“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah yang dengannya Kami teguhkan fu‘ad-mu…” (QS Huud [11]: 120)

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran (ibrah) bagi orang-orang yang mempunyai lubb (ulil albab)…” (QS Yusuf [12]: 111)

Kebanyakan manusia tak suka digurui. Tengoklah bagaimana buku psikologi populer hingga keagamaan memberikan petuah melalui kisah. Kisah membuat pembaca merasa tak digurui, memaknainya secara personal, dan mengambil pelajaran secara swalayan. Berbeda apabila yang disampaikan berupa petuah gamblang. Bukan kesadaran yang muncul, tetapi respons hawa nafsu. Hawa nafsu itu cenderung menyeru kepada diri sendiri, tertutup, tak mau dikritik, cinta disanjung, mudah tersinggung dan patah serta berbagai hasrat imaterial lainnya. Dalam hal ini, Al-Quran menegaskan bahwa kisah berfungsi untuk meneguhkan fu‘ad dan pemberi ibrah.

Ibrah dan Hikmah

Zamzam A.J.T. pernah menguraikan perbedaan ibrah dan hikmah. Secara bahasa, ibrah berasal dari abara yang artinya menyeberangkan atau menembus (seperti jarum). Sementara hikmah berasal dari hakama yang artinya (meng)hukum(i). Dikatakan bahwa kisah para nabi mempunyai ibrah, maksudnya, ada pelajaran tersembunyi yang harus diambil dengan cara “ditembus”. Sementara hikmah lebih merupakan hukum yang, bisa dikatakan, menunjukkan keberpolaan hukum. Menyerupai rotasi elektron mengelilingi proton dan netron yang berulang hingga pola rotasi planet mengitari matahari. Namun, baik ibrah maupun hikmah itu hanya bisa diperoleh oleh mereka yang mempunyai lubb atau ulil albab (QS Al-Baqarah [2]: 269.)

Apa itu lubb? Imam Tirmidzi menjelaskan bahwa qalb merupakan istilah yang mencakup shadr (dada), qalb, fu‘ad dan lubb. Seperti halnya istilah mata yang mencakup bagian putih, hitam, kornea dan penglihatan. Kemudian, lebih detail lagi, Zamzam menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan lubb itu bukanlah akal jasadiah manusia (otak dan fungsinya), tetapi akal nafs (jiwa, bukan hawa nafsu atau psikis, sebagaimana sering disalahpahami). Jasad manusia terbuat dari unsur bumi, sementara nafs dari nur ilahi. Keduanya memiliki keserupaan, dengan pengecualian bahwa, dalam berbagai hal, nafs lebih sempurna ketimbang jasad.

Yang merupakan diri manusia sejati adalah nafs, bukan jasad. Nafs sudah Allah ciptakan jauh sebelum jasad (QS Al-Insan [76]: 1 dan QS Al-A‘raf [7]: 172). Jasad merupakan “ciptaan baru” saat ruh, beserta nafs, akan ditiupkan ke mauthin rahim. Jasad adalah wahana (markab) untuk nafs di mauthin dunia ini. Ketika manusia mati, jasadnya tidak meneruskan perjalanan ke mauthin barzakh dan berbagai mauthin berikutnya seperti nafs. Pertemuan antara nafs dan jasad menghasilkan psikis (yang banyak ditelaah oleh para psikolog Barat, dan sering disalahpahami sebagai padanan nafs oleh para psikolog muslim). Psikis itu tak ubahnya pertemuan lautan (nafs) dengan pantai (jasad) yang menghasilkan bunyi deburan keras. Psikis memiliki sejarah pembentukannya melalui faktor keluarga, sosial dan budaya. Sementara nafs itu lebih azali ketimbang psikis, dan bukan bentukan.

Ketika terlahir ke mauthin dunia, manusia dianugerahi pendengaran, penglihatan dan fu‘ad (QS An-Nahl [16]: 78). Zamzam menjelaskan bahwa fu‘ad itu merupakan bentuk primitif dari lubb. Ketika jasad tumbuh membesar, fu‘ad membentuk pikiran (mind). Selain itu, psikis pun mulai terbentuk menjadi kepribadian. Psikis, secara sederhana, bisa disamakan dengan shadr (dada) dalam Al-Quran, namun konsep shadr dalam Islam lebih lengkap ketimbang konsepsi ala psikis Barat.

