Dalam pembahasannya tentang pembagian absolut antara ketaksadaran dan kesadaran (atau antara id dan ego), Sigmund Freud memperkenalkan gagasan tentang diri manusia, atau subjek, sebagai sesuatu yang secara radikal terbagi dan terbelah (split) di antara dua wilayah kesadaran dan ketaksadaran. Pada satu sisi, gagasan umum humanis Barat tentang diri atau personhood didefinisikan dengan beroperasinya kesadaran, termasuk rasionalitas, kehendak bebas, dan swa-refleksi. Bagaimana pun, bagi Freud dan juga bagi psikoanalisis secara umum, tindakan, pemikiran, kepercayaan, dan konsep tentang “diri” utuh dideterminasi atau dibentuk oleh ketaksadaran, serta berbagai dorongan dan hasratnya.
Jacques Lacan adalah seorang psikoanalisis Prancis. Awalnya dia ditraining sebagai seorang psikiatri, dan pada tahun 1930-an dan 40-an, dia bekerja menangani para pasien psikotik; kemudian pada tahun 1950-an dia mulai mengembangkan pandangan psikoanalisisnya sendiri yang didasarkan pada berbagai gagasan yang diartikulasikan dalam antropologi dan linguistik strukturalis. Dapat dikatakan bahwa Lacan adalah (Freud + Saussure), dengan sedikit sentuhan Lévi-Strauss, dan bahkan sedikit bumbu Derrida dan Heidegger. Tapi, pengaruh utama atau pendahulunya adalah Freud. Lacan mereinterpretasikan Freud dengan menggunakan teori-teori strukturalis dan postrukturalis, mengalihkan psikoanalisis dari teori atau filsafat yang pada hakikatnya bersifat humanis menjadi teori atau filsafat psikoanalisis.
Salah satu premis dasar humanisme, sebagaimana sudah banyak dikenal, mengandaikan adanya sesuatu yang dianggap sebagai diri stabil, yang memiliki seluruh keunggulan seperti kehendak bebas dan swa-determinasi. Gagasan Freud tentang ketaksadaran merupakan salah satu gagasan yang mulai mempertanyakan, atau mendestabilisasikan, pandangan ideal tentang diri tersebut. Bisa dikatakan bahwa, dalam permasalahan tersebut, Freud merupakan salah satu pendahulu postrukturalis. Namun, Freud berharap bahwa dengan mencutakan muatan ketaksadaran ke dalam kesadaran, dia dapat meminimalisir represi dan neurosis—dia membuat deklarasi terkenal tentang hubungan antara ketaksadaran dan kesadaran, yang menyatakan bahwa “Wo Es War, Soll Ich Werden”: Di mana ada Id, di situ ada sang Aku (Ego). Dengan perkataan lain, “id” (ketaksadaran) akan digantikan oleh “Aku”, oleh kesadaran dan identitas-diri. Sasaran Freud adalah untuk memperkuat Ego, sang “Aku”, identitas rasional/sadar, sehingga ego akan menjadi lebih kuat daripada ketaksadaran.
Bagi Lacan, proyek ini adalah mustahil. Ego tidak akan pernah bisa menggantikan ketaksadaran, atau mengenyahkannya, atau mengendalikannya, karena, bagi Lacan, Ego atau diri “Aku” hanyalah ilusi, suatu produk dari ketaksadaran itu sendiri. Dalam psikoanalisis Lacanian, ketaksadaran adalah ranah dari seluruh kehidupan. Sementara Freud tertarik menginvestigasi bagaimana anak yang suka membangkang ternyata secara polimorfosa (polymorphous) membentuk ketaksadaran dan superego serta menjadi orang dewasa yang beradab dan produktif (juga heteroseksual yang normal), Lacan malahan tertarik menginvestigasi bagaimana bayi mendapatkan ilusi yang kemudian disebut sebagai “diri”. Esainya yang membahas tentang Tahapan Cermin menggambarkan proses tersebut, serta menunjukkan bagaimana bayi membentuk ilusi akan ego, akan diri sadar yang utuh dan diidentifikasi dengan kata “Aku”.
Inti dari konsepsi tentang manusia, dalam pandangan Lacan, adalah gagasan bahwa ketaksadaran—yang mengatur seluruh faktor eksistensi manusia—terstruktur seperti bahasa. Dia melandaskan pandangan ini pada uraian Freud tentang dua mekanisme utama dari berbagai proses ketaksadaran, kondensasi dan pemindahan. Pada hakikatnya, kedua mekanisme tersebut adalah fenomena bahasa, di mana makna dikondensasikan (dalam metafora) atau dipindahkan (dalam metonimi). Lacan mencatat bahwa berbagai analisis mimpi Freud, dan kebanyakan analisisnya akan simbolisme ketaksadaran yang digunakan oleh para pasiennya, bergantung pada permainan kata-kata, asosiasi, dan lain sebagainya, yang terutama bersifat verbal. Lacan mengatakan bahwa isi dari ketaksadaran sepenuhnya sadar (aware) akan bahasa, dan secara khusus terdiri dari struktur bahasa.
