Seorang ibu terbaring lemah di kasurnya dalam keadaan cukup parah. Kondisi itu bermula dari tekadnya untuk tidak menjamah makanan dan minuman hingga ajal, karena anak lelaki kesayangannya telah mengambil keputusan yang tidak direstuinya, yaitu, pindah agama. Ketika ibu itu sekarat, para sanak keluarga membawa anak lelakinya untuk melihat terakhir kali keadaan sang ibu dengan harapan hatinya akan tersentuh. Ketika anak lelaki tersebut melihat ibunya, didekatkanlah wajahnya ke wajah sang ibu seraya berkata: “Demi Allah, ketahuilah wahai ibunda, seandainya ibunda mempunyai seratus nyawa, lalu ia keluar satu per satu, tidaklah ananda akan meninggalkan Ad-Diin ini walau ditebus dengan apa pun juga. Maka terserahlah kepada ibunda, apakah ibunda mau makan atau tidak.” Begitulah ujian yang dihadapi Sa‘ad bin Abi Waqqash ketika memilih mengikuti jalan Rasulullah Muhammad Saw. Peristiwa ini diabadikan Al-Quran dengan turunnya ayat berikut:

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kamu kembali, maka kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS Luqman [31]: 15)

Ratusan tahun sebelum itu, tersebutlah kisah agung yang diabadikan Al-Quran, yaitu, kisah kesabaran nabi Ayyub dalam menghadapi ujian yang ditimpakan kepadanya. Pada mulanya beliau adalah seorang yang kaya raya, hidup bahagia bersama istri dan anak-anaknya. Biar pun seperti itu, beliau tetaplah seorang yang berserah diri dan senantiasa mengabdi kepada Rabb-nya. Melihat itu, Iblis merasa panas dan berkata kepada Allah Ta‘ala bahwa “Ayyub berbakti kepada-Mu karena hartanya banyak, anak-anaknya sehat dan lucu-lucu. Kebunnya luas dan subur, istananya megah. Biri-biri serta dombanya berkembang biak terus. Dia menyembah-Mu karena takut jatuh melarat.” Maka Allah Ta‘ala mengizinkan Iblis “menumpang” dalam ujian yang Allah Ta‘ala timpakan kepada nabi Ayyub.1 Dihancurkanlah seluruh kebun dan binatang ternak milik nabi Ayyub. Setelah itu, Iblis pun datang kepada nabi Ayyub dengan berwujud seorang tua dan berkata “Tuhan yang engkau sembah saban hari ternyata tidak bisa menolongmu sama sekali. Aku kasihan kepadamu. Carilah tuhan lain yang bisa menolongmu.” Namun nabi Ayyub tetaplah seorang yang hanya mengabdi dan senantiasa berserah kepada Rabbnya.

Kembali Iblis marah dan berkata kepada Allah Ta‘ala, “Ayyub masih tetap taat kepada-Mu karena dia masih punya anak-anak. Aku akan membinasakan seluruh anak Ayyub. Barulah nanti Kau tahu bahwa iman Ayyub tidak seberapa kuatnya.” Maka dihancurkanlah istana nabi Ayyub, dan anak-anaknya pun meninggal semuanya. Iblis pun datang kembali dengan wujud seorang tua dan berkata kepada beliau as, “Begitukah balasan Tuhan atas ketaatan dan Ibadahmu yang khusyuk? Tak ada hentinya engkau memuji-muji keagungan-Nya, tapi apa yang kau dapat? Bencana dan bala!” Namun nabi Ayyub menjawab dengan mantap, “Dia yang memberi, dan Dia pulalah yang mengambil. Dia menghidupkan, dan Dia juga yang mematikan.”

Iblis pun kembali marah dan berkata kepada Allah Ta‘ala, “Ayyub masih taat kepada-Mu karena dia masih sehat. Ayyub masih bisa bekerja dan masih bisa punya anak. Kalau dia sakit payah, lenyap tenaga dan kesehatannya, pasti dia akan berpaling dari-Mu.” Maka sekujur tubuh nabi Ayyub pun dijangkiti penyakit yang mengeluarkan bau busuk. Tak ada tabib yang mampu mengobatinya, dan telah banyak harta yang tersisa habis untuk biaya pengobatan, kemudian istri-istri beliau pun minta cerai kecuali Rahmah. Namun, nabi Ayyub tetaplah seorang yang berserah diri dan kuat dalam menghadapi ujian tersebut didampingi oleh istrinya yang setia, Rahmah. Nabi Ayyub pun kemudian dijauhi oleh masyarakat, dan bahkan tiga orang sahabatnya malah menyuruh beliau untuk segera bertaubat kepada Allah Ta‘ala, karena mereka menyangka bahwa semua musibah yang menimpa nabi Ayyub adalah azab dari Allah Ta‘ala karena dosa-dosa beliau. Puncaknya mereka berdua pun diusir oleh masyarakat yang takut tertular dengan penyakitnya, dan tinggallah mereka berdua di tepi hutan.

Untuk kehidupan sehari-hari Rahmah menjual sisa-sisa barang yang ada hingga habis semuanya. Kemudian Rahmah pun mencari pekerjaan, dan diterima di sebuah pabrik roti. Namun ketika diketahui bahwa dia adalah istri nabi Ayyub, maka dia pun dipecat. Kemudian Rahmah pun menjual rambutnya yang panjang dan ikal untuk sekadar membeli roti. Di tengah jalan dia bertemu seorang tabib yang menghampirinya seraya berkata, “Hai, Rahmah, engkau istri Ayyub bukan? Suamimu akan bisa sembuh jika dia minum sebotol arak. Bawalah ini, berikan kepadanya.” Rahmah pun tertipu oleh ucapan itu, dan dengan gembira dia pun pulang menemui nabi Ayyub seraya berkata, “Kakanda, saya tadi bertemu dengan tabib. Dia memberikan obat agar Kakanda cepat sembuh.” Nabi Ayyub bertanya, “Obat apa itu?” “Arak,” jawab Rahmah. “Neraka!” teriak nabi Ayyub. “Apakah kau akan seret aku ke neraka? Keluar kau, pergi! Apabila badanku sudah sehat nanti, akan kucambuk kau seratus kali.”

Demikianlah, hingga akhirnya Allah Ta‘ala berkenan menyembuhkan nabi Ayyub dengan air yang terpancar dari bekas hentakan kakinya ke bumi. Beliau pun sembuh kembali dan Allah melipatgandakan apa-apa yang pernah diperolehnya, dan kemudian beliau pun menepati janjinya untuk menghukum Rahmah, namun dengan menggunakan seratus batang lidi yang dipukulkan sekaligus.

Demikianlah, dua kisah di atas dapat memberikan ilustrasi bahwa siapa pun yang berikrar untuk berjalan kembali menuju Tuhannya (taubat), kemudian berjalan, maka wajiblah baginya ujian. Namun, apakah sebenarnya hakikat dari sebuah ujian? Dalam kehidupan sehari-hari, umumnya manusia telah biasa membedakan antara nikmat (dalam pengertian awam biasanya adalah segala sesuatu yang menyenangkannya, bisa jadi berupa syahwat atau hawa nafsu) dan azab yang kemudian dipilah-pilahnya berdasarkan fenomena dan suasana hati dalam menerima kejadian tersebut. Namun, sekali lagi, apakah hakikat ujian?

Musibah

Pengimanan terhadap Al-Quran berarti pengimanan yang didasarkan pada hadirnya cahaya iman yang memancar dalam qalb. Melalui cahaya iman itu pulalah Allah Ta‘ala memberi petunjuk kepada hamba-hamba-Nya. Konsekuensi dari beriman kepada Al-Quran adalah menjadikan Al-Quran sebagai pedoman dalam mengarungi hidup dan kehidupan, baik suka mau pun duka.

Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah,niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada qalbnya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (At-Taghabun [64]: 11)

Dalam ayat diatas tercantum bahwa musibah dan (cahaya) iman disandingkan satu sama lain yang menandakan adanya hubungan di antara keduanya. Bahwasanya kehadiran musibah pada diri seseorang adalah atas izin-Nya, namun hadirnya musibah bukanlah pertanda bahwa Dia Ta‘ala kejam. Justru karena Dia Ta‘ala itu Ar-Rahman dan Ar-Rahim.

Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali ‘Imran [3]: 191)

Kehadiran musibah, pada hakikatnya, sangat bermanfaat bagi manusia walau seringkali dirasa pahit. Musibah, dalam hal ini, merupakan wahana untuk menguji ketaatan insan kepada Rabbnya. Banyak sekali dikisahkan bagaimana para shalihin, syuhada, shidiqin dan para nabi apabila menerima musibah selalu berdoa: “Berilah aku yang terbaik menurut-Mu dan berilah aku kekuatan untuk menerima ketetapan-Mu.” Golongan tersebut tidak mau melarikan diri dari apa-apa yang menimpa mereka. Bahwasanya banyak hal menimpa manusia, bisa berupa azab mau pun ujian. Pada kenyatannya, manusia seringkali kesulitan untuk membedakan kedua hal tersebut. Ini sebenarnya sangat bergantung pada kehidupan pribadi dari setiap individu, yaitu, apakah ia selalu berbuat maksiat atau selalu taat, ataukah kadang-kadang melakukan kebaikan dan kadang-kadang melakukan kesalahan. Namun, susahnya lagi, hal ini seringkali tersangkut dengan subjektivitas penilaian diri yang sukar divalidasi. Misalnya, umum diketahui bahwa orang yang tenang dalam menghadapi musibah hanyalah mereka yang memiliki qalb sakinnah. Namun, hal ini pun sangat sulit untuk dibedakan secara lahiriah, terutama pada orang yang acuh tak acuh terhadap apa pun permasalahannya hari ini.

Secara umum musibah dapat dibagi menjadi dua kategori besar. Untuk mereka yang selalu membangkang terhadap kehendak-Nya, maka musibah merupakan azab yang harus segera di-istighfar-i dan ditaubati. Sedang untuk mereka yang selalu taat pada kehendak-Nya dapat berupa:

1. Peringatan. Ini merupakan sesuatu yang harus disyukuri. Contoh musibah sebagai peringatan dapat dilihat pada kisah hidup para nabi (sebagai suri tauladan bagi manusia untuk merenungi segenap kehidupannya). Misalnya, nabi Musa yang membunuh seorang Mesir secara tidak sengaja, sehingga membuat beliau terusir dari Mesir dan kehilangan peluang untuk menjadi Pangeran Mesir. Namun, justru musibah itulah yang membuat beliau bisa bertemu dengan nabi Syu‘aib yang mendidiknya hingga, akhirnya, bisa menemukan kembali misi hidup sejati Musa sebagai nabi (Kalimullah). Atau nabi Yusuf yang dibuang ke dalam sumur oleh kakak-kakaknya, kemudian ditemukan oleh penjual budak yang membawanya ke Mesir dan dijual kepada suaminya Zulaykha. Sejak itu, beliau terus menerus ditimpa musibah demi musibah yang kesemuanya malah menggiring beliau ke arah misi hidupnya sendiri, yaitu, menjadi nabi sekaligus wazir di Mesir.

