lisan dan sulit mengakses media (buku, TV, internet dll). Kalaupun mudah, mereka tidak bisa mencernanya dengan baik. Kendala utama tentu saja pendidikan. Kemudian masyarakat literasi yang mewakili masyarakat terdidik. Walaupun masyarakat terdidik Indonesia memiliki akses terhadap buku, tidak berarti tradisi baca-tulis tumbuh subur di kalangan ini. Terakhir masyarakat posliterasi yang mewakili segmentasi penduduk di kota-kota besar, terutama mereka yang memiliki akses ke teknologi informasi dan audio visual seperti internet, TV kabel, multimedia, sarana telekomunikasi bergerak, dan sebagainya.

Dalam suatu kesempatan, Deden memaparkan pengalamannya selama beraktivitas secara paralel di tiga tempat. Bersama tim SDC (Swa Dharma Consulting) dibawah pimpinan Danny Daud Setiana, dia ikut berupaya membangun masyarakat Peundeuy-Garut yang terkategori masyarakat praliterasi. Sebagian besar penduduknya tidak tamat SD. Tingkat kesejahteraannya rendah. Peundeuy adalah kecamatan termiskin dengan derajat kesehatan dan pendidikan terburuk di Jabar. Menurut data statistik, mayoritas anak mudanya memiliki tiga profesi resmi, yaitu TKW/TKI, tukang ojeg yang gemar kebut-kebutan, dan preman di kota-kota besar. Bahkan ada satu desa yang pemudanya hanya tinggal seorang. Hampir semuanya hijrah ke kota dan bermasalah di sana.

Bersama tim SDC yang terdiri dari lulusan S1 dan S2, Deden terjun ke daerah itu serta mencoba bergabung dan menghayati susahnya menjadi penduduk desa. Di daerah ini Deden mendapati kemampuan baca anak kelas 2, 4, 6 SD serta kelas 1 dan 2 SMP sama adanya. Mereka begitu lambat membaca dan mencerap sebuah bacaan, sekalipun hanya koran olahraga. Namun mereka menonjol dalam kecerdasan ruang dan pengenalan alam, terutama hutan. Tim SDC kemudian membuka SMP terbuka dan semua personilnya terlibat menjadi staf pengajar. Sangat repot mengajari anak-anak SMP dengan standar lulusan rendah. Bahkan untuk tahun pertama (kelas satu SMP), mereka hanya menargetkan kedua puluh muridnya bisa lancar membaca dan berhitung saja (perkalian, penjumlahan, bagi dan kurang).

Setelah beberapa hari di Peundeuy, Deden pulang ke Bandung yang menurutnya adalah “kota yang indah untuk berwacana”. Kota Bandung merupakan salah satu kota yang cocok untuk merepresentasikan tipikal masyarakat literasi Indonesia. Di kota ini banyak sekali berdiri PTN maupun PTS, ditambah suasana sejuk dan nyaman untuk belajar. Selain itu, Bandung juga punya banyak toko buku alternatif yang menggalakkan kajian dan gerakan literasi di kalangan anak muda. Bersama Forum Studi Kebudayaan (FSK) ITB yang diketuai Yasraf Amir Pilliang (seorang pengajar FSRD, budayawan dan penulis prolifik), dia merambah berbagai diskursus filsafat dan budaya.

Semua anggota FSK tergolong pembaca banyak buku dan bisa menulis. Mereka berbagi peran dan pandangan sesuai wacana khas yang digelutinya. Mereka mencoba memacu kalangan akademis di sekitarnya untuk berpikir secara mendasar di tengah-tengah iklim akademis feodal dan minim karya tulis. Sekian kali kajian FSK diadakan, ternyata membuahkan beberapa antologi tematis. Hal ini bisa menyiasati kesulitan kalangan akademis dalam menghasilkan tulisan. Terlebih karena tidak ada tradisi sabbathical (semacam cuti menulis) di lingkungan akademis perguruan tinggi Indonesia. Tidak mudah membangun iklim ilmiah ditengah ingar-bingar orang lalu-lalang ke Factory Outlet yang sering membuat jalan macet. Tak jarang bersama teman-teman di FSK, mereka berdiskusi di kafe-kafe agar pembicaraan bisa lebih santai dan mengalir.