Di sini Lacan mengikuti ide-ide yang telah disusun oleh Saussure, tetapi sedikit memodifikasikannya. Sementara Saussure membicarakan tentang relasi antara penanda dan petanda, yang membentuk tanda, dan menegaskan bahwa struktur bahasa adalah relasi negatif di antara tanda-tanda (sebuah tanda menjadi tanda itu sendiri karena ia bukanlah tanda yang lainnya), Lacan malah memfokuskan pada relasi di antara penanda-penanda itu sendiri. Elemen-elemen dalam ketaksadaran—keinginan, hasrat, citraan—kesemuanya membentuk penanda (dan biasanya hal itu diungkapkan dalam hubungan verbal), dan penanda-penanda ini membentuk suatu “rantai pertandaan”—satu penanda memiliki makna hanya karena ia bukanlah penanda lainnya. Bagi Lacan, tak ada petanda; tak ada sesuatu yang pada akhirnya dirujuk oleh penanda. Kalaupun ada, sehingga makna penanda khusus mana pun akan relatif stabil, maka hal itu akan menjadi (dalam pandangan Saussure) suatu relasi pertandaan antara penanda dan petanda, dan bahwa relasi tersebut akan menciptakan atau menjamin semacam makna. Lacan mengatakan bahwa relasi-relasi pertandaan tersebut tidaklah eksis (setidaknya, di ketaksadaran); malahan, yang ada hanyalah relasi negatif, relasi nilai, di mana satu penanda adalah penanda itu sendiri karena ia bukanlah penanda yang lain.
Menurut Lacan, dikarenakan kekurangan (lack) petanda-petanda ini, rantai penanda—x = y = z = b = q = 0 = % = | = s (dan seterusnya)—secara konstan menggelincir, bergeser dan bersirkulasi. Tak ada jangkar (anchor), tak ada sesuatu pun yang pada akhirnya memberikan makna atau stabilitas kepada seluruh sistem. Rantai pertandaan secara terus menerus berlangsung (seperti dalam pandangan Derrida); tak ada cara untuk menghentikan ketergelinciran rantai pertandaan tersebut—sehingga tidak bisa mengatakan “oh, x artinya adalah ini,” dan memastikan maknanya. Malahan, satu penanda hanya menggiring kepada penanda lainnya, dan tidak pernah kepada petanda. Mekanisme ini tak ubahnya seperti kamus—satu kata hanya akan menggiring ke lebih banyak lagi kata-kata, tetapi tidak pernah kepada sesuatu yang seharusnya direpresentasikan oleh kata tersebut.
Lacan berpendapat bahwa seperti inilah bentuk ketaksadaran—sebuah rantai (atau rantai berlipat ganda) pertandaan yang senantiasa bersirkulasi, tanpa jangkar—atau, menggunakan istilah Derrida, tanpa pusat. Inilah translasi linguistik Lacan atas gambaran Freud akan ketaksadaran sebagai wilayah chaotic yang secara terus menerus menggeser dorongan dan hasrat. Freud tertarik untuk membawa dorongan dan hasrat chaotic tersebut ke dalam kesadaran, sehingga dorongan dan hasrat chaotic tersebut bisa memiliki beberapa keteraturan (order) dan makna (meaning maupun sense), sehingga dorongan dan hasrat chaotic tersebut dapat dipahami dan dibuat dapat diatur. Di sisi lain, Lacan mengatakan bahwa proses menjadi orang dewasa atau “diri” (self), merupakan proses untuk mencoba menetapkan, menstabilkan, dan menghentikan rantai pertandaan sehingga makna stabil—termasuk makna “Aku”—menjadi dimungkinkan. Walau tentu saja Lacan mengatakan bahwa kemungkinan ini hanyalah ilusi, sebuah citraan diciptakan oleh suatu mispersepsi akan relasi antara tubuh dan diri.