2. Pensucian diri. Dalam perjalanannya untuk ma‘rifat, menemukan dan menjalankan misi hidupnya, seorang pencari akan senantiasa berbuat kesalahan dan dosa. Sebenarnya adalah mudah bagi Allah Ta‘ala untuk mengampuni seseorang dan seketika itu juga mengubahnya menjadi syuhada. Akan tetapi, ada begitu banyak hal yang terlalu berharga untuk manusia lewatkan. Itu merupakan proses pembelajaran dari kesalahan dan dosa-dosanya sendiri. Sebagaimana pernah disabdakan oleh Rasulullah Muhammad Saw bahwa tanda Allah Ta‘ala mengampuni dosa adalah ketika dosa tersebut, di kemudian hari, menjadi pengetahuan bagi yang melakukannya. Itulah khazanah yang sangat berharga untuk membangun karakter keberserahdirian yang mantap serta hikmah yang begitu berharga di dalamnya. Tanpa pernah melakukan dosa, manusia tidak akan pernah mengetahui mana yang Dia Ta‘ala ridhai dan mana yang Dia Ta‘ala murkai.

“Jikalau kamu tidak berbuat dosa, niscaya aku takut atas kamu apa yang lebih jahat daripada dosa.” Lalu ditanyakan: “Apakah itu yang lebih jahat?” Nabi Saw menjawab: “Ujub.” (Al-Hadis)

Musibah, bagaimana pun, pada hakikatnya selalu positif, karena musibah berfungsi untuk mengingatkan dan mengembalikan kebergantungan seseorang kepada Allah Ta ala. Salah satu bentuk musibah adalah dhara’a (bencana) yang merupakan hukuman. Dalam mensikapi dhara’a, ada sikap yang sangat berbeda antara orang-orang yang memiliki cahaya iman dengan yang tidak.

Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya niscaya dia akan berkata:”Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga, kecuali orang-orang yang sabar dan mengerjakan amal-amal shalih; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar. (QS. Hud [11]: 10-11)

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS.At-Taubah [9]: 51

3. Ujian. Ini merupakan sesuatu yang harus diterima dengan kesabaran. Bahkan hanya dengan mengaku beriman (walau cahaya iman belum lagi masuk ke dalam qalbnya), Allah Ta‘ala akan menguji pengakuan tersebut, karena iman adalah milik-Nya semata. Iman adalah cahaya yang dia ‘pinjamkan’ ke dalam qalb hamba-hamba yang Dia Ta‘ala kehendaki. Apalagi terhadap golongan mu‘min, dan, terlebih lagi, terhadap golongan al-mu‘min. Setiap salik (yaitu, orang yang berjalan di atas maqamat dan ahwal) akan dibersihkan oleh Allah Ta‘ala dari apa-apa yang haram di dirinya, agar yang bersangkutan bersih ketika menghadap Allah Ta‘ala nantinya. Mu‘min, terlebih lagi al-mu‘min, tidak pernah kering dari ujian demi ujian, karena hal itu merupakan ‘pakaian’-nya. Apabila dia lulus dari ujian tersebut, berarti keimanannya telah teruji dan akan bergerak naik hingga tingkatan maksimal yang telah Allah Ta‘ala kadarkan baginya. Hanya mereka yang memiliki cahaya iman inilah yang berhak mengklaim musibah sebagai ujian, atau sebagai sarana untuk meningkatkan imannya.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut [29]: 1-2)

Lebih Jauh Mengenai Ujian

Seseorang yang sedang berjalan kembali menuju Tuhannya, harus senantiasa berhati-hati dalam mengatakan salah terhadap suatu permasalahan atau musibah, karena sangat mungkin bahwa penilaiannya tersebut tidak sama dengan penilaian Allah Ta‘ala. Memang, pada kenyataannya, seringkali manusia itu mempertanyakan suatu permasalahan atau musibah yang menimpa dirinya. Misalnya, apakah hal itu merupakan azab atau ujian bagi dirinya. Namun, apabila melihat ke dasar permasalahannya, maka hal tersebut tidak perlu diterka-terka lagi, karena seorang salik cukup tetap senantiasa mengabdi pada-Nya, dan dalam perjalanan waktu, jawabannya pun akan ditemukan. Secara prinsip, seorang hamba akan senantiasa menerima semua yang datang kepadanya dengan ucapan ‘Alhamdullillah’. Apabila ucapan tersebut diterima oleh Allah Ta‘ala, maka hal tersebut merupakan salah satu kunci baginya untuk bisa mencapai tingkatan ma’rifat. Dalam menghadapi masalah atau musibah, seorang hamba harus meningkatkan ketaqwaannya, meningkatkan kualitas shalat dan berdoa agar dikuatkan oleh Allah Ta‘ala. Dalam Sastra Jendra, banyak dikemukakan perkara yang berkenaan dengan ujian, di antaranya adalah sebagai berikut

Merujuk kepada Al-Quran, dunia ini memang merupakan ajang ujian dan ini merupakan sesuatu yang harus ditanamkan dalam qalb setiap insan yang berniat untuk berjalan kembali kepada Rabbnya. Ujian akan senantiasa mengiringi seorang salik selama hayat dikandung badan, dan selama dirinya menyatakan beriman. Semakin tinggi tingkatan imannya, maka akan semakin tinggi pula ujiannya. Ujian biasanya selalu menghantam sisi terlemah manusia, hingga lama kelamaan sisi lemah tersebut pun menjadi kuat. Sebab, untuk menjalankan amanah Allah Ta‘ala manusia harus menjadi kuat dan tangguh. Karena itu pula, dengan sendirinya ujian pun merupakan Rahman dan Rahim Allah Ta‘ala kepada manusia dengan menunjukkan sisi lemah sang hamba yang perlu diperkuat dan diperteguh.

Ujian juga bertujuan untuk memasukkan seorang manusia ke dalam golongan Hizbullah. Manusia dikatakan satu golongan apabila mereka memiliki karakter yang sama. Demikian pula halnya untuk menjadi Hizbullah, manusia tersebut harus mempunyai karakter yang “sama dengan” karakter Allah Ta‘ala. Walaupun masih buram, minimal merupakan “bayangan” karakter Allah Ta‘ala. Untuk bisa mengetahui hal ini, manusia harus melalui ujian demi ujian, sehingga dapat diketahui sejauh mana pengabdiannya kepada Allah Ta‘ala. Jalan yang paling cepat bagi seorang manusia untuk bisa menjadi “bayangan” karaktrer Allah Ta‘ala adalah sifat Rahmaniyyah.

Sifat pemurah itu sepohon kayu dari kayu surga. Dahan-dahannya terkulai ke bumi. Maka siapa yang mengambil sedahan daripadanya niscaya dahan itu membawanya ke surga. (Al-Hadis)

Allah tidak membuat karakter wali-Nya selain di atas karakter baik akhlak dan pemurah. (Al-Hadis)

Sesungguhnya orang-orang mulia dari umatku tidak akan masuk surga dengan shalat dan puasa. Tetapi mereka masuk surga, dengan nafs yang pemurah, dada yang sejahtera dan karena nasehat kepada orang-orang muslim. (Al-Hadis)

Pemurah itu sepohon kayu dalam surga. Maka siapa yang pemurah niscaya ia akan mengambil sedahan dari pohon itu. Maka dahan tersebut tidak akan meninggalkannya sehingga dimasukannya ke surga. Dan kikir itu sepohon kayu dalam neraka. Maka siapa yang kikir, niscaya ia mengambil sedahan dari dahan-dahannya. Maka dahan tersebut tidak akan meninggalkannya sehingga dimasukannya ke neraka. (Al-Hadis)

Dua perangai yang disukai oleh Allah SWT dan dua perangai yang dimarahi oleh Allah SWT. Adapun dua perangai yang disukai oleh Allah SWT ialah bagus akhlak dan pemurah. Adapun dua perangai yang dimarahi oleh Allah SWT ialah jahat akhlak dan kikir. Apabila Allah menghendaki kebajikan pada seorang hamba niscaya dipakai-Nya hamba itu pada menunaikan hajat manusia. (Al-Hadis)

Bahwa ini adalah Ad-Din yang Aku ridha bagi Nafs-Ku sendiri. Dan tiada akan diperbaiki Ad-Din ini selain oleh sifat pemurah dan bagus akhlak. Maka muliakanlah Ad-Din ini dengan dua sifat tersebut, menurut kesanggupanmu! (Al-Hadis)

Ujian juga merupakan salah satu pupuk yang dibutuhkan untuk menumbuhsuburkan pohon taqwa. Karena itu, dengan menghindari “hidangan ujian” berarti manusia itu sedang “membonsai” pohon taqwanya. Rasulullah Saw pernah bersabda bahwa sebagaimana seorang ayah merawat anaknya, Allah memelihara hamba-hamba-Nya dengan berbagai ujian. Mengenai hal ini, lebih jauh Rumi mengatakan:

Lihatlah buncis dalam periuk, betapa ia meloncat-loncat selama menjadi sasaran api.
Ketika direbus, ia selalu timbul ke permukaan, merintih terus menerus tiada henti,
“Mengapa engkau letakkan api di bawahku? Engkau membeliku: Mengapa kini kausiksa aku seperti ini?
Sang istri memukulnya dengan penyendok, “Sekarang,” katanya, “jadi benar-benar matanglah kau dan jangan meloncat lari dari yang menyalakan api.
Aku merebusmu, namun bukan karena kau membangkitkan kebencianku; sebaliknya inilah yang membuatmu menjadi lebih lezat.
Dan menjadi gizi serta bercampur dengan jiwa yang hidup; kesengsaraan bukanlah penghinaan.
Ketika engkau masih hijau dan segar, engkau minum air di dalam kebun: air minum itu demi api ini.
Kasih Tuhan itu lebih dahulu daripada murka-Nya, tujuannya bahwa dengan dengan kasih-Nya engkau dapat menderita kesengsaraan.
Kasih-Nya yang mendahului murka-Nya itu supaya sumber penghidupan, yang ada, dapat dihasilkan;
Bahkan kemudian Tuhan Yang Maha Agung membenarkannya, berfirman, ‘Sekarang engkau telah tercuci bersih dan keluarlah dari sungai.’
Teruslah, wahai buncis, terebus dalam kesengsaraan sampai wujud ataupun diri tak tersisa padamu lagi.
Jika engkau telah terputus dari taman bumi, engkau akan menjadi makanan dalam mulut dan masuk ke kehidupan.
Jadilah gizi, energi, dan pikiran! Engkau menjadi air bersusu: Kini jadilah singa hutan!
Awalnya engkau tumbuh dari Sifat-Sifat Tuhan: kembalilah kepada Sifat-Sifat-Nya!
Engkau mejadi bagian dari awan, matahari, dan bintang-bintang: Engkau ‘kan menjadi jiwa, perbuatan, perkataan, dan pikiran.
Kehidupan binatang muncul dari kematian tetumbuhan: maka perintah, ‘bunuhlah aku, wahai para teman setia,’ adalah benar.
Lantaran kemenangan menanti setelah mati, kata-kata, ‘Lihatlah, karena dibunuh aku hidup,’ adalah benar

.

