“Kebanyakan manajemen pop serta buku dan video swabantu (self-help) menawarkan berlimpah ruah saran tentang bagaimana sang individu dapat menjadi manajer terbaik atau orang yang lebih baik lagi, menikmati lebih banyak keintiman atau hubungan profesional…Anda ‘membuka potensi tersembunyi’ dengan melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Anda hanya tinggal mendapatkan cangkokan emosional dan kepribadian, maka segalanya akan berjalan dengan baik. Pesan paling mendasarnya memiliki kekejaman yang khas: tentunya Anda telah menjadi orang yang lebih baik jika saja Anda adalah seseorang yang lain.”

Sindiran Michael Shrage dalam Shared Minds tersebut dengan tajam menguliti ideologi berbagai industri nasihat yang dikemas menjadi buku psikologi populer (self-help, how to dan do it yourself). Umumnya buku-buku tersebut mengklaim dapat melejitkan keprigelan pembacanya untuk meraih kesuksesan hidup. Di toko buku dengan mudah didapati berbagai buku psikologi populer memenuhi rak pajangnya. Buku-buku tersebut tidak menawarkan cara memandang masalah secara mendasar, hanya tips-tips yang terkesan mudah namun mereduksi habis-habisan banyak hal.

Beberapa tahun lalu, saya berkelakar dengan seorang sahabat, “Jangan-jangan, sebentar lagi akan terbit buku berjudul Kiat Praktis Menjadi Sufi dalam 30 Hari.” Sahabat tersebut menimpali, “Karena laris manis, tidak lama kemudian terbit buku berjudul Kiat Praktis Menjadi Sufi Seminggu Lebih Cepat daripada Buku Terbitan Sebelumnya.” Rupanya kami berdua luput melihat maraknya lokakarya “spiritual” bertarif mahal yang menawarkan efek instan, seperti ESQ, shalat khusyu’, mengalami hakikat syahadat tanpa tirakat bertahun-tahun, dan lain sebagainya. Selain itu, kami juga salah memprediksi. Ternyata bukan dalam waktu sebulan atau seminggu lebih cepat, tetapi hanya dalam satu dua hari training saja!

Apakah karena sekarang adalah zaman instan, maka spiritualitas pun menjadi instan juga? Seringkali spiritualitas diposisikan sebagai salah satu nilai tawar dalam industri kiat praktis. Spiritualitas pun berubah rupa menjadi terapi, dan bukan lagi praktik penempaan dan penyucian jiwa sepanjang hayat. Gairah pencarian akan Tuhan seringkali menjadi tak terbedakan dengan gairah kepenasaran untuk merasakan berbagai sensasi seolah-olah spiritual. Sensasi-sensasi tersebut distimulus melalui berbagai pengondisian psikis. Karenanya, kini pun muncul simulakra mistisisme berupa titik balik, yaitu, ketika spiritualitas hanya menjadi semacam terapi untuk mereparasi dan mengembalikan lagi manusia ke pola hidup hedonis dan hasrat kebertubuhannya. Dalam simulakra mistisisme, ada fenomena yang menyerupai “ekstase” namun dialami dalam suatu cara yang tidak bersifat religius. Pengalaman serta kualitas transformasinya pun sangat berbeda bila dibandingkan dengan ekstase mistisisme.

Manusia kontemporer cenderung rapuh terhadap penderitaan, karena terbiasa hidup dalam budaya kenikmatan dan keinstanan. Fenomena maraknya buku psikologi populer belakangan ini merepresentasikan meningkatnya kecenderungan orang untuk mencari penyelesaian masalah secara instan. Pencarian solusi instan tersebut cenderung bersifat mubazir. Permasalahannya, setiap kali selesai dari satu masalah, manusia akan berhadapan dengan masalah baru lainnya. Terlalu banyak stok masalah yang menanti manusia dalam setiap langkah kehidupannya, bahkan di kehidupan berikutnya. Karena masalah begitu banyak, maka perlu berapa banyak buku kiat praktis untuk menyelesaikan berbagai masalah tersebut? Repotnya lagi, buku psikologi populer jarang mengajak pembaca untuk menukik ke dasar permasalahan hidup serta menumbuhkan kemampuan reflektif yang mengakar. Secara umum, manusia kontemporer adalah manusia yang tidak suka diajari. Ini terlihat dengan laris manisnya berbagai buku sejenis Chicken Soup. Sang penulis menceritakan berbagai kisah yang bisa dimaknai secara subjektif oleh pembaca, sesuai dengan realitas dan pengalaman pribadi pembaca. Sang pembaca tidak merasa digurui, karena dia sendirilah yang mengambil pelajarannya.

Begitu pula dengan training-training ‘spiritual’. Biasanya training tersebut memanfaatkan berbagai ‘gangguan’ psikis ketimbang kesadaran reflektif. Para peserta dikondisikan sedemikian rupa: lampu dipadamkan, lilin dinyalakan, suasana dibuat hening, dan para peserta diberikan kata-kata sugestif yang dapat membuat mereka menangis meraung-raung. Untuk beberapa waktu mereka berubah kepribadian. Efek training lumayan terasa untuk satu dua hari. Setelahnya, itu semua hanya tinggal kenangan.

Seperti senantiasa terjadi dalam sejarah kehidupan spiritual manusia, gagasan tentang spiritualitas pun rentan mengalami distorsi. Begitu pula dalam realitas kebudayaan kontemporer. Dahulu, apabila seseorang gelisah, dia mencari jawaban dalam agama. Sedangkan saat ini, manusia lebih banyak lari ke terapi dan kiat praktis yang sifatnya adalah pengobatan sementara. Mereka tidak tertarik akan keselamatan diri lewat perenungan atau ibadat, melainkan tertarik terhadap ilusi-ilusi yang bersifat sementara, seperti kesehatan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan keamanan psikis lewat terapi dan training. Hanyut dalam berbagai bentuk terapi, seperti yoga, latihan spiritual kilat, astrologi populer, joging, pusat kebugaran. Kondisi ini melahirkan suatu fenomena yang disebut Yasraf Amir Piliang sebagai pospiritualitas, yaitu kondisi spiritualitas ketika yang suci bercampur aduk dengan yang profan, yang sakral bersimbiosis dengan yang permukaan, sehingga batas di antara semuanya menjadi kabur.

Jantung spiritualitas bukanlah pada kiat praktis lagi instan, atau juga pada kepribadian cangkokan ala buku psikologi populer dan training ‘spiritual’. Jantung spiritualitas ada pada permasalahan keunikan tiap manusia, yaitu, rahasia misi hidup individu. Rahasia misi hidup tersebut tersimpan jauh di dalam jiwa (bukan psikis) dan ruh. Tak ada satu pun kiat praktis dan training instan yang bisa membuka rahasia ini. Rahasia misi hidup tersebut hanya bisa diraih dengan penempuhan jalan spiritual yang panjang lagi sepenuh hati.[]