Freud membicarakan tentang tiga tahapan perversitas polimorfosa pada bayi, yaitu oral, anal, dan phallic; inilah kompleks Oedipus dan kompleks Kastrasi yang mengakhiri perversitas polimorfosa dan menciptakan makhluk “dewasa”. Lacan menciptakan kategori berbeda untuk menjelaskan trajektori (lintasan) serupa, dari bayi ke “dewasa.” Dia membincangkan tentang tiga konsep—kebutuhan (need), permintaan (demand), dan hasrat (desire)—yang secara kasarnya berhubungan dengan tiga fase perkembangan, atau tiga ranah di mana manusia berkembang, yaitu, Yang Real, Imajiner, dan Simbolik. Wilayah Simbolik, yang ditandai dengan konsep hasrat, adalah sepadan dengan kedewasaan; atau, secara lebih spesifik bagi Lacan, wilayah Simbolik merupakan struktur bahasa itu sendiri, yang harus dimasuki manusia agar menjadi subjek yang berbicara, untuk mengatakan “Aku” dan memiliki “Aku” menandakan sesuatu yang tampak menjadi stabil.
Seperti juga Freud, bayi menurut Lacan memulai sebagai sesuatu yang tak dapat dipisahkan dari ibunya; tak ada perbedaan antara diri dan liyan (other), antara bayi dan ibu (setidaknya, dari perspektif bayi). Kenyataannya, bayi (baik menurut Freud maupun Lacan) merupakan sejenis gumpalan, tanpa pemahaman akan diri atau identitas yang terindividuasi, dan bahkan tanpa pemahaman akan tubuhnya sebagai satu kesatuan yang koheren. Gumpalan-bayi ini dikendalikan oleh kebutuhan; ia butuh makanan, ia butuh kenyamanan maupun keamanan, ia butuh untuk berubah, dan seterusnya. Kebutuhan-kebutuhan dapat dipuaskan, dan bisa terpuaskan oleh objek. Ketika bayi butuh makanan, ia mendapatkan payudara (atau botol); ketika ia butuh keamanan, ia mendapatkan pelukan. Bayi, dalam keadaan kebutuhan ini, tidak mengenali perbedaan apa pun antara dirinya sendiri dan objek yang berhadapan dengan kebutuhannya; ia tidak mengenali bahwa sebuah objek (seperti payudara) merupakan bagian dari oknum utuh lainnya (karena ia belum lagi memiliki konsep apa pun tentang “person utuh”). Tak ada perbedaan antara bayi dengan siapa pun atau apa pun yang lainnya; hanya ada kebutuhan dan benda yang memuaskan kebutuhan-kebutuhan tersebut.
Inilah keadaan “alami”, yang harus dipecahkan agar budaya terbentuk. Baik rumusan psikoanalisis Freud dan Lacan menyatakan bahwa bayi harus berpisah dari ibunya, membentuk identitas yang terpisah, agar bisa masuk ke dalam peradaban. Pemisahan tersebut menyertakan semacam kehilangan; ketika bayi mengetahui perbedaan antara dirinya dan ibunya, dan mulai menjadi makhluk yang terindividuasi, bayi kehilangan rasa penyatuan primal (dan keamanan) yang tadinya dia miliki. Inilah elemen ketragisan yang dibangun dalam teori psikoanalisis (baik Freudian maupun Lacanian): menjadi seorang “dewasa” yang beradab selalu menyertakan kehilangan besar akan penyatuan awal, suatu non-diferensiasi, suatu penggabungan dengan yang lainnya (khususnya ibu).
Menurut Lacan, bayi yang belum lagi membuat pemisahan ini—yang hanya memiliki satu-satunya kebutuhan yang dapat dipuaskan, dan yang tidak membuat perbedaan antara dirinya dengan objek yang memuaskan kebutuhannya—eksis di wilayah Yang Real. Yang Real adalah tempat (suatu tempat psikis, bukan tempat fisikal) yang disanalah terdapat penyatuan asal ini. Karena itulah, tak ada ketiadaan (absence) atau kehilangan atau kekurangan; Yang Real adalah seluruh kepenuhan dan kelengkapan, yang di dalamnya tak ada kebutuhan yang tidak dapat dipuaskan. Dan karena tak ada ketiadaan atau kehilangan atau kekurangan, tak ada pula bahasa dalam tahapan Yang Real.
Di sini Lacan mengikuti argumen yang dibuat Freud tentang gagasan akan kehilangan. Dalam suatu studi kasus yang muncul di buku Beyond Pleasure Principle, Freud membicarakan tentang anaknya, Anna Freud, yang berusia 18 bulan, yang memainkan sebuah permainan dengan kumparan yang diikat dengan benang. Anna melemparkan jauh kumparan tersebut, dan mengatakan “Fort,” yang merupakan bahasa Jerman untuk “hilang”. Anna kemudian menarik kembali kumparan tersebut, dan mengatakan “Da”, yang merupakan bahasa Jerman untuk “ketemu”. Freud berpendapat bahwa permainan ini merupakan suatu simbolik bagi sang anak, suatu cara untuk mengatasi kecemasannya akan ketiadaan ibunya. Ketika dia melemparkan kumparan tersebut dan mengatakan “Fort”, dia memainkan kembali pengalaman akan kehilangan objek yang dicintai; ketika dia menggulungnya dan berkata “Da”, dia mendapatkan kepuasan dari penemuan objek tersebut.