Sebelum seorang manusia berhasil mencapai tingkatan ma’rifat, imannya akan sering naik turun, karena qalb-nya masih dipenuhi oleh penyakit, yaitu, syahwat dan hawa nafsu. Karena penyakit qalb inilah, maka Allah Ta‘ala mengobatinya dengan teguran atau tamparan berupa ujian. Kesemuanya ini, pada hakikatnya, merupakan pemberian Allah Ta‘ala sebagai tanda kasih sayang-Nya (Rahman dan Rahim-Nya) kepada hamba-hamba yang Dia Ta‘ala sukai. Terlebih lagi kepada hamba-hamba yang Dia Ta‘ala cintai. Oleh karena itu, seorang salik harus senantiasa bisa melihat bahwa segala sesuatu itu al-haqq dari Rabbnya. Melihat bahwasanya ujian itu merupakan tanda bahwa Dia Ta‘ala masih ingat kepadanya, dan tidak membiarkannya dalam ketenangan semu. Bahwa Dia Ta‘ala melakukan itu semua untuk mensucikan dan membentuk si salik, sebagaimana besi harus dibakar api agar bisa dibentuk menjadi sesuatu (Al-Hadid), atau seperti karpet yang dijemur di bawah terik matahari dan kemudian dipukuli untuk menghilangkan debu dan kotorannya. Dengan begitu, sang insan bisa mendapatkan cahaya iman.

Gambar di atas merepresentasikan proses taubat yang harus dilalui oleh manusia agar bisa mendapatkan cahaya iman. Fase I, adalah state ketika qalb manusia masih dipenuhi oleh kotoran. Pada fase ini mulai dilakukan proses taubat, hingga si salik diberi modal awal cahaya iman oleh Sang Pemilik Iman sebagai tahap pembersihan. Tak ada manusia yang bisa memiliki cahaya iman kecuali Dia Ta’ala kehendaki. Pada fase II, setelah berjalan beberapa waktu, dan si salik pun telah melaksanakan semua petunjuk, mulai mencoba beramal shalih, maka, perlahan-lahan qalbnya pun mulai bersih. Pada fase ini terjadilah “gempuran-gempuran” dalam kehidupan si salik berupa ujian-ujian. Pada hakikatnya itu adalah “gempuran” terhadap qalb untuk mengusir ‘musuh-musuh’ (syahwat dan hawa nafsu) yang bersemayam didalamnya.

Pada fase III, setelah sekian tahun lamanya salik tersebut berjalan, sampailah ia di akhir tahap awal perjalanannya, yaitu, meraih qalb yang suci (al-muthaharun). Setelah qalb itu bersih, mulailah “tanah yang dijanjikan” tersebut ditebari dengan benih-benih cahaya, disinari dengan cahaya iman hingga tampak seperti bulan purnama, dan mulai terjalin hubungan yang dekat antara hamba dengan Allah Ta‘ala yang senantiasa mengalirkan petunjuk-Nya ke dalam qalb sang hamba.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga penuh kenikmatan. (QS Yunus [10]: 9)

Macam-macam Ujian dalam Al-Quran

Ujian yang akan dihadapi oleh salik dalam menggelindingkan roda kehidupannya itu bermacam-macam. Di antaranya Al-Quran mengemukakan sebagai berikut:

Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, anfus, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang sabar. (QS.Al-Baqarah [2]: 155).

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan nafsmu. Dan kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (QS.Ali-Imran [3]: 186)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara pasangan-pasanganmu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah ujian (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. At-Taghabun[64]:14-15)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. Al-Munafiqun [63]: 9)

Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.” Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.” (QS. Az-Zumar [39]: 49)

Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” (QS. Huud [11]: 7)

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa-apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya. (QS.Al-Kahfi [18]: 7)

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS Al-Mulk [67]: 2)

Di samping itu, ada juga ujian lain yang sifatnya khusus bagi mereka yang sedang bersuluk, yaitu, ujian maqamat yang bentuknya antara lain adalah:

a. Mengukuhkan suatu “amal” sebagai sesuatu yang haqq. Misalnya, seorang salik melakukan sesuatu yang bisa jadi kurang sesuai dengan syar’i, namun ternyata maqamnya malah naik, dan bukannya turun sebagaimana dugaannya. Maka dia pun menyimpulkan bahwa perbuatan tersebut disukai oleh Allah Ta‘ala dan dijadikan sebagai landasan dalam beramal selanjutnya. Bagaimana pun, seorang salik harus senantiasa berhati-hati, karena bisa jadi, pada saat itu, perbuatan tersebut memang sesuai dengan Kehendak-Nya, namun tidak untuk waktu-waktu berikutnya. Hal ini dapat dilihat contohnya pada peristiwa nabi Khaidir yang membunuh seorang anak kecil. Perbuatan tersebut dilakukan pada saat yang memang sesuai dengan Kehendak Allah Ta‘ala, tapi, bukan berarti pada waktu-waktu berikutnya, setiap kali bertemu anak kecil maka nabi Khidir harus membunuhnya.

b. Kejar mengejar maqam. Pada mulanya ada semacam rasa iri dalam diri seorang salik kepada sahabat yang maqamnya terus menanjak, sedangkan aktivitasnya “biasa-biasa” saja. Maka dia pun mencontoh apa-apa yang dilakukan sahabatnya tersebut. Padahal, ada satu hal yang paling mendasar dalam masalah bersuluk, yaitu, bahwasanya setiap manusia itu diturunkan ke muka bumi ini dengan membawa misi hidupnya masing-masing. Jadi dalam beramalnya pun tidak bisa disamakan.

c. Salik yang maqam-nya tinggi merasa lebih daripada salik yang maqam-nya lebih rendah (dan juga sebaliknya). Agar seorang salik dapat memahami dan mengerti tentang rahasia dibalik itu semua, dia harus belajar, membaca, berdiskusi dan terutama berjamaah (sebagai salah satu cara untuk belajar berserah diri kepada-Nya). Salik yang kurang pemahamannya dan tertutup, biasanya selalu menyendiri, sehingga bila datang masalah atau ujian dia mengatasinya dengan membatin seorang diri, ketakutan, serta diselesaikan secara lokal dan parsial, sambil mengharapkan ada yang dapat memahaminya. Mengenai hal ini Rumi mengatakan:

Dalam agama kita bepergian diakui sebagai peperangan dan bahaya; dalam agama Yesus ia berarti mengasingkan diri ke gua dan pegunungan.
Sunnah adalah jalan paling aman, dan masyarakat yang beriman adalah sebaik-baik teman seperjalanan.
Jalan menuju Tuhan itu penuh rintangan dan kepedihan; bukan jalan bagi orang yang seperti perempuan.
Di atas jalan ini jiwa manusia di uji dengan ketakutan, sebab sebuah ayakan dipergunakan untuk menyaring sekam padi.
Jika engkau bepergian seorang diri, kuakui bahwa engkau mungkin dapat menghindari serigala; akan tetapi engkau tidak akan merasakan kecergasan ruhani.
Orang bodoh, meskipun tidak sopan, dianjurkan dan diperkuat, O darwis, oleh teman-teman seperjuangan.
Alangkah banyak tongkat dan gada yang akan menimpa ketika ia melintasi gurun pasir tanpa teman!
Ini berkata kepadamu dengan mutlak, “Perhatikanlah baik-baik! Jangan bepergian seorang diri kecuali kalau engkau seorang yang bodoh!”

Dalam kesempatan lainnya, Rumi pun menegaskan kembali:

Ia yang dengan riang gembira berkelana sendirian—jika ia berjalan bersama rekan-rekan, kemajuannya meningkat seratus kali lipat.
Sungguhpun seekor keledai itu dungu, ketahuilah para pejalan: bahkan ia pun gembira dengan kehadiran sesama rekannya, sehingga jadi mampu mengeluarkan ketangguhannya.
Bagai seekor keledai yang berjalan sendirian dan terpisah dari rombingan, jauh terasa lebih panjang seratus kali lipat oleh kelemahannya.
Harus berapa banyak lagi pukulan dan cambukan yang harus kuderita: karena kulintasi gurun ini sendirian.
Secara tersembunyi binatang ini mengajarimu: “Perhatikan! Janganlah berjalan seorang diri seperti ini, kecuali jika engkau seekor keledai!”
Tidak diragukan lagi, seseorang yang dengan riang gembira berkelana sendirian menuju rumah kemerdekaan maju dengan lebih gembira lagi di tengah-tengah rekan-rekannya.
Setiap Nabi di jalan yang lurus ini memperlihatkan bukti keajaiban-keajaiban dan mencari rekan-rekan pejalan.
Syaithan menjanjikan kamu dengan kemisikinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan; sedangkan Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui. (QS.Al-Baqarah [2]: 268)

Manusia dalam Menghadapi Ujian

Apabila keadaan nafs seorang salik seperti yang disinyalir dalam pupuh Sastra Jendra di atas, maka seharusnya dia melatih nafs-nya menjadi dewasa dan kuat, karena hanya nafs yang kuat sajalah yang sanggup menerima ujian dari-Nya. Suka atau tidak, ujian tersebut akan datang menghampiri manusia, dan dia harus menerimanya, karena ujian itu merupakan obat, sebagaimana tertera dalam Sastra Jendra

Dalam pupuh lainnya pun disebutkan

Ujian merupakan sarana bagi manusia untuk menemukan hakikat hidup. Oleh karena itu, melihat peran ujian yang demikian besar, diperlukan suatu sikap yang tepat dalam menghadapinya, yang antara lain adalah

a. Ijab Kabul. Semua masalah, musibah mau pun ujian, pada hakikatnya datang dari sisi Allah Ta‘ala. Karena itu, semuanya harus diterima dengan ikhlas. Ini tak ubahnya suatu pernikahan, yang pertama-tama harus bertanya terlebih dahulu kepada walinya, untuk kemudian melamar dan melakukan ijab kabul, sehingga sah menjadi haknya. Selain itu, si salik harus membuat skala prioritas dari masalah dan memecahkan seluruh masalah dengan komposisi sesuai skala prioritas tersebut.

b. Segera menghubungkannya dengan Allah Ta‘ala. Ujian merupakan sarana untuk salik menghadirkan Allah Ta‘ala, maka ia pun harus memilih perkara yang terbaik menurut-Nya dan menyelesaikannya dengan cara yang membuat Dia Ta‘ala tersenyum. Menghubungkan kehadiran Dia Ta‘ala dengan dunia yang diarunginya memanglah berat, tapi itu semua sangat bergantung pada apa yang dicarinya di muka bumi ini. Manusia tidak akan pernah kehilangan Allah Ta‘ala pada zaman apa pun. Namun, itu bergantung pada qalb-nya: apakah memang membutuhkan Allah Ta‘ala. Rumi pun pernah mengemukakan hal ini lebih jauh

Pernahkah kau dengar nama segala sesuatu dari Yang Maha Mengetahui?: dengarlah makna rahasia ‘Dia mengajarkan kepadanya Nama-nama.’
Bagi kita, nama segala sesuatu adalah bentuk lahirnya; bagi Sang Pencipta, ia adalah hakikat batinnya.
Dalam pandangan Musa nama tongkatnya adalah “tongkat”; dalam pandangan Tuhan namanya “naga”.
Di dunia ini nama ‘Umar adalah “pemuja berhala”, namun di alam baka ia adalah “al-mu’min yang sesungguhnya”.
Di hadapan Tuhan, pendek kata, segala yang merupakan tujuan kita adalah nama kita yang sebenarnya.