Setelah beberapa hari di Bandung, Deden ke Jakarta, ibukota beritme hidup sangat cepat dan serba instan. Di kota ini dia terlibat proyek posliterasi di Jakarta Islamic Center (JIC) di bawah pimpinan Syafi’i Mufid di bidang Diklat (Pendidikan dan Pelatihan). Bersama teman-temannya, mereka mengatur, menyusun, dan menyelenggarakan beberapa pelatihan bahasa Inggris berbasis IT dan animasi pendidikan dengan menggunakan beberapa software animasi termutakhir. Salah seorang personil, Iwan Suryolaksono, dengan brilian berhasil mengemas cara belajar mind mapping sampai belajar bahasa program dengan menggunakan animasi.

Dari pengalamannya, kita bisa melihat bahwa kategori praliterasi, literasi, dan posliterasi Indonesia bukanlah suatu tahapan evolusi peradaban. Ketiganya adalah kekuatan masyarakat Indonesia yang harus dikelola dengan tepat sehingga menjadi sesuatu yang revolusioner seperti dikatakan Nasr. Jangan sampai kita bersikap seperti orang yang hanya punya palu, sehingga memperlakukan segala hal sebagai paku. Misalnya untuk pembangunan desa tertinggal, kita harus mencari dan merumuskan konsep pendidikan dan pemberdayaan yang tepat. Memaksakan kurikulum umum yang diberlakukan untuk semua tempat di Indonesia tanpa menimbang masyarakatnya, kemungkinan besar tidak akan menuai hasil memuaskan. Tidak bisa pukul rata bahwa bangsa ini harus sepenuhnya menjadi bangsa literasi seperti Barat. Faktanya berabad-abad bangsa ini bisa bertahan menjadi negara seperti sekarang, dan itu ditopang oleh tradisi praliterasi di sebagian besar masyarakatnya.

Kita harus kritis terhadap gerakan literasi yang didengung-dengungkan banyak pihak, karena pendidikan tidak mengarah kepada gerakan baca tulis semata. Terlebih terhadap kecenderungan kesalahpengenalan diri yang disebarkan kepada masyarakat luas, baik disengaja atau tidak, yang mencitrakan bahwa menulis itu keren, dan bisa mencitrakan intelektual mumpuni. Secara esensial, apa signifikansi citra itu bagi diri seseorang? Hal semacam itu malah bisa memaksa orang untuk keluar dari energi minimalnya dan mencangkokkan kepribadian lain kepada dirinya. Septina Ferniati, penulis dan instruktur klub menulis, pernah menemukan seorang peserta yang bersikukuh ingin bisa menulis. Sekian lama dia bergabung dan sekian puluh kali menulis, dia tetap bukan orang yang pandai menulis. Ketika ditanya, dia mengakui lebih terampil dalam mengerjakan hal-hal teknis di dunia pertanian. Kalau memang dunia pertanian itu adalah energi minimalnya, kenapa harus memaksa menjadi diri yang lain (penulis)? Tidak ada hinanya menggeluti dunia pertanian.

Karenanya, seperti yang pernah dikemukakan Sofie Dewayani, novelis yang tengah belajar di Amerika, dalam merumuskan tujuan dan konsep pendidikan, seharusnya kita merujuk pada masalah, kebutuhan masyarakat lokal, serta target apa yang ingin dicapai, dan jenis literasi yang mereka butuhkan. Apakah literasi dasar (baca tulis), literasi fungsional (kemampuan dasar yang diperlukan buat dagang, bertani, dan kegiatan praktis lainnya itu), dan bagaimana metodenya? Siapa sasarannya? Kita dituntut mengenal watak dan kepribadian setiap suku di negeri ini dan memahami konsep kesistemannya dalam ke-Indonesia-an.