Lacan mengambil kasus ini dan memfokuskan, tentu saja, pada aspek bahasa yang ditampilkannya. Lacan mengatakan bahwa permainan fort/da, yang Freud katakan terjadi ketika anaknya berusia sekitar 18 bulan, adalah tentang masuknya anak ke dalam tahapan Simbolik, atau ke dalam struktur bahasa itu sendiri. Lacan mengatakan bahwa bahasa selalu tentang kehilangan atau ketiadaan; yang dibutuhkan hanyalah kata-kata ketika objek yang diinginkan menghilang. Jika dunia kita seluruh utuh, tanpa ketiadaan, maka kita tidak akan membutuhkan bahasa. (Jonathan Swift, dalam Gulliver’s Travels, mengemukakan versinya sendiri tentang hal ini: sebuah budaya yang tidak ada bahasa di dalamnya, dan orang-orang membawa seluruh objek yang mereka butuhkan sehari-hari di punggungnya).
Maka dalam wilayah Yang Real, menurut Lacan, tak ada bahasa di dalamnya, tak ada kehilangan dan ketiadan; yang ada hanya kepenuhan utuh, kebutuhan dan pemuasan kebutuhan. Karena itu Yang Real selalu melampaui bahasa, tak dapat direpresentasikan dalam bahasa (dan karenanya merupakan kehilangan yang tidak dapat diperoleh kembali ketika seseorang masuk ke dalam bahasa).
Yang Real, dan fase kebutuhan, berlangsung dari lahir hingga masa usia antara 6 dan 18 bulan, ketika gumpalan bayi mulai bisa membedakan antara tubuhnya dan segala sesuatu lainnya di dunia. Pada titik ini, bayi bergeser dari memiliki kebutuhan menjadi memiliki permintaan. Permintaan tidak dapat dipuaskan dengan objek-objek; permintaan itu selalu merupakan suatu permintaan akan pengakuan dari yang lain, akan cinta dari yang lain. Prosesnya berjalan sebagai berikut: bayi mulai menyadari bahwa dia terpisah dari yang lainnya, bahwa di luar dirinya ada benda-benda yang bukan bagian dari dirinya; maka ide tentang “liyan” diciptakan. (Bagaimanapun, perlu diingat, bahwa pada saat yang sama oposisi biner “diri/liyan” belum lagi eksis, dikarenakan bayi masih belum memiliki pemahaman koheren tentang “diri”). Kesadaran akan pemisahan, atau fakta akan keliyanan, menciptakan kecemasan, suatu perasaan kehilangan. Bayi kemudian memintakan penyatuan kembali, suatu gerak kembali kepada perasaan awal akan kepenuhan dan non-pemisahan yang pernah dirasakan di wilayah Yang Real. Tetapi hal tersebut mustahil, sekalinya bayi mengetahui (dan, harus diingat, kemengetahuan ini seluruhnya terjadi pada tingkatan tak sadar) bahwa ide tentang “liyan” sudah eksis. Permintaan bayi dipenuhi oleh liyan, untuk kembali kepada rasa penyatuan awal; bayi menginginkan ide tentang liyan itu hilang. Permintaan tersebut kemudian menjadi permintaan akan kepenuhan dan keutuhan, dari liyan yang akan menutupi kekurangan yang dialami bayi. Tetapi, tentu saja ini mustahil, karena kekurangan tersebut, atau ketiadaan, perasaan akan ke-“liyan”-an, adalah kondisi bagi bayi untuk menjadi diri/subjek, suatu makhluk budaya yang berfungsi.
Karena permintaan itu adalah pengakuan dari yang lain, hal tersebut tidak bisa benar-benar dipenuhi, hanya dikarenakan bayi berusia 6 hingga 18 tahun tidak dapat mengatakan apa yang diinginkannya. Sang bayi menangis, dan sang ibu memberikannya botol, atau payudara, atau dot, atau sesuatu, tetapi tak ada objek yang dapat memuaskan permintaan tersebut—permintaan itu adalah respons pada suatu tingkatan yang berbeda. Sang bayi tidak dapat mengenali cara bagaimana sang ibu merespons terhadap hal tersebut, dan mengenalinya, karena bayi belum lagi memiliki konsepsi tentang dirinya sebagai sesuatu—bayi hanya mengetahui bahwa ide tentang “liyan” itu eksis, dan bahwa ia terpisah dari “liyan”, tetapi ia belum lagi memiliki ide tentang siapa “diri”-nya sebenarnya.