Selain itu, ketika seorang salik sedang menghadapi ujian, dia harus ingat bahwa ada yang lebih berat ujiannya daripada yang menimpa dirinya. Begitu juga ketika dia merasa bahagia, dia harusnya menyadari bahwa ada kebahagiaan lain yang tingkatannya lebih tinggi daripada yang didapatkannya, yang belum pernah terlintas dalam pikiran kita, yaitu, bertemu dengan Allah Ta‘ala. Dalam suluk tidak ada penderitaan kecuali satu saja, yaitu, tidak ditunjuki oleh Allah Ta‘ala.

Apabila si salik membereskan urusan agamanya, maka urusan dunianya pun akan ikut beres. Tapi, bila dia hanya menghadapkan wajahnya ke dunia, maka akhiratnya pun akan kacau-balau. Karena itu, apabila dalam mengurusi agama ternyata seorang salik itu malahan kocar-kacir urusan dunianya, berarti ada sesuatu yang tidak beres. Media yang paling efektif bagi manusia untuk menghadirkan Allah Ta‘ala adalah shalat. Karena itu, bila runtuh shalat, maka akan runtuh pula agamanya. Mengenai hal ini ‘Umar bin Khaththab pernah berkata bahwa “Barangsiapa yang mengentengkan shalat, maka dia akan mengentengkan persoalan yang lainnya.” Shalat yang benar adalah shalat yang khusyuk, sedang untuk meraih shalat yang khusyuk harus ihsan terlebih dahulu (yaitu, merasakan kehadiran Allah Ta‘ala). Ada pun merasakan kehadiran Allah Ta‘ala adalah dalam setiap tarikan napas sebagai hasil pembelajarannya dari ujian-ujian, serta menggantungkan hidup sepenuhnya kepada Dia Ta‘ala, dan ma’rifatullah (tidak akan ada sakinah kalau tidak mengenal Allah).

c. Tidak berkeluh-kesah. Apabila manusia bertaqwa kepada Allah Ta‘ala, maka Dia Ta‘ala akan mengajarinya ilmu. Adapun indikator taqwa pada qalb seseorang adalah munculnya sakinah. Sedangkan apabila qalbnya gelisah, maka itu berarti ada dosa atau kesalahan yang disebabkan oleh kecewa kepada Allah Ta‘ala (atas pemberian-Nya) dan keluh kesah. Dalam suluk, seorang salik yang marah dan kemudian langsung menempeleng dampaknya jauh lebih ringan ketimbang memendamnya dalam qalb, karena hal itu akan mamancing keluh-kesah. Terlanjur menempeleng masih bisa diselesaikan dengan meminta maaf. Sedangkan keluh-kesah yang berkepanjangan berpotensi menurunkan maqam dan menjadi dosa yang susah dibersihkan dari qalb kecuali oleh “api”. Permasalahnnya, keluh kesah itu menghapuskan dua Asma Allah Ta‘ala yang paling dibanggakan-Nya, yaitu Rahmaan dan Rahiim.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Rabb kami, janganlah engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum al-kafirin.” (QS.Al-Baqarah [2]: 268)

d. Mengamati masalah atau ujian dengan kacamata-Nya. Tidak jarang manusia menghakimi bahwa si fulan benar, sedang si fulanah salah, dan lain sebagainya. Apabila penghakiman tersebut hanya berdasarkan zhan, walau hanya dalam hati, itu akan membuat ridha Allah Ta‘ala semakin menjauh. Perbuatan menghakimi orang akan dipertanggungjawabkan di akhirat, karena, bisa jadi, penghakiman tersebut berdasarkan pandangan subjektif diri sendiri, dan bukan dengan pandangan-Nya (karena terhijab). Mengenai ini, Rumi mengemukakan sebagai berikut:

Seekor Singa bergaul dengan seekor Kelinci: mereka berlari bersama ke perigi dan melihat ke dalamnya.
Sang Singa melihat bayangan diri: di permukaan air tampaklah muka seekor Singa dan seekor Kelinci yang gemuk di sampingnya.
Begitu ia melihat musuhnya maka ia segera meninggalkan kelinci dan meloncat ke dalam perigi.
Ia jatuh ke dalam lubang yang telah ia gali sendiri: ketidakadilannyalah yang menerkam kepalanya sendiri.
O Pembaca, betapa banyak keburukan yang engkau lihat pada orang lain itu tak lain adalah sifatmu sendiri yang terpantul pada diri mereka!
Semua yang nampak pada mereka adalah dirimu—kemunafikan, ketidakadilan, dan keangkuhanmu.
Engkau tak mampu melihat jelas keburukan dalam dirimu, kalau tidak begitu engkau akan membenci dirimu sendiri dengan seluruh jiwamu.
Seperti Singa yang menerkam bayangannya sendiri dalam air, engkau hanya menganiaya dirimu sendiri, O orang dungu.
Jika engkau telah mencapai dasar perigi sifat-sifatmu sendiri, maka engkau bakal mengetahui kejahatan pun ada di dalam dirimu.

Namun, sebaliknya, apabila pemahaman atau penilaian tersebut sejalan dengan pemahaman atau penilaian Ilahi, maka hal itu berarti kebaikan. Oleh sebab itu, manusia perlu memperbaiki cara pandang pribadinya yang ditempuh melalui suluk, sehingga diharapkan setelah bersuluk penglihatan, pandangan, pemahaman dan penilaiannya akan sesuai dengan kehendak Allah Ta‘ala. Dalam hal ini, penghakiman bisa menjadi hal yang kontra-produktif untuk menuju Allah Ta‘ala. Lebih jauh, Rumi menjelaskan sebagai berikut:

Di dunia ini tiada keburukan yang mutlak: keburukan itu nisbi. Sadarilah kenyataan ini.
Di dunia Waktu sesuatu pastilah menjadi pijakan bagi seseorang dan belenggu bagi yang lainnya.
Bagi seseorang merupakan pijakan, bagi lainnya merupakan belenggu; bagi seseorang merupakan racun, bagi lainnya merupakan manis dan bermanfaat laksana gula.
Bisa ular merupakan kehidupan bagi ular, namun maut bagi manusia; lautan merupakan sumber kehidupan bagi binatang laut, namun bagi makhluk darat merupakan luka yang mematikan.
Zayd, meski orangnya sama, bisa jadi setan bagi seseorang dan menjadi Malaikat bagi lainnya:
Bila engkau ingin ia baik padamu, maka pandanglah ia dengan pandangan seorang pencinta.
Janganlah kau pandang Yang Maha Indah dengan matamu sendiri: melihat Yang Dicari itu dengan mata sang pencari.
Sebaliknya, pinjamlah pandangan dari Dia: pandanglah wajah-Nya dengan mata-Nya.
Tuhan berfirman, “Barangsiapa telah menjadi milik-Ku, Aku menjadi milikinya: Aku adalah matanya, tangannya dan hatinya.
Semua yang dibenci menjadi yang dicintai manakala ia membawamu kepada Sang Kekasihmu

e. Tidak menghadapi masalah ‘seorang diri’. Seorang hamba dengan tekad yang kuat, harus berserah diri kepada Allah Ta‘ala, dan dengan susah payah dia pun harus mencari tahu apakah yang ia lakukan diridhai oleh Allah Ta‘ala. Apabila dia belum bersikap demikian, itu berarti dia belum membutuhkan Allah Ta‘ala. Akibatnya, hidupnya pun menjadi ruwet. Watak alam adalah berpasangan, seperti siang dan malam yang silih berganti. Hukum spiritual pun seperti itu, di mana Allah SWT selalu mempergilirkan antara suka dan duka. Namun, kesemua itu pada dasarnya adalah perangkap dari alam dunia ini, dan manusia harus keluar dari perangkap tersebut, perangkap jasadiyyah, sehingga tidak ada lagi siang atau malam, suka mau pun duka. Mengenai hal ini Rumi mengatakan :

Sayangku, jasad ini adalah sebuah Rumah Tamu ; setiap pagi ada tamu baru yang datang.
Janganlah berkata: “Wah, ada beban tambahan melingkari leherku!” atau tamumu akan melesat kembali ke ketiadaan.
Apa pun yang memasuki qalbmu, ia adalah seorang tamu dari alam yang tidak tampak: sambutlah dengan baik!
Setiap hari, setiap saat, sebuah pikiran mendatangi, bagaikan seorang tamu kehormatan ke dalam qalbmu.
Wahai jiwaku, perlakukan setiap gerakan qalb sebagai seorang manusia, karena nilai seseorang terletak pada qalbnya.
Jika yang menghadang di jalan adalah ingatan yang menyedihkan, ia juga tengah giat menyiapkan kedatangan kegembiraan.
Dengan giat ia menyapu bersih rumahmu, agar kegembiraan yang baru bisa muncul dari Sumbernya.
Ia mencerai-beraikan dedaunan layu dari dataran qalbmu, agar daun yang segar dapat tumbuh.
Ia mencabut kegembiraan yang lama, agar suatu kegembiraan yang baru bisa datang dari Sebelah Sana.
Kesedihan mencabut akar busuk yang tersembunyi dari pandangan.
Kehilangan apa pun yang ditimbulkan kesedihan, atau yang membuat qalbmu terluka, ia menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik
Khususnya bagi mereka yang yakin bahwa kesedihan adalah abdi mereka yang bermata hati.
Tanpa lintasan awan dan petir, anggur akan terbakar oleh senyuman matahari.
Baik keberuntungan mau pun kesialan, keduanya adalah tamu di qalbmu: bagaikan planet yang berjalan dari satu tanda ke tanda lainnya.
Ketika sesuatu menyinggahi tandamu, sesuaikanlah dirimu, dan bersikaplah seharmonis mungkin dengan tanda utamanya,
Sehingga ketika ia bergabung kembali dengan Sang Rembulan, ia akan berkata yang baik-baik kepada Sang Penguasa Qalb.
Ketika kesedihan mendatangimu lagi, sambutlah ia dengan senyum dan tawa,
Katakanlah: “Wahai Penciptaku, selamatkanlah aku dari keburukannya, dan jangan pisahkan aku dari kebaikannya.
Tuhanku, ingatkanlah daku untuk selalu bersyukur, sehingga aku tidak akan menyesali manakala kemaslahatannya berlalu.”
Dan bila mutiaranya bukan berada dalam tangan kesedihan yang itu, lepaskanlah dan tetaplah merasa gembira.
Tingkatkanlah latihanmu mencerap rasa manis.
Kali lain, latihanmu itu akan memberimu maslahat; suatu hari tiba-tiba saja, kebutuhanmu akan terpenuhi.