Kita tidak bisa seenaknya mengadopsi dan mencangkok begitu saja suatu metode pendidikan tanpa melihat tujuan sebenarnya. Misalnya, di Brazil ada Paulo Freire yang mencoba memberdayakan masyarakat dengan gerakan conscienta atau penyadaran. Hanya saja, dia mengambil konsep pendidikan sosialis untuk melawan kapitalisme atau penjajahan (hegemoni) melalui dunia pendidikan. Tujuan pendidikan terkait erat dengan konsep tentang manusia yang mendasarinya. Begitu juga dengan Quantum Learning dan Quantum Teaching. Terlebih dulu harus dilihat bagaimana karakteristik masyarakat yang akan disasarnya. Kita sudah sama-sama tahu pendekatan literasi di sekolah yang berlaku sekarang bertujuan seragam, entah di kota maupun di desa tertinggal.

Mari kita lihat film Dead Poet Society. Film itu menceritakan kisah segelintir pelajar di Akademi Welton, sebuah institusi pendidikan dengan disiplin keras dan kaku. Sampai suatu ketika, datanglah John Keating yang menjadi guru bahasa Inggris di situ. Gaya John Keating mengajar terbilang nyeleneh. Dia menantang muridnya untuk “membuat hidupmu luar biasa”. Beberapa murid terinspirasi ajaran Keating. Maka timbullah serentetan pemberontakan hingga berujung dengan tragedi bunuh diri Neil Perry sebagai bentuk perlawanan atas dominasi sang ayah. Keating dianggap bertanggung jawab atas peristiwa itu dan dia harus keluar dari Welton. Pertanyaannya, apakah cara pendidikan di Welton salah? Belum tentu. Bagaimana dengan mereka yang malah berhasil menemukan energi minimal dengan pola pendidikan seperti itu? Adanya murid-murid pemberontak, menandakan pola pendidikan seperti itu tidak cocok untuk mereka.

Memang tidak sederhana menemukan energi minimal setiap orang. Belakangan, ketimbang berpikir mendasar untuk membidani kelahiran energi minimal individu, muncul kecenderungan melakukan cangkokan serba instan. Apabila Anda pergi ke toko-toko buku besar di kota Anda, dengan mudah bisa Anda dapati berbagai jenis buku “how to”, “do it yourself” dan “self-help” memenuhi rak dan display toko itu. Buku-buku itu mengklaim dapat melejitkan keprigelan pembaca menghadapi zaman baru. Mungkin Anda termasuk salah satu pembacanya. Sebagian berguna untuk sebagian dalam melejitkan keprigelannya, tetapi bukan berarti kiat-kiat praktis itu dapat berhasil pada setiap orang. Buku-buku itu tidak menawarkan cara memandang masalah secara mendasar, melainkan tips-tips yang terkesan mudah namun sering mereduksi banyak hal. Selain itu, buku-buku psikologi populer tak jarang menawarkan kekejaman seperti yang diidentifikasi oleh Michael Shrage dalam Shared Mind: “Kebanyakan manajemen pop serta buku dan video swabantu (self-help) menawarkan berlimpah ruah saran tentang bagaimana sang individu dapat menjadi manajer terbaik atau orang yang lebih baik lagi, menikmati lebih banyak keintiman atau lebih banyak lagi hubungan profesional … Anda ‘membuka potensi tersembunyi Anda’ dengan melakukan hal-hal yang belum pernah Anda lakukan sebelumnya. Anda hanya tinggal mendapatkan cangkokan emosional dan kepribadian, maka segalanya akan berjalan dengan baik. Pesan paling mendasarnya memiliki kekejaman yang khas: tentunya Anda telah menjadi orang yang lebih baik jika saja Anda adalah seseorang yang lain.”