Di sisi jasad, manusia memiliki otak yang bisa menalar, berimajinasi, mengingat dan sebagainya. Otak bisa diasah melalui pendidikan. Sementara, di sisi nafs, manusia mempunyai lubb yang fungsinya melampaui otak karena mampu memahami perkara-perkara agama dan keilahian yang tak terpahami oleh nalar (salah satu fungsi otak). Namun, lubb tidak bisa diasah oleh pendidikan ala otak. Ia hanya bisa berfungsi melalui hakikat ubudiyyah dan ketakwaan. (QS Al-Baqarah [2]: 1, 2, 282)

Dengan demikian, ibrah dan hikmah kisah kenabian hanya bisa “ditembus” dan dihikmati oleh ulil albab. Namun, gelar ulil albab itu bukan dinisbatkan kepada mereka yang beruntung bisa mengenyam pendidikan (seberapa pun tingginya). Rasulullah Saw, meskipun buta huruf, adalah seorang ulil albab. Gelar ini lebih merupakan penisbatan kepada mereka yang dianugrahi ilmu karena ketakwaannya (QS Al-Ankabut [29]: 49).

Kisah Kenabian

Dalam Islam, kisah kenabian itu tersebar di Al-Quran dan hadis, namun berbentuk fragmen tak utuh. Oleh generasi berikutnya, berbagai fragmen itu berusaha dirangkai utuh menjadi kisah. Berbagai kisah kenabian tersebut sering tak disadari sebenarnya menampilkan ketidaklinieran dan keganjilan perbuatan para nabi. Namun, dibaliknya tersimpan ibrah dan hikmah yang kaya. Bahkan Ibn ’Arabi pun dianugrahi kitab Fushush Al-Hikam yang memaparkan berbagai hikmah kenabian tersebut.

Salah satu hikmah kenabian yang orisinil dan kokoh adalah seperti dipaparkan oleh Zamzam A.J.T. yang mengungkapkan bahwa kisah para nabi—dari Adam as hingga Rasulullah Muhammad saw—merepresentasikan perjalanan setiap nafs manusia dalam menuju Allah. Dimulai dari kejatuhan manusia ke dalam dosa (nabi Adam) hingga berhasil menemukan misi hidupnya dan beramal shalih dalam misi hidup tersebut (Rasulullah Saw). Berikut adalah penggambarannya secara singkat, melompat-lompat dan global (karena merincinya tidak dimungkinkan dalam tulisan ini):

Dalam kisah Adam as ada episode keterjatuhan dari surga ke dunia karena memakan buah khuldi. Inilah simbol awal lumpuhnya nafs manusia karena dosa yang diperbuatnya. Melewati beberapa nabi, kita beralih kepada Ibrahim as dengan babak tentang “tanah yang dijanjikan” dan pencarian Ibrahim akan tanah tersebut hingga meninggal. Tanah yang dijanjikan itu merupakan simbolisasi dari qalb. Dari Ibrahim kita kembali melompat ke Yusuf as. Perjalanan mencari “tanah yang dijanjikan” tersebut ternyata terbelokkan ke arah “Mesir” melalui kisah kehidupan Yusuf.

Dalam kisah Yusuf episode dia dibuang ke dalam sumur oleh kakak-kakaknya, dan episode dimasukkan ke penjara bawah tanah. Kisahnya tersebut menyoroti aspek “keterpenjaraan di bawah tanah” yang menyimbolkan kondisi nafs yang terpenjara di dalam jasad. Dari Yusuf, kita beralih ke Musa as. Ibn ‘Arabi memaparkan bahwa Mesir adalah simbol dari Madinatul Badan, atau bisa digambarkan juga sebagai “kehidupan dunia”. Di Mesir ini terjadi peristiwa perbudakan Bani Israil dan pembunuhan semua anak laki-laki oleh Fir‘aun dan keluarganya, dan membiarkan anak perempuan hidup. Itulah simbol terjadinya pembunuhan nafs dan membiarkan jasad hidup. Karena itu, datanglah Musa mengajak untuk hijrah kembali kepada pencarian “tanah yang dijanjikan”. Inilah fokus kisah Musa. “Yusuf” yang terpenjara di “bawah tanah” telah diangkat keluar, kemudian dibawa berhijrah dari keburukan kepada kebaikan. Inilah permulaan baru, karena nafs terbangkitkan dari keterpenjaraannya.