Bahaya menyelesaikan masalah ‘seorang diri’ adalah jebakan yang membuat hidup manusia hanya sibuk untuk menyelesaikan masalah saja. Sampai kapan pun masalah akan senantiasa muncul, dan terus begitu. Apabila manusia hanya berusaha memecahkan masalah terus menerus sampai akhir hayat, maka hidupnya hanya akan disibukkan dengan rangkaian problem solving yang tak berujung, sehingga membuatnya tidak sempat untuk menapaki jalan menuju-Nya, melalaikannya dari misi hidup yang diembannya di muka bumi ini. Hidup itu adalah belajar menghadapi masalah dan mensikapinya. Selain itu, manusia seringkali terjebak memandang masalah dengan mata zahir, karena mata zahir akan selalu melihat dengan penilaian “ini buruk” dan “itu baik.” Hal itu hanya akan menambah masalah. Adapun mata batin tidak akan melihat dengan cara seperti itu.

Masing-masing hamba Allah mempunyai empat biji mata. Dua biji pada kepalanya, untuk melihat urusan dunianya. Dan dua biji pada hatinya, untuk melihat urusan agamanya. (Al-Hadis)

Karena itu, dalam suluk, seorang salik harus berusaha agar Allah Ta‘ala berkenan membuka kembali mata batinnya, dan tidak menghadapi masalah ‘seorang diri’, melainkan bersama dengan Allah Ta‘ala, bergantung total kepada-Nya. Setelah qarib dengan Allah Ta‘ala, maka dia pun akan memandang masalah dengan menggunakan kacamata-Nya, dengan visi Allah Ta‘ala. Adalah sangat berbeda antara salik A yang baik suluknya dengan salik B yang acak-acakan perjalanannya dalam menapaki masalah. Andaikan dalam menghadapi masalah medan P, seorang salik A melewatinya seakan sedang menapaki jalan yang datar, karena dia melihat segalanya dengan kacamata-Nya (al-haqq), sedangkan salik B dalam menapakinya akan merasakan turun naik, mengikuti kontur medan P, sehingga mengakibatkan kelelahan.

Rumi mengemukakan lebih jauh mengenai hal itu sebagai berikut:

Pada Pertemuan Pengadilan orang-orang al-mu ‘min akan berkata, “Wahai Malaikat, bukankah Neraka itu jalan umum
Yang dilalui orang-orang al-mu’min dan kafir? Namun kami tak melihat asap maupun api dalam perjalanan kami.”
Maka Malaikat menjawab: “Kebun yang terlihat ketika kalian lalui
Sebenarnya itulah Neraka, namun bagi kalian tampaknya bagai kebun hijau yang indah.
Karena kalian berjuang melawan hawa nafsu dan memadamkan kobaran syahwat demi Tuhan,
Maka ia menjadi hijau dengan kesucian dan menerangi jalan keselamatan;
Karena kalian mengubah bara kemarahan menjadi kelembutan, dan kebodohan yang kelam menjadi pengetahuan yang terang;
Karena kalian membuat hawa nafsu yang berapi-api menjadi kebun buah-buahan di mana burung Bulbul selalu memanjatkan doa dan pujian—
Maka bagi kalian api Neraka berubah menjadi tumbuh-tumbuhan hijau, bunga-bunga mawar, dan kekayaan tanpa akhir.

f. Pewahidan. Secara hakikat seluruh alam, seluruh jagat raya, bermula dari satu noktah persoalan saja di sisi Allah Ta‘ala. Pewahidan selalu ada secara bertingkat mulai dari individu, kelompok hingga alam. Konsep pewahidan ini merupakan kunci untuk mengarungi alam dunia. Bahwa seluruh yang ada di semesta alam ini terintegrasi, saling kait mengait dan merupakan suatu siklus, mata rantai. Setiap persoalan yang hadir di alam ini tidak ada yang berdiri sendiri. Ia merupakan satu kesatuan. Begitu pula salik dalam menghadapi masalah. Dia harus melakukannya secara serempak terhadap semua masalah dalam proporsi yang sesuai. Adalah syaithan yang menggoda manusia untuk melihat segala sesuatunya secara parsial dan mewahamkan dalam dirinya bahwa dia telah menemukan kebenaran.

Pewahidan, dalam bahasan ini, dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu:

1. Pewahidan dalam suluk. Dalam hadis sering disebutkan bahwa setiap mu’min itu adalah cerminan untuk mu’min lainnya dan bagaikan satu tubuh. Ungkapan dalam hadis tersebut mengabarkan tentang pewahidan sesama mu’min, pewahidan antara sesama orang yang dianugrahi cahaya iman oleh Allah Ta‘ala, pewahidan di antara sesama salik. Seorang hamba sangat membutuhkan sahabat seiman, karena untuk dapat mengetahui siapa dirinya adalah melalui interaksinya dengan sahabat seiman. Tak ubahnya rangkaian puzzle. Namun, pada kenyataannya, syaithan senantiasa menggoda manusia untuk keluar dari pewahidan ini dan mengucilkan diri. Ini adalah salah satu bentuk dosa syirik. Mengenai hal ini, Rumi mengemukakannya sebagai berikut:

Orang-orang al-mu’min itu banyak, namun Iman itu hanya satu; tubuh mereka itu beraneka ragam, namun nafs mereka hanya satu.
Selain pengertian dan nafs yang juga dimiliki sapi dan keledai, Manusia memiliki akal dan pikiran dan nafs yang lain.
Lagi pula, pada diri pemilik nafas Ilahi, ada nafs lain yang lain dari nafs manusia.
Nafs hewaniah tak memiliki kesatuan; jangan pula mencari kesatuan dari ruh halus itu.
Jika pemiliknya memakan roti, tetangganya tak merasa kenyang, tetangganya pun tak merasa terbebani, jika dia memikul beban;
Bahkan senang atas kematian tetangganya dan mati lantaran iri melihat tetangganya sejahtera.
Nafs serigala dan anjing bercerai berai; jiwa Singa-singa Tuhan berpadu menjadi satu.
Nafs yang kubicarakan tentu saja nafs mereka yang banyak, karena Nafs yang tunggal itu ratusan kali banyaknya kalau dihubungkan dengan badan.
Sama seperti tunggalnya cahaya matahari di langit menjadi ratusan kali banyaknya bila menyentuh halaman rumah yang disinarinya.
Namun apabila kaupindahkan dinding, seluruh cahaya yang berpencaran itu satu dan sama juga.
Apabila rumah jasmani tak memiliki fondasi yang tersisa, Orang-orang al-mu’min tetap satu nafs.

2. Pewahidan Masalah. Dalam mengarungi suluk, niscaya seorang salik akan selalu berhadapan dengan masalah. Bukan hanya satu, tapi banyak masalah. Kembali kepada konsep “pewahidan” bahwa seluruh masalah yang hadir menerpa manusia merupakan satu kesatuan, maka untuk menghadapi dan menyikapi masalah tidak bisa satu persatu, melainkan secara keseluruhan dan proporsional.

g. Memang hantaman-hantaman dalam kehidupan manusia akan terasa menyakitkan, sehingga tak sedikit yang marah kepada Allah Ta‘ala. Namun, tidak demikian halnya bagi seorang salik. Dengan niat yang murni untuk mengabdi kepada Allah Ta‘ala, menghadapkan wajah hanya kepada-Nya, maka Dia Ta‘ala pun akan menata semua persoalan dan ujian yang datang pada salik tersebut, karena Allah Ta‘ala senantiasa mendidiknya dalam meniti kehidupan ini. Setiap permasalahan yang datang kepada seorang salik sebenarnya membentuk sebuah pola yang chaos tapi deterministik. Suatu pola yang akan menguji kemurnian niatnya dalam mencari Dia Ta‘ala. Mengenai ini, Al-Hallaj mengemukakan sebagai berikut:

Tak mau kubiarkan diriku pedih
Menanggung sakit
Hanya Yang Mutlak bisa menyembuhkan
Sekerdip tatapan Mata-Mu
Adalah tempatku memohon
Menghimpun citaku
Bagiku Kau akan lebih nyaman
Dibanding dunia dan semua isinya
Jiwa yang tabah direcai derita
‘Kan tabah selamanya
Jika di dunia ini ada pereda sakitku
Moga Tuhan sendirilah penyembuhnya

h. Belajar, merenung, dan menambah pengetahuan. Agar nalarnya kuat dan nafsnya berpengetahuan, maka seorang salik harus dihantam masalah dari A sampai Z. Ketika seseorang mulai bersuluk, maka terangkatlah masalah Z. Namun, dengan diangkatnya masalah Z tersebut, maka masalah-masalah yang lainnya pun harus diangkat pula. Apabila masalah yang lain tidak diangkat, maka hal itu hanya akan meruntuhkan keseluruhan permasalahan. Akibatnya, orang tersebut hanya akan terjerat dan berputar-putar dalam masalah yang sama. Sudah hukumnya bahwa suluk akan mengangkat masalah yang menguji salik dalam perjalanan menuju Rabb-nya. Bila ternyata dalam bersuluk dia tidak menemukan permasalahan yang menjadi ujian baginya, hal itu harus dipertanyakan. Seminimal-minimalnya adalah permasalahan dengan masyarakat awam dalam menjelaskan suluk yang sedang dilakoni. Oleh karena itu, dalam suluk mutlak diperlukan konstruksi pengetahuan yang kokoh, dan bukan doktrin.