Dalam dunia literasi Indonesia, ada seorang penulis yang menggemari buku-buku praktis, khususnya bidang menulis dan membaca. Di depan forum dia meyakinkan audiensnya ada tips membaca cepat yang hanya membutuhkan waktu 15 menit saja, dan Anda sudah bisa menangkap isi buku itu. Apa benar? Apa tips membaca cepat itu manjur untuk membaca Anti-Oedipus: Capitalism and Schizophrenia karya Gilles Deleuze & Felix Guattari; atau Ecrits karya Jacques Lacan; atau Of Grammatology karya Jacques Derrida?

Penulis itu menyarankan mahasiswa yang sulit menulis skripsi untuk mulai mencicilnya dari semester-semester sebelumnya. Apa memang itu akar masalahnya? Lucky Ginanjar Adhipurna, seorang penerjemah, editor, dan peneliti di CRC (Climate Research Center), menceritakan dia menghabiskan waktu dua semester untuk membaca banyak buku dan berdiskusi, sebelum akhirnya menulis skripsi hanya dalam waktu seminggu. Masalah kesulitan menulis skripsi bukan terletak pada prose menulis, tetapi karena kebanyakan mahasiswa tidak tahu masalah yang akan dibahasnya, apa metodologinya, dan bagaimana memelajari metodologi tersebut. Apa sebabnya? Karena selama beberapa semester sebelumnya, dosen mereka tidak berhasil memberi inspirasi agar mereka tergerak belajar sendiri. Akibatnya mereka lebih tersedot pada hiruk-pikuk dunia gaul ketimbang memancing keluar energi minimalnya.

Selain itu, penulis itu juga menyarankan agar para dosen di perguruan tinggi diberi training how to tentang penulisan. Apa fakta bahwa persentase yang sangat kecil (0,12%) dalam menghasilkan karya tulis ilmiah di kalangan dosen perguruan tinggi akan selesai dengan training how to menulis semata? Masalahnya di kalangan perguruan tinggi, seorang dosen lebih dihargai karena jabatan strukturalnya ketimbang karya tulisnya. Kuatnya atmosfir feodalisme yang memosisikan dosen tua sebagai dewa tak terbantahkan dan serba (sok) tahu, tidak adanya masa sabbathical yang harusnya bisa mewajibkan dosen menghasilkan karya ilmiah, dan bukannya malah menjadi birokrat pun jadi masalah mendasarnya. Karena tidak semua dosen adalah orang yang tepat di bidang yang tepat (baca: dosen bukan energi minimalnya) dan jadi dosen hanya karena relasinya dengan dosen senior dan mencari status saja, membuat masalah tersebut semakin menumpuk.

Tampaknya, penulis itu hanya punya “palu”, dan menganggap “palu” itu cocok untuk menjawab semua masalah yang diperlakukan tak ubahnya “paku” saja. Bukan berarti buku-buku kiat praktis buruk. Tetapi kita harus kritis ketika muncul kecenderungan bahwa sebuah kiat praktis berpretensi menjadi solusi untuk setiap masalah. Khususnya dalam masalah literasi.

Pertanyaan mendasarnya adalah apa tujuan kegiatan literasi itu? Menurut Sofie, dalam konteks pengembangan desa tertinggal, yang penting diupayakan adalah pemberdayaan dan kemandirian. Sayangnya, dalam tujuan program literasi yang umum sering kali ‘empowerment’ diterjemahkan menjadi peningkatan taraf kehidupan ekonomi. Seolah-olah pendidikan itu untuk membuat orang kaya raya. Selain itu, pemahaman tentang identitas dan jati diri. Namun hambatannya adalah menjalarnya pandangan akan standar kemajuan yang tunggal dan seragam. Intinya, pendidikan di desa tertinggal harus mengembangkan pemanfaatan potensi dan jati diri lokal (swa bhawa). Contohnya Bangladesh yang sukses mengembangkan family literacy di daerah pedesaan. Masyarakat ikut berperan aktif sebagai tenaga pendidik. Di lingkup keluarga, anak mengajari orangtua atau anggota keluarga lain. Tenaga dari luar hanya sebagai pendamping, memfasilitasi kegiatan dan pertemuan agar masyarakat bisa saling belajar dan memberi masukan.

