Dalam buku Politeia (lebih dikenal sebagai Republic) Socrates mengemukakan alegori gua. Alegori tersebut menggambarkan sekumpulan orang yang berdiam di gua bawah tanah dan mendapati kaki dan lehernya terbelenggu sejak kecil. Akibatnya mereka selalu berada di sana dan hanya dapat memandang ke arah depan karena terhalang oleh belenggu untuk dapat membalikkan kepalanya. Ada seberkas cahaya api berada pada suatu jarak di belakang mereka. Di hadapan para tawanan tadi ada dinding gua yang memantulkan bayang-bayang, seperti pertunjukan wayang. Di belakang tawanan tersebut ada orang-orang yang mengangkut beban dan memaujudkan segala sesuatu yang membayang pada dinding gua.
Ketika salah seorang terbebas dari belenggu dan dipaksa untuk berdiri serta berpaling dan mengangkat matanya ke arah cahaya yang menyilaukan. Awalnya ia kebingungan membedakan antara benda nyata dengan bayang-bayang di dinding gua. Ternyata selama ini ia salah menganggap bayangan di dinding gua lebih nyata dari pada benda-benda yang kini lihatnya secara langsung. Kemudian orang tersebut ditarik keluar menuju cahaya matahari. Ia pun menyadari bahwa mataharilah penyebab pergantian musim dan rangkaian tahun.
Setelah itu, orang tadi diwajibkan untuk menghadapi para tawanan abadi di dalam gua guna menjelaskan “hierarki realitas” yang telah dilihatnya, dan menyadarkan apa yang lebih nyata daripada bayang-bayang di dinding gua. Namun dia malah ditertawakan oleh para tawanan abadi tersebut. Bahkan ketika dia mencoba membebaskan mereka, para tawanan tersebut malah marah dan mengancam akan membunuhnya.
Sejalan dengan alegori ini, Rumi pun mengemukakan hal sebagai berikut: “Apabila ada yang mengatakan kepada janin di rahim, ‘Di luar sana ada sebuah dunia yang teratur. Sebuah bumi yang menyenangkan, penuh kesenangan dan makanan, luas dan lebar. Gunung, lautan dan daratan, kebun buah-buahan mewangi, sawah dan ladang terbentang. Langitnya sangat tinggi dan berbinar, sinar mentari dan cahaya bulan serta tak terkira banyaknya bintang. Keajaibannya tak terlukiskan: mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, di dalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini?’ Janin itu, sebagaimana layaknya, tentu akan berpaling tak percaya sama sekali; karena yang buta tak memiliki imajinasi. Maka, di dunia ini, ketika seorang suci menceritakan ada sebuah dunia tanpa bau dan warna, tak seorang pun di antara orang-orang kasar yang mau mendengarkannya: hawa nafsu adalah sebuah rintangan yang kuat dan perkasa. Begitupun hasrat janin akan darah yang memberinya makanan di tempat yang hina merintanginya menyaksikan dunia luar, selama ia tak mengetahui makanan selain darah semata.”
Kedua ilustrasi tersebut memiliki kesejalanan dalam menggambarkan hierarki realitas. Menarik bahwa Luce Irigaray, feminis Prancis, pernah menafsirkan ulang alegori gua ini dalam Plato’s Hystera (hystera [Yunani] artinya adalah rahim), namun bukan dalam konteks hierarki realitas. Bahwa pada prinsipnya, tradisi spiritual mempunyai sistem kepercayaan yang dilandasi gagasan dasar tentang struktur realitas yang hierarkis, terdiri dari alam-alam yang semakin tinggi, kompleks dan lebih nyata. Inheren di dalamnya adalah hierarki epistemologis. Namun, pandangan semacam itu kini terdengar asing bagi pemikiran modern. Peradaban Barat modern menolak sama sekali keberadaan struktur hierarkis realitas ini. Struktur hierarkis ini digantikan konsepsi realitas datar, tersusun dari materi belaka yang memang paling cocok diselidiki melalui sains berbekal rasio. Maka dikukuhkanlah filsafat resmi dalam peradaban Barat modern: materialisme saintifik.