Adapun mengenai bagaimana masalah akan menambah pengetahuan bagi salik, Sastra Jendra mengemukakannya sebagai berikut :

Merupakan suatu keharusan bagi seorang salik untuk menambah pengetahuan, sehingga dia dapat mulai mengetahui karsa Allah, tidak su’udzan kepada-Nya. Dengan pengetahuan pula, seorang salik akan dapat menghargai pemberian dari-Nya, seperti yang dikemukakan dalam Sastra Jendra

i. Merespon apa-apa yang datang hari ini. Bahwasanya manusia itu merupakan anak waktu yang senantiasa hidup dalam ‘hari ini’. Karena itu, dia “hanya” harus merespon apa-apa yang datang di hari ini, tidak mengingat-ingat masa lalu dan mengangan-angankan masa depan. Biasanya manusia sudah merasa linu dan pegal ketika menghadapi ujian. Linu tersebut tak lain adalah sakit pikiran. Plato mengatakan bahwa “Kalau hendak mengobati seseorang, maka obati terlebih dahulu pikirannya.” Seorang salik harus senantiasa total dalam ke-hari-ini-annya. Diceritakan tentang seorang lelaki yang berjalan ke hutan dan bertemu dengan harimau yang kemudian mengejarnya. Dia pun kemudian bergantung pada sebuah akar yang terjulur di dinding tebing, namun harimau tersebut masih menungguinya di bawah. Tanpa disangka-sangka, ternyata akar tempat dia bergantung itu sedang digerogoti oleh dua ekor tikus hitam dan putih. Hanya tinggal beberapa saat lagi, maka dia pun akan menjadi santapan harimau. Dalam detik-detik yang tersisa, lelaki tersebut melihat sebuah pohon ceri dengan buah-buahnya yang ranum tumbuh di dinding tebing tersebut. Kemudian lelaki tersebut memetik buah ceri itu dan memakannya seraya berkata “Betapa enaknya.” Seandainya lelaki tersebut hanya memikirkan bahwa dalam beberapa saat lagi dia akan menemui ajalnya, tentunya dia tidak akan memakan buah ceri tersebut, karena dia hanya sibuk dengan ketakutannya akan masa depan. Namun, lelaki tersebut menghadapi semuanya dalam totalitas ke-hari-ini-annya, berpikir mengenai apa yang masih bisa dia lakukan dalam sisa-sisa waktunya tersebut.

j. Seorang salik harus menyadari bahwa sebenarnya sakit atau penderitaan itu tidak ada, untuk kemudian bersabar menghadapi ujian yang datang kepadanya. Apabila ternyata dia masih merasakan sakit atau penderitaan, itu pertanda bahwa masih ada yang “rusak” pada qalb-nya. Rasa sakit itu terjadi karena terlalu eratnya ikatan dia dengan kehidupan dunia. Semakin erat ikatan tersebut, akan semakin terasa sakit atau menderita dalam menghadapi ujian-ujian. Salah satu penyebab rasa sakit adalah perasaan kehilangan terhadap sesuatu yang dicintainya, apa pun itu, yang selain Allah Ta‘ala. Rasa kehilangan itu seperti karat yang mengikat keris yang tidak pernah dicabut dan dibersihkan dari sarungnya selama puluhan tahun.

k. Menghadirkan visi mengenai alam barzakh dan alam akhirat dalam kehidupan di dunia. Apabila visi akan alam barzakh mau pun alam akhirat tidak ada, maka manusia akan tenggelam dalam lautan keduniaan, dan tidak bisa melepaskan diri dari cengkeramannya. Kecintaan kepada dunia sangatlah berbahaya, karena apa yang di bawa manusia sewaktu dia meninggal, akan ditampakkan pada waktu dia dibangkitkan kembali. Andaikata seseorang meninggal dan qalbnya masih gandrung terhadap suatu benda, maka sewaktu dia dibangkitkan, hal pertama yang akan dilakukannya adalah mencari benda tersebut. Bahwa apa-apa yang menghijab manusia di akhirat adalah apa-apa yang menghijabnya sewaktu hidup di dunia.

l. Menjalani Thariqah. Thariqah merupakan cara yang tepat untuk menghadapi ujian. Di thariqah, nafs seorang salik dilatih keberserahdiriannya kepada Allah Ta‘ala dalam menghadapi kehidupan, termasuk ujian, dengan mencoba menghilangkan secara perlahan-lahan “karat yang mengikat keris dengan sarungnya”, sebagaimana diungkapkan dalam Sastra Jendra

Bahwasanya selama hayat dikandung badan, seorang salik tidak akan pernah luput dari ujian demi ujian. Namun, hidup bukanlah rangkaian pemecahan masalah, tapi pengajaran bagaimana sikap yang benar dalam menghadapi masalah-masalah. Setelah dapat menyikapinya dengan benar, maka masalah pun akan selesai dengan sendirinya, untuk kemudian berganti dengan “modul” masalah lainnya yang lebih kompleks. Salik tidak bisa menghindari masalah, karena apabila dia menghindarinya, maka masalah yang harus dihadapinya nanti akan semakin bertumpuk. Apabila seorang salik telah berhasil menghadapi ujian demi ujian, serta hijab qalb-nya pun telah tersingkap, maka dia pun akan menemukan hikmah dan pengetahuan dibalik ujian tersebut.

Pada hakikatnya ujian itu merupakan pakaian dan lambang orang beriman yang akan menuntunnya menuju Kesenangan Abadi. Seandainya tidak ada ujian, bisa saja hidup manusia menjadi tenang dan adem ayem, namun hal itu dapat menimbulkan perasaan tidak membutuhkan Dia Ta‘ala, bahkan melupakan-Nya dan menjadi takabur. Karena itu, ujian merupakan shock therapy yang membuat manusia teringat akan keberadaan-Nya. Setelah dia terpojok oleh banyak masalah dan tidak bisa apa-apa lagi, bahkan akalnya pun mengatakan tidak ada jalan keluar, maka pada saat itulah manusia biasanya akan mengharapkan pertolongan-Nya, menyadari keberadaan-Nya. Pernah ada kisah seorang sufi yang merasa sedih karena telah seminggu hidupnya tenang. Dia merasa sangat khawatir akan ketenangan yang ia terima, sampai-sampai ia tidak bisa tersenyum dan terkadang menangis. Setelah datang ujian kepadanya, barulah ia bisa tertawa.

Salah satu tanda Cinta Allah Ta‘ala kepada hamba-Nya adalah diberi-Nya ujian yang menghantam sisi terlemah sang hamba tersebut, menghantam penyakit hati, menghantam apa-apa yang sangat dicintainya. Dengan memahami hal ini, maka seorang salik tidak akan collapse dalam menerima ujian. Semakin berat ujian berarti semakin besar pula cinta-Nya kepada sang hamba. Namun, bagi orang yang tidak memahami hakikat kehidupan, dia akan menolak ujian tersebut dan menganggapnya sebagai sesuatu yang menyakitkan. Ketakutan dalam menghadapi ujian itu dikarenakan bisikan was-was dari syaithan. Alangkah indahnya kasih Allah Ta‘ala kepada hamba-Nya. Dia Ta‘ala memberikan ujian untuk menunjukkan sisi lemah sang hamba, kemudian Dia Ta‘ala tunjukkan pula obatnya. Apabila sang hamba telah lulus dari suatu ujian, itu berarti satu sisi lemahnya telah menguat, sisi sakitnya telah disembuhkan, untuk kemudian berganti dengan modul ujian lainnya yang lebih berat.

Ujian akan menampakkan hakikat kekurangan dan kelemahan diri, menyadari siapa diri ini. Dengan mengetahui keburukan diri, berarti sudah ada proses pemisahan “diri” untuk kemudian berlatih menjauhkannya. Kelemahan itu berlapis-lapis. Pada mulanya ditampakkan lapis yang paling luar, kemudian lapisan-lapisan ini makin bergerak ke dalam. Apa pun yang menimpa seorang salik, ujian apa pun yang datang menghampirinya, semuanya itu adalah atas izin Allah Ta‘ala. Oleh karena itu, setiap masalah yang dihadapinya harus selalu dihubungkan kepada Allah Ta‘ala.

Dalam bersuluk, banyak yang harus dipelajari, banyak yang harus dibaca. Oleh karena itu, si salik harus senantiasa haus pengetahuan agar tidak jenuh dan bosan. Selain untuk melawan kejenuhan, pengetahuan juga berguna untuk menyesuaikan makanan bila maqam meningkat. Hal ini penting karena setiap jenjang maqam membutuhkan makanan yang berbeda. Setiap jenjang mempunyai kebutuhannya sendiri. Alam dunia merupakan alam mimpi bagi nafs, dan manusia harus membangunkan nafs-nya dari tidur panjang, sehingga nafs-nya tersebut bisa cepat belajar untuk kemudian diamati perkembangan dan kebutuhannya. Bila dia tidak mengamati perubahan terkecil dari nafs-nya, maka dia tidak akan menyadari pertumbuhannya, sehingga tidak bisa menyiapkan konsumsi yang sesuai dengan kematangan nafs-nya. Mengenai hal ini Rumi menjelaskannya sebagai berikut:

Apabila ada yang mengatakan kepada janin di rahim, “Diluar sana ada sebuah dunia yang teratur,
Sebuah bumi yang menyenangkan, penuh kesenangan dan makanan, luas dan lebar;
Gunung, lautan dan daratan, kebun buah-buahan mewangi, sawah dan ladang terbentang,
Langitnya sangat tinggi dan berbinar, sinar mentari dan cahaya bulan serta tak terkira banyaknya bintang;
Keajaibannya tak terlukiskan: mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, di dalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini?
Janin itu, sebagaimana layaknya, tentu akan berpaling tak percaya sama sekali; karena yang buta tak memiliki imajinasi.
Maka, di dunia ini, ketika orang suci menceritakan ada sebuah dunia tanpa bau dan warna,
Tak seorang pun di antara orang-orang kasar yang mau mendengarkannya: hawa nafsu adalah sebuah rintangan yang kuat dan perkasa—
Begitupun dengan hasrat janin akan darah yang memberinya makanan di tempat yang hina
Merintanginya menyaksikan dunia luar, selama ia tak mengetahui makanan selain darah semata.

Dalam kesempatan lainnya, Rumi pun menegaskan kembali:

Seseorang yang tinggal bertahun-tahun di suatu kota, setelah ia tertidur segera,
Melihat kota lain yang penuh kebaikan dan keburukan, serta kotanya sendiri hilang dari pikirannya.
Ia tak pernah berkata pada dirinya, “Ini sebuah kota baru: aku adalah seorang asing di sini”;
Sebaliknya, ia membayangkan selalu tinggal di kota ini, dilahirkan dan dibesarkan di sini.
Apakah mengherankan apabila, kemudian, nafs tak ingat lagi akan kampung halamannya dan tanah kelahiran,
Karena ia lelap saat di dunia ini, bagai sebuah bintang diselimuti awan?—
Apalagi saat ia melangkahkan kaki di berbagai kota dan debu yang menutupi penglihatannya belum tersapu.