Dari Musa kita melompati dulu kisah Yusa as—yang meruntuhkan benteng Yerikho sebagai simbol hancurnya hijab qalb—langsung ke Dawud as. Seluruh hidup Dawud lebih banyak dihabiskan dengan berperang. Kisah hidup Dawud ini menyimbolkan tahap jihad akbar melawan hawa nafsu di “tanah yang dijanjikan” (qalb). Saat “Bani Israil” (yaitu, para salik) tiba di “tanah yang dijanjikan” (qalb), mereka mendapati di atasnya telah berdiri berbagai “kerajaan”—yang melambangkan berbagai hawa nafsu dalam qalb manusia. Di tahap ini, seorang salik harus melakukan jihad akbar untuk menaklukan berbagai “kerajaan hawa nafsu” yang sudah sekian lama bercokol di qalb-nya. Dari sini, kita beralih ke kisah hidup Sulaiman as.

Sulaiman adalah raja Bani Israil terbesar yang memerintah bukan hanya manusia, tetapi juga kalangan jin. Allah menganugerahinya kemampuan untuk berbicara dengan binatang. Hal yang paling penting dari aspek Sulaiman adalah saat membangun Baitullah untuk Bani Israil, sebuah bait di mana tidak ada yang disembah di dalamnya selain Allah. Begitu pula halnya dengan qalb manusia. Setelah jihad akbar, qalb pun berhasil dikuasai sepenuhnya, barulah di sini seorang salik bisa berkata “La ilaha ilallah”. Dari Sulaiman kita melompati dulu beberapa nabi dan langsung ke kisah Isa as.

Dalam Al-Quran, Isa seringkali didampingkan dengan penisbatan Rûh Al-Quds. Kisah Isa menjadi simbol bagi salik yang telah mencapai “Awal ad-din (agama) adalah mengenal Allah” yang sejalan dengan hadis: “Barangsiapa mengenal nafs-nya, maka sungguh dia akan mengenal Rabb-nya.” Gelarnya pun adalah syuhada, yaitu seseorang saksi Allah yang benar, serta terkait dengan peristiwa persaksian primordial (QS Al-A‘raf [7]: 172) dan hakikat syahadat. Dari sini, salik melangkah ke tahap tertinggi yang disimbolkan melalui kehidupan Rasulullah Muhammad saw sebagai representasi ke-shidiqin-an atau orang yang telah paripurna beramal dalam misi hidup yang Allah amanahkan unik pada tiap indivdu. QS Al-Hadid [57]: 19 menegaskan bahwa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya hanyalah Syuhada dan Shidiqin.

Kisah Pasca Kenabian

Setelah ditutupnya masa kenabian, bukan berarti tak ada lagi kisah yang memiliki ibrah dan hikmah. Salah satu tradisi kisah yang paling menonjol adalah dalam sastra suluk karya para sufi. Dalam sastra suluk, kisah disampaikan melalui berbagai bentuk, misalnya anekdot atau hagiografi Tadzkiratul Awliyya dan fabel Mantiqul Thayr karya Fariduddin ‘Attar, roman Layla Majnun karya Nizami, puisi Matsnawi dan prosa Fihi Ma Fihi karya Rumi, atau aforisme seperti Nahjul Balaghah, dan banyak lagi.

Inspirasi sastra suluk ini mengalir dari proses ma‘rifatun nafs-ma‘rifatullah. Inilah khazanah autentik seorang insan, dan berbeda dari pemikiran Barat yang meyakini manusia tidak memiliki cetak biru primordial dan sepenuhnya hasil bentukan (tanpa misi hidup ilahiah yang unik individual). Khazanah nafs ini mengalir dari berbagai perangkat pendukungnya, seperti qalb, lubb, nur ilmu (datang dari luar nafs), ilmu tasawwur (keluar dari dalam nafs), hasanah, hikmah, ibrah, dan terutama ruh. Khazanah ini merepresentasikan pengetahuan batiniah ‘arifin yang unik satu sama lain.