Dalam buku Orality and Literacy, Walter J. Ong mengritisi tradisi lisan. Dia memandangnya dengan latar belakang sebagai orang yang berasal dari masyarakat dengan tradisi literasi yang mumpuni. Akibatnya Ong sering kali gagal memahami kelebihan dan metodologi tradisi lisan. Terlihat Ong menjadikan literasi sebagai tolak ukur kemajuan peradaban.

Secara umum masyarakat Barat memang masyarakat yang telah sekian abad hidup dalam tradisi literasi yang telah mencapai kematangannya, bahkan nyaris jenuh. Kurniasih penulis kumpulan cerpen Kembang Kertas, pernah memberi gambaran bahwa tradisi literasi Barat juga memperlihatkan jejaknya dalam kehidupan kesehariannya. Adalah biasa apabila di kamar tidur, suami istri menyimpan lampu baca di samping mereka, karena terbiasa membaca dulu sebelum tidur. Atau, ketika menata rumah, rak buku atau perpustakaan pribadi menjadi satu hal yang cukup dipertimbangkan. Bayangkan, Indonesia menerbitkan 500 judul buku dalam setahun. Jumlah yang sama diterbitkan di Inggris dalam seminggu.

Selain itu, tradisi literasi Barat menciptakan individu yang bisa berjarak dari suatu fenomena, berefleksi terhadap pengalamannya, serta menyusunnya secara sistematis. Membaca bukan memindahkan isi buku ke dalam otak, seperti kamera obskura. Membaca adalah membangun sebuah ruang kritik yang memungkinkan pembaca menginterogasi sebuah buku. Membaca adalah menemukan logika di balik teks, titik-titk kritis, atau bahkan ruang kosong. Karena itu tafsiran atas teori lebih dimungkinkan berkembang dalam masyarakat literasi. Dialektika pemikiran seperti yang terjadi di masyarakat Barat sebagai hasil tradisi literasi telah menghasilkan banyak model penafsiran atas suatu fenomena.

Namun dalam buku Literacy Matters, Robert P. Yagelski pernah membahas pengaruh posmodernisme terhadap literasi. Salah satu topiknya mempertanyakan betul tidaknya literasi di dunia akademik mencerabut seseorang dari lingkungan tempat dia tumbuh. Betulkah literasi menciptakan kesenjangan antara negara maju dan berkembang? Bagaimana mengontekstualisasikan literasi dengan latar belakang kultur, politik, dan sosial beragam? Di negara yang wacana literasinya berkembang dengan konsisten seperti negara-negara Barat, ternyata literasi masih dianggap sebagai “opressor language” dan tercerabut dari realitas sehari-hari.

Yagelski menggugat hegemoni praktik literasi yang didominasi kulit putih. Permasalahannya, selama ini “literate” identik dengan peningkatan harkat hidup, status sosial, taraf kehidupan ekonomi, dan modernitas. Padahal menurut Yagelski, literasi tidak punya standar tunggal, karena ditentukan oleh konteks sosial sebuah komunitas. Praktik literasi yang terdekontekstualisasi ini membawa ideologi opresif tertentu (Brian Street menamakannya sebagai literasi ideologis). Contohnya, kebijakan disegragasi di sekolah umum (percampuran anak hitam dengan putih) dipertanyakan lagi. Sudah umum diketahui, kelompok Afro-Amerika tertinggal secara akademis di sekolah-sekolah. Praktik literasi di sekolah dikritik karena tidak mengakomodasi kekuatan dan potensi kelompok yang berbasis kepada tradisi lisan ini. Jadi anak-anak kulit hitam dipaksa mengejar ketinggalan mereka dari anak-anak kulit putih untuk meningkatkan taraf hidupnya. Hanya sebagian kecil saja yang mampu, karena dalam sejarahnya, baca-tulis bukan bagian dari budaya mereka. Prestasi anak-anak ini semakin menurun justru pasca disegregasi, dibandingkan ketika masih segregasi. Dalam hal ini, sekolah Amerika memang masih ketinggalan dengan Jerman misalnya, yang sudah sejak dari sekolah menengah menjuruskan anak-anak didiknya sesuai kemampuan dan bakatnya. Ada yang ke sekolah praktik, ada yang ke pendidikan tinggi, dan lain-lain. Terkait dengan isu literasi ini, dari Barat juga hadir Marshall McLuhan, pemikir media, yang malah mengritik tradisi literasi dan lebih mengunggulkan tradisi posliterasi.