Disinilah terjadinya tahapan cermin menurut Lacan. Pada usia antara 6 hingga 18 bulan, sang bayi atau anak belum lagi menguasai tubuhnya; ia tidak memiliki kendali atas gerak-geriknya sendiri, dan ia belum lagi memiliki pemahaman akan tubuhnya sebagai keutuhan. Malahan, sang bayi mengalami tubuhnya sebagai terfragmentasi, atau terpencar-pencar—hanya sebatas bagian apa pun dari tubuhnya yang berada dalam jangkauan pandangannya sejauh bayi dapat melihatnya, tetapi menghilang manakala sang bayi tidak dapat melihatnya. Sang bayi mungkin bisa melihat tangannya sendiri, tetapi ia tidak mengetahui bahwa tangan tersebut miliknya—tangan tersebut bisa saja milik siapa pun, atau bukan siapa pun. Bagaimana pun, anak pada tahapan ini dapat membayangkan dirinya sendiri sebagai keutuhan—karena ia telah melihat orang lain, dan mencerap mereka sebagai wujud utuh.
Lacan mengatakan bahwa pada beberapa titik di periode ini, sang bayi akan melihat dirinya sendiri di cermin. Ia akan melihat pada bayangannya, dan kemudian melihat kembali kepada oknum sebenarnya—ibunya, atau beberapa orang lainnya—kemudian melihat kembali pada citraan cermin. Sang anak bergerak “dari ketidakcukupan ke antisipasi” dalam tindakan ini; cermin, dan bergerak bolak-balik dari citraan cermin ke orang lain, memberinya perasaan bahwa ia, juga, merupakan wujud yang terintegrasi, seorang oknum utuh. Sang anak, masih tidak bisa menjadi utuh, dan karena itu terpisah dari yang lain (meskipun ia memiliki gagasan tentang keterpisahan ini), dan di tahapan cermin mulai mengantisipasi keutuhan. Bayi bergerak dari “tubuh yang terfragmentasi” ke “pandangan ortopedik dari totalitasnya”, ke pandangan akan dirinya sendiri sebagai utuh dan terintegrasi, yang merupakan “ortopedik” karena ia bertindak sebagai penopang, suatu instrumen yang memperbaiki, suatu bantuan untuk membantu sang anak yang mencapai status keutuhan.
Apa yang diantisipasi sang anak adalah pemahaman diri sebagai keutuhan yang sepenuhnya terpisah; sang anak melihat ia tampak seperti yang lainnya juga. Akhirnya, entitas ini yang dilihat sang anak di cermin, wujud utuh ini, akan menjadi “diri”, entitas yang ditandai oleh kata “Aku”. Bagaimanapun, apa yang sebenarnya terjadi adalah suatu identifikasi yang merupakan kesalah-pengenalan. Sang anak melihat sebuah citra di cermin; ia berpikir bahwa citra tersebut adalah “Aku”. Tetapi itu bukanlah sang anak; itu hanyalah sebuah citra. Tetapi oknum lain (biasanya ibu) ada di situ untuk memperkuat kesalah-pengenalan tersebut. Sang bayi melihat ke cermin, dan melihat kembali pada sang ibu, dan sang ibu berkata, “Ya, itu adalah engkau!” Sang ibu menjamin “realitas” keterhubungan antara sang anak dan citraannya, dan ide tentang tubuh utuh yang terintegrasi dari sang bayi yang dilihat dan diidentifikasi dengan citraannya.
Sang anak mengambil citra dalam cermin tersebut sebagai penyajian terakhir dari keseluruhan wujudnya, “diri”-nya. Proses ini, yaitu kesalah-pengenalan diri seseorang pada citra di cermin, menciptakan ego, sesuatu yang mengatakan “Aku”. Dalam pandangan Lacan, kesalah-pengenalan ini menciptakan “baju baja” dari sang subjek, suatu ilusi atau mispersepsi dari keutuhan, integrasi, dan totalitas yang mengelilingi dan melindungi tubuh yang terfragmentasi. Bagi Lacan, ego atau diri atau “I”dentity (Aku dan identitas), pada beberapa tingkatan selalu merupakan fantasi, suatu identifikasi dengan citra eksternal, dan bukan suatu perasaan internal akan identitas utuh yang terpisah.
Inilah mengapa Lacan menyebut fase permintaan, dan tahapan cermin, sebagai wilayah Imajiner. Ide tentang diri diciptakan melalui suatu identifikasi Imajiner dengan citra di cermin. Wilayah imajiner adalah tempat relasi teralienasi dari diri ke citraannya sendiri diciptakan dan dipertahankan. Imajiner adalah wilayah citraan-citraan, baik sadar maupun tak sadar. Ini merupakan pralinguistik, atau praoedipal, tetapi sangat berlandaskan pada persepsi visual, atau yang disebut Lacan sebagai pencitraan spekular.