Terkait sastra suluk, kisah yang disampaikannya tidak dibungkus dengan bahasa yang rumit. Penggunaan alegori, metafora, simbol, tamsil dan hal sejenisnya sangat mendominasi sastra suluk. Namun, siapa pun bisa menikmati dan menafsirkan sesuai pengetahuannya. Akan tetapi, memang ada beberapa rahasia ilahiah yang berpotensi dipahami secara kontroversial, karena belum mengerti, sehingga dikodekan sedemikian rupa dan diperuntukkan bagi yang mencari dan memahami. Namun, dalam sastra suluk jelas terlihat bahwa kedalaman tak selalu identik dengan kerumitan bahasa.

Belakangan ini ramai muncul fenomena sastra Islami yang fenomenal dan laris manis, namun mendapat banyak kritikan karena kualitas sastrawinya rendah. Dalam tulisan ini, istilah sastra Islami digantikan dengan istilah sastra profetik yang dicetuskan oleh Kuntowijoyo. Sastra profetik bukanlah sastra yang lahir dari proses mistis suluk. Sastra profetik lebih merupakan pengejawantahan keimanan melalui upaya sastrawi untuk melihat dan memaknai kehidupan lebih daripada yang sekadar bisa dilogikakan atau dirasionalkan. Dengan demikian, sastra profetik merepresentasikan watak umum umat muslim yang enggan menjadi rasionalis dan sekuler ala Barat. Keberagamaan bukan semata penalaran rasional, tapi juga pengimanan segala hal yang tak ternalar. Dalam proses kreatifnya, sastra profetik tidak lahir dari proses mistis suluk, tetapi dari khazanah jasadiah. Fakultas utamanya adalah otak dan shadr (katakanlah, psikis) yang menghasilkan imajinasi, fantasi, logika bercerita, serta pengimanan dan penghayatan.

Karenanya, wajar apabila salah satu permasalahan dalam sastra profetik adalah kedangkalan berkisah. Di tingkatan psikis, manusia memang menyerupai tanah liat yang mudah dibentuk. Misalnya, budaya massa dan tontonan klise lagi dangkal (ala sinetron) tanpa disadari bisa meresap dalam ketaksadaran, merembes dalam proses kreasi. Namun, melalui latihan, perluasan wawasan, terbuka terhadap berbagai jenis bacaan, perenungan panjang, dan berbagai hal lainnya, maka kedalaman tersebut bisa diasah.

Memang, adalah bermanfaat untuk berbicara menggunakan ungkapan yang bisa dimengerti khalayak banyak. Namun, bukan berarti harus mengikuti selera dan mimpi khas budaya massa (QS Al-An‘am [6]: 116). Maka, wajar pula apabila muncul kritik terhadap kisah dalam sebuah sastra profetik terkenal yang menampilkan tokoh yang keterlaluan beruntungnya dalam hidup dan pernikahan, begitu pandai dan sempurna, diobsesikan sekian perempuan yang cantik, serta berbagai ketidakrealistisan kisah realis tersebut. Kritik bukanlah representasi sikap anti, dan seharusnya bisa diterima secara lapang dada. Namun, entah kenapa masyarakat Islam kini memiliki tradisi anti kritik—terutama otokritik. Mereka begitu defensif ketika berbagai karya sastra profetik tersebut dikritik dari segenap penjuru. Amatlah disayangkan apabila yang berkembang di umat muslim adalah sikap menyeru pada diri sendiri, tertutup, tidak mau dikritik, cinta disanjung, mudah patah dan lain sebagainya.

Mendukung berkembangnya tradisi literasi adalah satu hal. Namun, mengkritik isi sebuah karya sastra adalah hal lain, dan itu bukan berarti anti kemajuan literasi. Karenanya, bukanlah sebuah sikap permusuhan apabila di sebuah blog tertulis kritik terhadap sastra profetik terkenal tersebut: “Ada yang positif muncul dari dalam diri saya seselesainya membaca: saya semakin rindu kesejatian, dengan makna dan perenungan; dan saya semakin tak suka saja dengan kepalsuan dan atribut tempelan.”[]