Banyak sikap yang ditempuh manusia dalam menghadapi ujian. Ada yang acuh tak acuh, ada yang mengeluh, dan ada yang menikmati serta menggali hikmah darinya. Seseorang yang mempunyai noktah dosa di dalam qalb-nya berada pada posisi t0, dan dia harus berjalan mengikuti perputaran waktu menuju t4. Pada t1 sampai dengan t3, ia (seharusnya) akan menghadapi ujian selama 6 hari. Ada beberapa kemungkinan cara yang dapat ditempuhnya, yaitu :

1. Acuh saja. Setelah 6 hari, ujian berlalu begitu saja. Walau ia telah melewatinya dan kini telah berada di posisi t4 , namun noktah di dalam qalb-nya tetap melekat.

2. Dia mengarungi ujian tersebut sehingga menemukan hakikatnya. Maka di hari ke-6 (t4) noktah dalam qalb-nya telah dibersihkan, dan ia pun menemukan hikmah di balik ujian tersebut.

3. Misalkan hakikat ujian tersebut dapat dipahaminya pada t2 atau pada masa 1,5 hari, maka ujian tersebut akan berhenti pada t2. Berarti ia telah berhasil membersihkan qalb-nya dan meraih hikmah pada periode 1,5 hari atau kurang dari 6 hari.

Manfaat Ujian

Hadis yang berbunyi “Iman dan sabar bagaikan kepala dengan tubuh” sangat erat hubungannya dengan ujian. Seseorang baru dapat dikatakan manusia, bila kepala dan tubuh bersatu. Sebaliknya, manusia pun tidak dapat hidup, kalau kepala terpisah dari tubuh. Ini berarti bahwa iman dan sabar merupakan satu kesatuan unik yang tidak dapat dipisahkan. Hamba yang menyatakan iman akan diuji dengan keimanannnya, dan tidak ada rumus lain yang tepat untuk menghadapi ujian kecuali dengan sabar. Manfaat ujian dalam perjalanan seorang salik sangatlah besar, di antaranya lain adalah:

a. Untuk mengetahui orang-orang yang benar (shidiq)

Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS Al-Ankabut [29]: 3)

b. Untuk mendapat Rahmat dan Petunjuk (al-Muhtaduun)

Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah [2]: 157)

c. Untuk mengetahui apakah berada di “pinggiran”

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS. Al-Hajj [22]: 11)

d. Untuk mengetahui orang yang beramal ihsan (ahsanu amalan)

Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah):”Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata:”Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata. (QS. Hudd [11]: 7)

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya. (QS. Al-Kahfi [18]: 7)

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun ”. (QS. Al-Mulk[67]:2)

e. Untuk menghilangkan penyakit qalb. Hal ini diungkapkan secara gamblang dalam bait Sastra Jendra nomor 68, 76, dan 114 yang telah dicantumkan di atas.

f. Mereduksi potensialitas ego dan syahwat dengan menghadirkan ujian-ujian yang dirasakan pada tingkat jasad agar meningkatkan kompleksitas pemahamannya ihwal hakikat kehidupan ini. Cara menghadapinya, selain berserah diri kepada Allah Ta‘ala, juga dengan berpikir keras, mencari jalan yang benar sesuai syar‘i, sabar serta tidak mengeluh. Pemikiran yang kompleks ini akan mereduksi potensial ego dan syahwat, walau pun hal ini harus dilakukan dengan hati-hati, karena bisa juga malah berbalik meningkatkan ego dan syahwat. Apabila hal ini dilakukan secara benar dan tepat saat menghadapi ujian, hal itu akan menimbulkan beda potensial yang besar dalam mereduksi potensialitas ego dan syahwat.

g. Mengundang limpahan (air) maqam. Bibit (iman) yang baru disemai membutuhkan air (maqam). Namun, setelah akarnya membesar dan daunnya mulai bermunculan, dia akan membutuhkan lebih banyak lagi air. Semakin besar pohon, semakin banyak air yang dibutuhkannya, hingga pada usia kedewasaan tertentu dia membutuhkan jumlah air yang tetap (maqam puncak). Apabila ternyata pohon tersebut tidak bertambah besar, berarti air yang tersedia hanya sedikit, dan bumi tempat dia tumbuh pun sangat terbatas (dalam pot). Dalam penjelasan terdahulu dinyatakan bahwa ujian berfuingsi menumbuhbesarkan pohon (taqwa), yang berarti juga meningkatkan kebutuhan airnya. Dalam hal ini, ujian merupakan media pengundang turunnya air, atau pengundang naiknya maqam. Namun perlu disadari bahwa untuk menumbuhkan pohon, masih dibutuhkan media lain yang sangat penting, yaitu, cahaya matahari. Karena itu, pohon harus disinari dengan cahaya matahari sesuai kebutuhannya. Apabila terlampau banyak malah akan membakarnya. Matahari di sini adalah Mursyid. Ujian atau masalah harus dihadapi dengan cara khas dan unik, bukan menjiplak. Kalau penyikapannya masih sama seperti yang dulu, berarti orang tersebut hanya berputar di situ-situ saja, tidak naik dan tidak meluas.

Masalah tidak bisa dihadapi dengan langkah yang sama atau menjiplak masalah yang lalu, karena itu berarti hanya berputar di orbit A, B, C. Seorang salik harus memiliki keberanian untuk mencoba langkah baru, sehingga dapat keluar dari orbit yang stagnan serta meluaskan wawasannya menuju kompleksitas. Hal ini dapat dilihat dalam fenomena fisika. Ketika sebuah partikel A bergerak dalam suatu medan magnet, dia akan terus bergerak pada garis edarnya dalam sebuah bidang datar. Namun, bila kemudian dia diberi sesuatu yang membelokkan garis edarnya, partikel itu akan beredar melingkar membentuk spiral yang semakin meninggi. Begitu juga mengenai masalah-masalah yang dihadapi. Salik tidak bisa hanya berputar di orbit yang lama. Dia harus berusaha mencari suatu cara untuk melontarkannya, sehingga membentuk spiral yang semakin meninggi.

Satu hal lagi yang perlu menjadi perhatian tentang ujian, yaitu, bahwa semua insan akan mengalami semacam lingkaran ujian, berupa lara, papa, mukti, mulia seperti yang ditandaskan dalam Sastra Jendra bait nomor 77 sebagaimana tercantum sebelumnya.

Penutup

Maksud dan tujuan seseorang ber-thariqah seharusnya adalah untuk meraih kesucian nafs dan menjadi al-muthaharun (tujuan pertama thariqah), sebagaimana diungkapkan dalam Sastra Jendra:

Itulah yang menjadi landasan bagi salik dalam mensikapi ujian. Apabila diperhatikan bagaimana kehidupan para nabiyullah, mereka tidak pernah putus dari ujian demi ujian. Dalam Al-Quran telah ditegaskan bahwasanya Allah Ta‘ala akan memberi petunjuk pada qalb orang-orang yang beriman dalam mengarungi kehidupan di dunia. Namun, petunjuk dari Allah Ta‘ala pun sering terkesan tidak masuk akal. Apabila petunjuk tersebut tidak dituruti, itu akan memadamkan nur imannya. Misalnya, petunjuk kepada Nabi Nuh yang diperintahkan membuat perahu di puncak gunung. Petunjuk membawa manusia kepada ujian, namun menghindari ujian malah bisa memadamkan nur iman. Karena itu, pada dasarnya, salik hanya memiliki satu pilihan, yaitu, menghadapi ujian dibawah bimbingan-Nya. Pendek kata, petunjuk-Nya sama dengan ujian-Nya. Rumi mengemukakannya sebagai berikut:

Apa artinya kekayaan tanpa pengemis? Kemurahan tanpa tamu, jadilah pengemis dan tamu; karena kecantikan mencari cermin; air merintih bagi orang yang kehausan.
Keputusasaan dan kefakiran adalah pengikat yang lezat bagi batu permata rubi itu.
Kefakiranmu adalah buraq; janganlah menjadi keranda yang membebani pundak orang lain.
Syukurlah engkau tidak memiliki sarana apa pun; jika tidak demikian engkau akan bersikap seperti seorang Fir’aun. Doa Musa adalah: “Rabbi inni limaa anzalta ilayya min khairi fakiir.”
Jalan yang ditempuh Musa penuh dengan keputusasaan dan kefakiran dan itu adalah satu-satunya jalan menuju Tuhan.
Dari semenjak engkau masih bayi kapankah keputuasaan pernah mengecewakanmu?
Jalan yang ditempuh Yusuf membawanya masuk ke dalam sumur: janganlah melarikan diri meninggalkan papan catur dunia ini, karena ini adalah papan-Nya, dan kita mati langkah! mati langkah.
Lapar membuat roti keras lebih lezat daripada halvah. Kegelisahanmu adalah kesalahan cerna makan bagi nafsmu; carilah kelaparan, kerinduan, dan kefakiran!
Tikus itu seekor pengerat. Tuhan memberinya akal yang sesuai dengan kefakirannya. Tanpa kefakiran, Tuhan tidak melimpahkan sesuatu pun.
Bagaimana caranya engkau akan membuat-Nya terkesan, bukankah hutangmu kepada-Nya tidak terhitung?
Seorang pengemis akan memperlihatkan kebutaan dan kustanya, tidaklah ia berkata: “Berilah aku roti, wahai kawan! Aku seorang kaya pemilik lumbung dan istana!”
Persembahkanlah seratus kantung emas, dan Tuhan akan berfirman: “Persembahkanlah qalbmu!”
Dan jika engkau mempersembahkan qalb yang mati, bagaikan keranda di atas pundakmu, Tuhan akan bersabda: “Persembahkanlah qalb yang hidup! Persembahkanlah qalb yang hidup!”
Jika engkau tidak mempunyai ‘ilm dan hanya persangkaan, milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan. Itulah jalannya!
Jika engkau hanya mampu merangkak, merangkaklah kepada-Nya!
Jika engkau tidak mampu berdoa dengan khusyu’, persembahkanlah doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan; karena Tuhan dalam rahmat-Nya menerima mata uangmu yang palsu.
Jika engkau mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan, kurangilah jadi sembilan puluh saja. Itulah jalannya!
Wahai pejalan! Walaupun telah seratus kali engkau ingkar janji, datang dan datanglah lagi! Karena Tuhan telah berfirman: “Ketika engkau mengangkasa ataupun terperosok dalam jurang, ingatlah kepada-Ku, karena Akulah Jalan itu.”

Agama itu berjalan di atas petunjuk Allah Ta‘ala, sedangkan petunjuk seringkali membingungkan nalar. Ujian adalah agar salik bisa mendapatkan petunjuk, dan petunjuk seringkali memancing ujian. Petunjuk inilah yang dimohon minimal 17 kali sehari dalam shalat. Oleh karena itu, seorang salik harus ridha dan sabar terhadap pemenuhan suatu permintaan. Ujian merupakan kucuran rahmat-Nya, sebentuk kasih sayang-Nya kepada sang hamba. Begitu banyak rahasia yang tersembunyi di balik ujian, dan ujian tersebut akan berhenti setelah si salik memahami maksud ujian itu bagi dirinya, memahami kata kunci SATRIYA (aSAT dari RIYA) atau ikhlas, kemudian mensyukurinya.