Sebaliknya masyarakat Indonesia (sebagai bagian dari budaya Timur) adalah masyarakat yang sebagian besar penduduknya adalah masyarakat praliterasi yang dihantam oleh gelombang posliterasi (televisi, internet, handphone, dan sebagainya). Mentalitas praliterasi lebih didominasi tradisi lisan atau obrolan. Kelemahan masyarakat praliterasi adalah kecenderungannya memerhatikan efek atau aura dari suatu permasalahan. Hal ini dikarenakan mentalitas praliterasi cenderung tidak menumbuhkan kemampuan berjarak dari suatu fenomena, berefleksi terhadap pengalaman, serta menyusunnya secara sistematis. Manusia praliterasi cenderung reaktif dan spontan.

Kondisi di Indonesia jadi lebih problematis dengan masuknya gelombang posliterasi dalam bentuk negatif dan tidak produktif. Persentuhan dengan berbagai media posliterasi tanpa arah malah menghasilkan sikap penggunaan teknologi canggih sebatas untuk ngobrol ngalor-ngidul. Warnet dipenuhi mahasiswa kecanduan chatting. Telepon jadi media ngerumpi ibu-ibu rumah tangga. Handphone memunculkan kebiasaan baru berupa sms parodi dan konyol (jangan-jangan hanya di Indonesia terbit buku yang berisi sms-sms semacam itu dan laku keras). Bukan rak buku, lampu baca atau perpustakaan pribadi yang umumnya jadi pertimbangan masyarakat Indonesia dalam menata rumah, tapi ruang menonton keluarga dan letak televisi yang nyaman. Akibatnya, minat baca yang minim malah terjadi di masyarakat literasi Indonesia, ditambah pendidikan tidak inspiratif. Hal itu menyuburkan apresiasi dan cara berpikir yang dangkal.

Padahal sebenarnya manusia praliterasi lebih mempunyai kemampuan untuk menyeleksi dan memilih pengetahuan yang dibutuhkan. Tidak seperti manusia literasi yang justru dibanjiri banyak literatur dan tidak tahu hendak “memakan” pengetahuan yang mana, dan akhirnya “memakan” apa saja. Tak jarang sikap semacam itu malah membuat orang tidak produktif dan tidak bisa berargumen kecuali dengan mengandalkan teori dan pandangan orang lain. Daud, pimpinan SDC, terlahir di keluarga yang terkategori masyarakat praliterasi. Namun, dia berhasil lulus dari ITB dengan predikat cum laude. Dia membuat skripsi tentang permasalahan moneter yang menimpa Indonesia. “Setiap sistem memiliki daya tahan maksimum dalam memikul sebuah beban. Jika daya tahan maksimum itu terlampaui, maka perilaku sistem akan berubah.” Itu inti skripsinya. Sederhana tapi mendasar. Hal itu diperdalam lagi di tesisnya. Rumusannya membuat pihak Bank Indonesia tertarik. Dalam konteks tulisan ini, hal yang menarik adalah fakta bahwa selama kuliah di ITB, Daud hanya pernah membaca tidak lebih dari 5 buku saja. Dia juga bukan seorang penulis prolifik. Dia hanya menulis ketika menyusun skripsi dan tesis. Tetapi dia mempunyai banyak gagasan brilian yang lahir dari energi minimalnya.