Citra cermin atau oknum utuh yang salah dipersepsi oleh sang bayi sebagai dirinya, dikenal dalam terminologi psikoanalisis sebagai “ego ideal”, suatu diri utuh sempurna yang sama sekali tidak memiliki ketakcukupan. “Ego ideal” ini menjadi terinternalisasi; kita membentuk pemahaman kita akan “diri”, “I”dentity kita, dengan me(mis)identifikasi dengan ego ideal ini. Menurut Lacan, dengan melakukan hal ini, kita membayangkan suatu diri yang tidak memiliki kekurangan, tanpa gagasan ketiadaan atau ketidaklengkapan. Fiksi tentang diri yang stabil, utuh, dan menyatu yang kita lihat di cermin menjadi suatu kompensasi karena telah kehilangan ketunggalan (oneness) awal dengan tubuh sang ibu. Singkatnya, menurut Lacan, kita kehilangan kesatuan kita dengan tubuh ibu, the state of “nature”, untuk memasuki budaya, tetapi kita melindungi diri kita sendiri dari pengetahuan akan kehilangan tersebut dengan salah memahami (misperceive) diri kita sendiri sebagai tidak kekurangan apa pun—sebagai wujud utuh.
Lacan mengatakan bahwa konsep-diri sang anak (ego atau “I”dentity-nya) tidak akan pernah cocok dengan wujudnya sendiri. Imago-nya di cermin itu lebih kecil dan juga lebih stabil daripada sang anak, dan Imago tersebut selalu “liyan” daripada sang anak—sesuatu di luar dirinya. Sang anak, untuk selama masa hidupnya, akan salah mengenali dirinya sebagai “liyan”, sebagai citraan di cermin yang menyediakan suatu ilusi akan diri dan penguasaan (mastery).
Imajiner adalah tempat atau fase psikis di mana sang anak memproyeksikan ide-idenya tentang “diri” atas citraan cermin yang dilihatnya. Tahapan cermin menyemen dikotomi diri/liyan, yang sebelumnya hanya dikenali sang anak sebagai “liyan”, tetapi bukan “diri”. Bagi Lacan, identifikasi “diri” selalu dipandang dari sisi “liyan”. Hal ini tidaklah sama dengan oposisi biner, di mana “diri” = sesuatu yang bukan “liyan”, dan “liyan” = sesuatu yang bukan “diri”. Malahan, “diri” adalah “liyan”, dalam pandangan Lacan; ide tentang diri, yaitu wujud batin yang kita tandai dengan “Aku”, berlandaskan pada suatu citraan, suatu liyan. Konsep tentang diri mengandalkan pada misidentifikasi seseorang dengan citraan akan liyan ini.
Lacan menggunakan istilah “liyan” dalam beberapa cara, yang bahkan membuat istilah tersebut semakin sulit dipahami. Pertama, dan barangkali yang paling mudah, adalah dalam pemahaman akan diri/liyan, di mana “liyan” adalah “bukan-aku”; tetapi, sebagaimana telah kita lihat, “liyan” menjadi “aku” di tahapan cermin. Lacan juga menggunakan ide tentang Liyan, dengan “L” besar, untuk membedakan antara konsep tentang liyan dan liyan-liyan aktual. Citraan yang dilihat sang anak di cermin merupakan liyan, dan itu memberikan sang anak ide tentang Liyan sebagai suatu posibilitas struktural, sesuatu yang memungkinkan posibilitas struktural dari “Aku” atau diri. Dengan kata lain, sang anak menghadapi liyan-liyan aktual—citraannya sendiri, orang lain—dan memahami ide tentang “Keliyanan” (Otherness), sesuatu yang bukan dirinya sendiri. Menurut Lacan, gagasan tentang Keliyanan, dijumpai pada fase Imajiner (dan diasosiasikan denga permintaan), muncul sebelum pemahaman akan “diri”, yang dibangun di atas ide tentang Keliyanan.
Ketika sang anak telah memformulasikan beberapa ide tentang Keliyanan, dan tentang diri yang teridentifikasi dengan “liyan”-nya sendiri, citraan cerminnya sendiri, kemudian sang anak mulai memasuki wilayah Simbolik. Tatanan Simbolik dan Imajiner tersebut saling tumpang-tindih, tidak seperti fase-fase perkembangan Freud; tak ada tanda atau pembagian yang jelas antara kedua tatanan tersebut, dan dalam beberapa hal, keduanya selalu koeksis. Tatanan Simbolik merupakan struktur bahasa itu sendiri; kita harus memasukinya agar menjadi subjek yang berbicara, dan untuk menandai diri kita dengan “Aku”. Fondasi untuk memiliki “diri” berada pada proyeksi Imajiner akan diri atas citra spekular, liyan dalam cermin, dan memiliki “diri” terungkapkan dalam perkataan “Aku”, yang hanya bisa terjadi dalam tatanan Simbolik, itulah mengapa kedua tatanan tersebut koeksis.