Tiga tujuan dari thariqah itu adalah untuk meraih kesucian jiwa (al-muthaharun), menemukan misi diri (bertemu diri), serta menjadi hamba yang qarib dengan Allah Ta‘ala. Langkah-langkah tersebut merupakan proses tazkiyatun nafs, tajrid nafs, transformasi diri. Sarana untuk meraih tranformasi diri ini antara lain berupa ujian. Melihat demikian beratnya ujian, pantaslah kalau dikatakan bahwa salah satu penghalang terbesar untuk taubat (perjalanan salik) adalah gentar menghadapi ujian. Sana‘i mengemukakannya sebagai berikut:

Sakit agama adalah sakit yang ganjil
Tiap terasa olehku sakit disebabkan hal itu
Samalah nasibku dengan lilin terbakar
Bila dipotong sumbunya, api tambah menyala.

Perjalanan ini sukar, takkan sampai insan
Jika cuma bertopang pada lidah dan kata
Mesti sakit jika kau ingin merasakan indahnya cinta
Mesti berani jika ingin mencecap lezatnya ma’rifat.

Abad beralih, bocah yang dulu lemah lembut
Kini telah berakal dan dewasa pula
Ada yang menjadi orang utama
Ada yang cuma fasih berkata-kata.

Tahun bersalin tahun, batu-batu keras
Kini telah tersepuh cahaya matahari
Moga kelak sangguplah batu-batu ini
Menjadi permata nilam ataupun akik Yaman.

Bulan ganti bulan, bulu domba di padang gembala
Nanti akan dikabulkan jadi sepotong selimut wol
Sebagai jubah yang dipakai seorang sufi
Atau pelana lembut di atas punggung keledai.

Minggu telah silam oleh minggu lainnya
Moga setumpuk kapas yang tumbuh dari air dan tanah
Kelak jadi pakaian dan hiasan wanita cantik
Atau kain kafan pembungkus yang mati syahid.

Hari tukar hari, terus ia menunggu
Dan begitu tabah dalam penjara derita
Hingga setetes air yang terkurung di kulit kerang
Menjelma mutiara yang berkilau-kilauan.

Dalam perjalan sejauh ini, Sahabat!
Hanya kejujuran, keikhlasan dan ketetapan qalb
Yang diperlukan, serta usia panjang
Hingga kau menjadi Wali seperti Uways, pembela kebenaran.

Jalan lurus yang tetap menuju Tauhid hanya satu
Dan mesti berani menempuhnya, sebab hanya satu
Dan kiblatnya hanya satu, bukan dua
Pilihlah: Ridha kekasih atau gejolak hawa nafsu!

Dalam Fihi Ma Fihi, Jalaluddin Rumi menjelaskan makna ayat:

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan, ‘Kami telah beriman’, dan mereka tidak akan diuji lagi? (QS. Al-Ankabut [29]: 2).

Ayat berikutnya (Q.S. Al-Ankabut [29]: 3) juga menerangkan bahwa salah satu fungsi ujian adalah memisahkan mereka yang ‘shiddiq’ (benar) dari mereka yang ‘kidzib’ (dusta). Secara umum, poin-poin dari makna ayat QS. Al-Ankabut [29]: 2 jika dijabarkan adalah:

a. Tidak ada keimanan tanpa ujian.
b. Ujian adalah sunatullah yang pasti perlaku.
c. Ujian adalah proses penanggalan hijab di dalam qalb seseorang.
d. Sesuatu yang menghijab adalah sesuatu yang terikat di qalb, biasanya sesuatu yang sangat kita sukai.

Berikut penjelasan dari Jalaluddin Rumi:

Ada diantara para hamba Tuhan yang mendekati-Nya melalui Al-Quran. Ada pula yang lain, yang lebih khusus, yang memang datang dari Tuhan hanya untuk mendapatkan Al-Quran disini, untuk kemudian semakin meyakini bahwa memang Tuhanlah yang menurunkannya.

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikra dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr [15]: 9)

Para pensyarah mengatakan bahwa ayat ini adalah tentang Al-Quran. Ini baik dan boleh saja, tapi sebenarnya masih terdapat makna lain disini, seperti “Telah Kami letakkan dalam dirimu sebuah hakikat, sebuah hasrat pencarian, sebuah kerinduan. Dan Kami sendirilah penjaganya. Kami tak akan membiarkannya sia-sia, dan Kami pasti akan menumbuhkannya hingga berbuah.”
Sebutlah “Tuhan” satu kali dan berdirilah dengan penuh keteguhan, karena dengan itu semua bala bencana akan menghujani dirimu.
Pernah seseorang datang kepada Nabi saw. dan berkata, “Aku mencintaimu.”
“Berhati-hatilah dengan perkataanmu,” jawab Sang Nabi.
Lagi, lelaki itu mengulang, “Aku mencintaimu.”
“Berhati-hatilah dengan perkataanmu,” Sang Nabi mengingatkan kembali.
Tapi untuk ketiga kalinya lelaki itu berkata, “Aku mencintaimu.”
“Sekarang berdirilah dengan penuh keteguhan,” jawab Sang Nabi, “karena
kini aku harus membunuhmu melalui tanganmu sendiri. Kau akan sengsara.”

*******

Pada masa kehidupan Sang Nabi saw, pernah seseorang berkata, “Aku tidak menginginkan diin ini. Demi Tuhan aku tidak menginginkannya! Ambil kembali diin ini! Sejak aku memasuki agamamu ini, belum pernah kualami satu pun hari yang tentram. Aku kehilangan hartaku, aku kehilangan istriku, tiada lagi anak-anakku yang tersisa. Tak ada lagi kemuliaan, kekuatan, dan hasrat yang tersisa pada diriku!”
Tapi jawaban dari perkataan itu adalah, “Kepada siapapun agama kami mendatangi, ia tak akan pernah kembali hingga ia mencabut seseorang dari akarnya dan menyapu bersih rumahnya. “Dan tak akan menyentuhnya kecuali al-muthaharun.” (QS. Al-Waqi‘ah [56]: 79)
Sepanjang engkau masih memiliki setitik rasa cinta diri yang tersisa dalam dirimu, tak akan pernah ada Kekasih yang akan memberikan perhatiannya padamu. Tidak juga kau layak untuk ditemani, dan tak akan ada kekasih yang mengizinkanmu masuk melewati pintunya. Seseorang haruslah benar-benar telah lepas dari ikatan-ikatan diri dan tak lagi bersahabat dengan keduniaan, jika ia ingin Sang Kekasih menampakkan wajahnya. Sekarang, agama kami tak akan pernah mengendurkan incarannya. Ia akan terus demikian sampai ia kukuh mencengkeram sebuah hati, mempersembahkannya kepada Tuhan, dan menceraikan hati itu dari segala sesuatu yang bukan untuknya.
Nabi berkata, bahwa penyebab engkau tak menemukan ketentraman dan terus-menerus menderita, adalah karena penderitaan sebenarnya seperti orang yang sedang muntah. Selama semua kenikmatan masih bersumber dari dalam perutmu, kau tidak akan pernah diberikan makanan* apapun. Ketika seseorang terus-menerus muntah, maka ia tidak bisa makan apa-apa. Ketika muntahnya telah selesai, barulah ia bisa mulai makan.
Engkau pun demikian, harus menunggu dan menerima penderitaan, karena penderitaan adalah muntah. Setelah muntah selesai, kebahagiaan akan datang, sebuah kebahagiaan yang tanpa penderitaan, mawar yang tanpa duri, anggur yang tidak membuatmu mabuk.
Siang dan malam engkau terus mencari ketenangan dan ketentraman di dunia ini, tapi tidaklah mungkin meraih ketenangan dan ketentraman di dunia ini. Walau demikian, sesaat pun engkau tidak pernah berhenti mengejarnya. Ketentraman apapun yang kau temukan di dunia ini, sama singkatnya seperti cahaya petir yang menyambar. Petir yang seperti apa? Petir yang muncul di tengah hujan es batu, air, dan salju, penuh dengan kesengsaraan.
Sebagai contoh, katakanlah seseorang ingin pergi ke Anatolia, tapi mengambil jalan ke Caesarea. Sekalipun dia tidak pernah berhenti berharap untuk sampai ke Anatolia, tapi mustahil dia akan sampai ke sana dengan jalan yang diambilnya. Tapi seandainya dia mengambil jalan yang benar ke Anatolia, walaupun dia seorang yang lemah dan pincang, pada saatnya ia akan sampai, karena memang di sanalah jalan itu berakhir.
Karena tidak ada urusan, baik di dunia ini maupun di alam berikutnya, yang bisa diselesaikan tanpa melalui penderitaan, maka terimalah penderitaan demi kehidupan yang berikutnya, sebab kalau tidak penderitaanmu akan sia-sia belaka.
Kau berkata, “Ya Muhammad, ambil kembali agamaku ini, sebab karenanya aku tak pernah lagi menemukan ketentraman.”
“Bagaimana mungkin ad-diin akan melepaskan mangsanya, sebelum ia menyeretnya hingga sampai ke tujuannya?” demikian Beliau akan menjawab.

Terakhir, izinkan kami menutup uraian tentang ujian ini dengan ayat berikut:

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan pada nafs-mu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri, orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS Al-Hadiid [57]: 22-24)

Wallahu ‘alam bishawwab.[]

Catatan-catatan:
1. Perlu diingat bahwa dalam tulisan ini dibedakan antara cobaan dan ujian. Cobaan adalah sesuatu yang menimpa manusia, namun datang dari alam syaithan. Hal ini dimungkinkan karena Allah Ta‘ala mengizinkan syaithan untuk dapat ‘menumpang’ dalam ujian—yaitu, sesuatu yang menimpa manusia, namun datang dari Allah Ta‘ala—yang diberikan pada seseorang. Perbedaan tentang cobaan dan ujian ini terlihat sangat jelas dalam kisah nabi Ayyub as, yaitu, ketika Allah hendak menguji ketabahan dan kesabaran Nabi Ayyub as dengan memperkenankan Iblis untuk menyentuh dan menghancurkan segala aspek lahiriah nabi Ayyub as, namun tidak aspek batiniahnya beliau as.

(Tulisan ini diolah dan ditambahi di sana sini dari catatan berupa pointer yang dibuat oleh Saat Katni Karim ketika akan resentasi tentang ujian yang dirangkum dari berbagai materi yang pernah disampaikan oleh Zamzam Ahmad Jamaluddin Tanuwijaya di berbagai kesempatan.)