Juga bukan sesuatu yang luar biasa kalau Andrea Hirata, penulis Laskar Pelangi, dapat menulis novel tebal hanya selama tiga minggu serta memperlihatkan imajinasi dan kata-kata yang kuat. Padahal sehari-hari dia bekerja sebagai pegawai keuangan sebuah BUMN, belum pernah menulis satu cerpen pun, dan hanya pernah tamat membaca satu novel saja. Karenanya terlalu berlebihan apabila muncul dugaan Andrea Hirata mengalami trance ketika menulis novel itu. Energi minimal seseorang bisa mengalir dengan mudah ketika melakukan pekerjaan yang tepat, sehingga dia bisa larut dalam keasyikan tanpa merasa lelah. Terlebih novel itu diangkat dari pengalaman pribadinya. Selain itu pengalaman yang sangat berkesan akan memahatkan memori dalam kualitas paling kuat, sehingga ketika seseorang mengenangnya, sensasi yang muncul pun seakan menghadirkan kembali pengalaman itu.

Imam Syafi‘i, salah seorang Imam mazhab fiqih di Islam, pernah mengatakan bahwa kalau kita mendapatkan pengetahuan, ikatlah dengan tulisan. Memang benar bahwa dalam kegiatan belajar mengajar seharusnya ada aktivitas membaca dan menulis. Terlebih itu adalah kemampuan standar yang harus dimiliki saat ini. Setiap peserta didik harus punya catatan sendiri atas materi pelajaran yang dia dapatkan. Biasanya catatan tersebut bersifat khas dan individu. Karenanya, orang lain yang meminjam dan memfotokopi catatan itu, belum tentu bisa membaca dan memahaminya. Akan tetapi, bukan berarti setiap peserta didik harus menuliskan kembali pelajaran jadi sebuah artikel utuh. Menulis, bagaimanapun, membutuhkan energi tersendiri. Seorang penulis bisa merasakan kebahagiaan ketika menulis, karena itu adalah energi minimalnya. Tetapi, dia tidak bisa memaksakan orang lain untuk berbahagia melalui menulis. Tidak semua orang bisa bahagia dengan menulis. Terlebih dalam masyarakat Indonesia yang punya tiga tradisi literasi.

Seorang yang bergelut di dunia akademis memang harus seorang yang berpendidikan. Tetapi, seorang akademis belum tentu seorang penulis yang baik. Misalnya, Max Weber, sosiolog terkemuka. Ide-idenya brilian, tetapi dia juga dikenal sebagai penulis yang buruk. Ferdinand de Saussure, bapak linguistik modern, punya pemikiran yang sangat memengaruhi abad dua puluh, justru melalui buku yang tidak ditulis olehnya. Buku Pengantar Linguistik Umum itu ditulis oleh para mahasiswanya dari catatan-catatan kuliah mereka. Dalam tradisi Islam, banyak karya tasawuf seorang sufi besar justru merupakan tulisan para muridnya yang mencatat pengajaran-pengajarannya.

Seorang editor pernah menceritakan pengalamannya beberapa kali mendapatkan naskah buruk yang tidak karuan kalimatnya. Padahal naskah itu ditulis oleh seorang akademis yang punya banyak gelar. Namun ada gagasan yang brilian di balik tulisan itu. Akhirnya, dia menulis ulang naskah itu sehingga lebih enak dibaca. Tampaknya cara kerja seperti itu bisa jadi salah satu solusi di Indonesia. Tidak setiap orang yang punya ide brilian bisa menuliskan gagasannya dengan baik. Karena itu tidak ada salahnya dia bekerja sama dengan orang lain yang bisa memahami gagasannya, mendiskusikannya serta menuliskannya dengan baik. Kita tidak perlu memelihara sindrom Superman yang merasa bisa mengerjakan segala hal seorang diri.[]