Sementara di Timur—yang juga tak kebal dari modernitas Barat—situasinya tak jauh berbeda. Bagi kalangan yang menerima doktrin agama sekalipun—meski konsepsi hierarkis ini bisa saja diterima sebagai suatu gagasan—realitas hierarkis ini nyaris tak terjamah, tak teralami, tak tereksplorasi, tak teraktualisasi, bahkan dalam kehidupan aktual ‘keberagamaannya’ sehari-hari. Bukannya tidak mau menerima gagasan adanya alam yang lebih tinggi, hanya saja kita nyaris lupa bagaimana cara dan rasanya hidup di alam semesta hierarkis semacam itu. Yang kita tahu, setiap hari kita hidup di alam material, alam kehidupan sehari-hari.
Dalam tradisi ilmiah, struktur hierarkis realitas—mulai dari materi, tubuh, pikiran dan psikis, jiwa, hingga ruh—bisa sepenuhnya direduksi menjadi struktur materi. Sementara materi—dalam otak maupun sistem/proses material lainnya—akan menjelaskan seluruh realitas tanpa sisa. Inilah yang terjadi dalam modernitas, yaitu, runtuhnya seluruh dimensi interior atau struktur hierarkis realitas. Maka, landasan seluruh ilmu hanyalah rasionalitas yang berjasa memunculkan tradisi kritis terhadap segala hal. Dalam wacana humaniora, tradisi kritis tersebut terus berlanjut hingga saat ini dan telah melahirkan berbagai paradigma besar yang menawarkan berbagai konsepsi tentang kemanusiaan. Teori A dikritisi oleh teori B, yang pada gilirannya nanti, teori B ini pun akan dikritisi oleh teori C, dan demikian seterusnya. Hingga sampailah pada beberapa kesimpulan bersama. Bahwa kebenaran sejati itu tidak ada, karena yang ada hanyalah suatu konstruksi hasil tafsiran manusia. Tafsiran itu sendiri adalah bentukan dari berbagai pengalaman kebertubuhannya, bahasa dan pemikiran yang dipengaruhi kondisi sosial kultural tertentu. Bahwa dengan kemampuan akalnya, manusia mampu menjadikan yang alami sebagai budaya, sehingga seluruh kehidupan manusia dipandang sebagai konstruksi semata.
Agama pun diposisikan sebagai konstruksi budaya. Secara psikis, agama adalah halusinasi bawaan masa kanak-kanak, serupa dongeng nina bobok. Menggemaskan pada kanak-kanak, tapi mematikan pada orang dewasa. Tuhan tak ada, karena setiap yang nyata mesti terdaftar dalam sains, dan sejauh ini tak ada mikroskop atau teleskop yang pernah menangkap keberadaan Tuhan. Di sinilah terlihat bahwa sekalipun rasionalitas itu berhasil membangun kekritisan, namun dia tidak sepenuhnya kritis. Rasionalitas bisa membuat orang curiga bahwa makna itu tidak ada. Tetapi itu belum cukup curiga karena mereka tidak memperkenankan diri mereka sendiri untuk mencurigai bahwa kebenaran boleh jadi memang ada.
Hingga sekian abad, di samping sumbangan konkretnya yang besar untuk peradaban, rasionalitas ternyata cenderung mengelak untuk apresiatif dan terbuka terhadap epistemologi lain yang berlandaskan pada hierarki realitas. Setelah mengangkat wacana pluralisme yang melengserkan cita-cita universalisme di berbagai ranah kemanusiaan, diam-diam rasionalitas malah memposisikan diri sebagai Sang Universal untuk segala masalah kemanusiaan. Karenanya, wacana spiritualitas pun nyaris tidak bisa beranjak dari wilayah tubuh dan psikis untuk bergerak ke wilayah jiwa dan ruh, sebagai habitat lain dari spiritualitas.[]