Permainan fort/da yang dimainkan oleh Anna, dalam uraian Freud, menurut pandangan Lacan merupakan tanda masuknya anak ke dalam tahapan Simbolik, karena anak tersebut menggunakan bahasa untuk menegosiasi ide tentang ketiadaan dan ide tentang Keliyanan sebagai suatu posibilitas struktural atau kategori. Kumparan tersebut, menurut Lacan, berfungsi sebagai “objet petit a”, atau “objet petit autre”—suatu objek yang merupakan “liyan” kecil (liyan dengan l kecil). Ketika melemparkannya jauh, sang anak mengenali bahwa liyan bisa menghilang; ketika menariknya kembali, sang anak mengetahui bahwa liyan dapat kembali. Lacan yang menekankan pada gagasan “fort’, bersikukuh bahwa Anna kecil lebih menaruh perhatian terhadap ide kekurangan atau ketiadaan dari “objet petit autre”. Bagi sang anak, “liyan kecil” tersebut menggambarkan ihwal ide kekurangan, kehilangan, ketiadaan, yang menunjukkan pada sang anak bahwa ia tidaklah utuh dalam dan dari dirinya sendiri. “Liyan kecil” juga merupakan pintu gerbang ke tatanan Simbolik, ke bahasa, karena bahasa itu sendiri merupakan dasar pemikiran tentang ide kekurangan atau ketiadaan.
Lacan mengatakan bahwa ide-ide ini—tentang liyan dan Liyan, tentang kekurangan dan ketiadaan, tentang (mis)identifikasi diri dengan liyan/Liyan—seluruhnya berlangsung pada tingkatan individu, pada setiap anak, tetapi mereka membentuk struktur dasar dari tatanan Simbolik, dari bahasa, yang harus dimasuki sang anak untuk menjadi seorang dewasa anggota suatu kebudayaan. Maka keliyanan yang memegang peranan di permainan fort/da (juga oleh pembedaan yang dibuat pada Fase Cermin antara diri dan liyan, ibu dan anak) menjadi ide-ide kategorikal atau struktural. Jadi, di tataran Simbolik, terdapat struktur (prinsip penstrukturan) dari Keliyanan, dan suatu prinsip penstrukturan dari Kekurangan.
Liyan (dengan L besar) merupakan suatu posisi struktural di tatanan Simbolik. Inilah tempat yang didapatkan semua orang untuk melebur, untuk mengisarkan pemisahan antara “diri” dan “liyan”. Dalam pandangan Derrida, ini merupakan pusat dari sistem tersebut, dari Simbolik dan/atau dari bahasa itu sendiri. Dengan begitu, Liyan merupakan sesuatu yang setiap elemen terhubung kepadanya. Namun, sebagai pusat, Liyan (sekali lagi, bukan oknum atau posisi) tidak bisa menyatu dengan elemen-elemen tersebut. Tidak ada yang bisa menyatu di pusat dengan Liyan, sekalipun segala sesuatu di sistem (misalnya orang-orang) menginginkannya. Sehingga posisi Liyan menciptakan dan menopang kekurangan yang tiada akhir, yang Lacan sebut sebagai hasrat. Hasrat adalah hasrat menjadi Liyan. Menurut definisi, hasrat tidak akan pernah bisa dipenuhi: itu bukanlah hasrat untuk sejumlah objek (yang akan menjadi kebutuhan) atau hasrat akan cinta atau pengakuan oknum lainnya atas diri sendiri (yang akan menjadi permintaan), tetapi hasrat untuk menjadi pusat dari sistem, pusat dari Simbolik, pusat dari bahasa itu sendiri. Pusat tersebut memiliki banyak nama dalam teori Lacan. Itu adalah Liyan; itu juga disebut Phallus. Di sinilah Lacan sekali lagi meminjam dari konsep Oedipus asli Freud.
