Isu tentang kebangkitan spiritualitas di abad 21 sudah menjadi hal klise yang sering memancing antusiasme. Munculnya gerakan New Age, filsafat perenial, SQ, bahkan isu titik temu sains dan agama, kerap dipandang sebagai isyarat kebangkitan tersebut. Indonesia pun tidak ketinggalan memeriahkan antusiasme isu kebangkitan spiritualitas tersebut. Salah satunya adalah gerakan islamisasi pengetahuan yang melahirkan usulan ekonomi islami, psikologi islami, sains islami dan lain sebagainya, yang umumnya, dilakukan melalui “sedikit” penyesuaian istilah dan klaim. Namun, sebelum berantusias kepada isu spiritual di Barat, ada permasalahan mendasar yang perlu dicermati, yaitu perbedaan pengertian spiritualitas di Barat dan Timur.

Spiritualitas Barat

Mari kita lihat beberapa contoh spiritualitas di Barat. Dalam salah satu episodenya, Oprah Winfrey pernah menghadirkan beberapa perempuan muda yang bermasalah dan dipenjara. Salah satunya adalah seorang perempuan yang membunuh kawannya sendiri, namun dia tetap tidak merasa bersalah. Untuk mengatakan bahwa sekarang dia sudah jauh lebih baik, perempuan itu mangatakan bahwa dia percaya pada spirit. “Spirit? Maksudmu Tuhan?”, tanya Oprah. “Bukan. Spirit.”

Contoh lainnya adalah Madonna, yang menjadi ikon seksualitas musik pop. Pada shownya yang ke 1000, Madonna berdoa “saya spiritual”, “saya religius”. Ketika ditanya tentang acara doa sebelum pertunjukan tersebut, Madonna berkata “Ya, saya religius. Mereka ikhlas, paling tidak sejauh menyangkut diri saya…Saya tidak mencoba membangun jembatan antara seks dan agama. Hanya gereja Katolik yang bersikeras memisahkan keduanya, dan keduanya selalu dipisahkan, dan itu nonsense.”

Atau kemunculan SQ (Spiritual Quotient) yang disambut antusiasme (ataukah kelatahan?) di tanah air kita. Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ merupakan kecerdasan ultima namun tidak ada kaitannya dengan agama. SQ adalah kecerdasan untuk memaknai hidup, sehingga seorang ateis pun, menurut mereka berdua, bisa memiliki SQ yang tinggi ketimbang seorang yang religius. Dalam wilayah psikologi, SQ bukanlah sebuah kecerdasan an sich, tapi lebih kepada sebuah usaha terapi-diri dalam memaknai setiap tindakan dan hidup melalui suatu proses penandaan, dengan tubuh dan otak sebagai wilayah aktivitasnya. Proses pemaknaan tersebut dilakukan untuk dapat menentramkan dan memberi jawaban atas masalah-masalah eksistensial yang sebenarnya berasal dari alam bawah sadar berupa kompleks, yang merupakan tumpukan masalah yang terpendam.

Dari ketiga contoh di atas, kita bisa melihat bahwa pengertian orang Barat tentang spiritualitas tidaklah sama dengan pengertian yang umumnya dipakai oleh orang-orang Timur, khususnya Indonesia. Di Barat, spiritualitas umumnya dipahami sebagai sebuah intensitas, sebuah pengalaman mendalam yang tidak selalu terjadi setiap saat dalam kehidupan sehari-hari.

Singkatnya, makna spiritualitas di Barat, tidak selalu terkait dengan penghayatan agama atau bahkan dengan Tuhan. Spiritualitas itu lebih merupakan sebentuk pengalaman psikis yang meninggalkan kesan dan makna yang mendalam. Selain itu, pada dasarnya pemaknaan—apalagi pemaknaan hidup—senantiasa berkaitan erat dengan segenap pengalaman psikis dan konstruksi budaya yang membentuk manusia.

Spiritualitas Timur

Berbeda dengan masyarakat Barat yang telah sekian abad hidup dalam atmosfir sekularisme, bangsa Timur (khususnya Indonesia) dalam sejarahnya tidak mengalami sekularisasi seperti yang terjadi di Barat. Sentimen terhadap agama masih tinggi, sehingga pengertian spiritualitas pun masih terikat erat dengan agama. Belakangan ini, di tanah air mulai marak diadakan training-training yang berbau spiritualitas. Misalnya training ESQ, atau training ma‘rifat dalam sehari (di dalamnya juga ada paket SQ), atau training shalat khusyu, dan lain sebagainya. Bisa terlihat bahwa kesemua training tersebut masih menambatkan visinya terhadap Tuhan. Untuk membangun hubungan yang semakin dekat dengan Tuhan.

Coba lihat kasus kontroversi foto Anjasmara dan Izabel yang memerankan Adam dan Hawa di surga Eden. Fotografer dan kurator bisa mengatakan bahwa itu adalah sebuah realitas spiritual. Sudah lazim bahwa seniman umumnya memiliki utopia untuk bisa mereguk kebebasan mutlak di mana-mana. Tetapi, tidak seperti Madonna yang bisa saja memproklamirkan spiritualitas dari liberasi seksualitasnya, dalam masyarakat kita, spiritualitas tidak bisa disandingkan dengan foto telanjang yang dinilai tabu. Karya semacam itu akan lebih dipersepsi sebagai pornografi ketimbang sebagai realitas spiritual.

Contoh lain, dalam training ESQ, misalnya, janganlah mengharapkan adanya landasan epistemologis yang kokoh seperti yang umum ditemui dalam kerangka teoretis modern. Training tersebut mencoba untuk menghadirkan sebuah keharuan psikis yang bersifat spiritual. Uraian-uraiannya bukan untuk dikritisi secara teoretis, tetapi lebih diarahkan untuk membuat peserta mengalami intensitas psikis akan kebesaran Tuhan, sebuah kesadaran yang distimulus oleh sugesti berupa kata-kata dan visualisasi. Apabila peserta bisa merasakan keterharuan, bahkan hingga menangis, maka peserta akan merasakan suatu kedekatan tersendiri dengan Tuhan.

Spiritualitas di Timur bisa dikatakan identik dengan religiusitas berupa penghayatan dan kedekatan manusia dengan Tuhan melalui ajaran-ajaran agama. Permasalahan perbedaan makna spiritualitas versi Barat dan Timur yang mendasar tersebut seringkali diabaikan oleh sebagian masyarakat Timur, khususnya Indonesia, yang seringkali langsung menyambut wacana spiritual dari Barat dengan antusiasme dan mengadopsinya secara longgar. Mungkin, itulah ekses dari mentalitas praliterasi yang tidak menumbuhkan kemampuan dan kejelian pembacaan atas wacana spiritualitas yang berkembang di Barat.[]