Tahapan cermin itu merupakan praoedipal. Diri dikonstruksikan dalam hubungan dengan liyan, dengan ide tentang Liyan, dan diri ingin menyatu dengan Liyan. Sebagaimana dalam dunia Freud, liyan yang paling penting dalam kehidupan anak adalah sang ibu; sehingga sang anak ingin menyatu dengan ibunya. Dalam pandangan Lacan, inilah permintaan sang anak bahwa keretakan diri/liyan bisa dihapuskan. Sang anak memutuskan bahwa ia bisa menyatu dengan sang ibu jika ia menjadi apa yang diinginkan sang ibu—dalam pandangan Lacan, sang anak mencoba untuk memenuhi hasrat sang ibu. Hasrat sang ibu (terbentuk oleh masuknya sang ibu ke dalam tahapan Simbolik, karena dia sudah lagi dewasa) adalah untuk tidak memiliki kekurangan, atau Kekurangan (atau menjadi Liyan, pusat, tempat di mana tak ada kekurangan). Hal ini sejalan dengan pandangan Freudian tentang kompleks Oedipus, di mana sang anak ingin menyatu bersama ibunya dengan melakukan hubungan seksual dengannya. Dalam model Freud, ide kekurangan tersebut direpresentasikan dengan kekurangan akan penis. Anak lelaki yang ingin tidur dengan ibunya ingin mengutuhkan kekurangannya dengan memenuhi ibunya dengan penisnya.
Dalam pandangan Freud, yang membuyarkan hasrat Oedipal ini, bagi sang anak lelaki sekalipun, adalah sang ayah, yang mengancam kastrasi. Sang ayah mengancam untuk membuat sang anak lelaki mengalami kekurangan atau ketiadaan penis, jika sang anak mencoba menggunakan penisnya untuk menyelesaikan kekurangan ibunya akan penis. Dalam pandangan Lacan, ancaman kastrasi adalah metafora bagi seluruh ide tentang Kekurangan sebagai suatu konsep struktural. Bagi Lacan, bukanlah ayah sebenarnya yang mengancam kastrasi. Malahan, karena ide tentang kekurangan, atau Kekurangan, itu esensial bagi konsep bahasa, karena konsep Kekurangan adalah bagian dari strukturasi dasar dari bahasa, maka sang ayah menjadi suatu fungsi dari struktur linguistik. Sang Ayah, ketimbang menjadi suatu oknum, malahan menjadi prinsip penstrukturan dari tatanan Simbolik.
Bagi Lacan, kemarahan ayah dalam teori Freud menjadi Nama-Sang-Ayah, atau Hukum-Sang-Ayah, atau terkadang hanya Hukum. Ketundukan kepada aturan bahasa itu sendiri—Hukum-Sang-Ayah—dibutuhkan untuk memasuki tatanan Simbolik. Untuk menjadi subjek yang berbicara, Anda harus tunduk, Anda harus mematuhi, hukum dan aturan bahasa. Lacan menunjukkan ide tentang struktur bahasa, dan aturannya, sebagai paternal secara khusus. Dia menyebut aturan bahasa tersebut sebagai Hukum-Sang-Ayah untuk menghubungkannya dengan peristiwa masuknya ke dalam Simbolik, struktur bahasa, dan kepada gagasan Freud tentang kompleks oedipus dan kastrasi.
Hukum-Sang-Ayah, atau Nama-Sang-Ayah, merupakan istilah lain bagi Liyan, bagi pusat dari sistem, sesuatu yang mengatur seluruh struktur—bentuknya dan bagaimana seluruh elemen dalam sistem tersebut dapat berpindah dan membentuk hubungan. Pusat ini disebut juga dengan Phallus, untuk menekankan dengan lebih kuat sifat dasar patriarkal dari tatanan Simbolik. Phallus, sebagai pusat, membatasi permainan elemen-elemen, dan memberikan stabilitas kepada seluruh struktur. Phallus menjangkarkan rantai pertandaan yang, dalam ketaksadaran, hanya terapung-apung dan dan tidak tetap, selalu menggelincir dan bergeser. Phallus tersebut menghentikan permainan, sehingga penanda dapat memiliki beberapa makna yang stabil. Ini dikarenakan Phallus adalah pusat dari tatanan Simbolik, dari bahasa, bahwa istilah “Aku” yang menandai ide tentang diri (dan, sebagai tambahan, mengapa kata-kata lainnya memiliki makna stabil).
Phallus tidaklah sama dengan penis. Penis adalah milik individu; Phallus milik struktur bahasa itu sendiri. Tak seorang pun memilikinya, sebagaimana tak seorang pun mengatur bahasa, malahan, Phallus adalah pusat. Phallus mengatur seluruh struktur, itulah yang setiap orang inginkan untuk menjadi (atau memiliki), tetapi tak seorang pun dapat memasukinya (tidak satu pun elemen dari sistem dapat mengambil tempat di pusat). Itulah yang disebut Lacan sebagai hasrat: hasrat, yang tidak pernah terpuaskan, karena ia tidak bisa dipuaskan, untuk menjadi pusat, untuk mengatur sistem tersebut.
Lacan mengatakan bahwa anak laki-laki dapat berpikir mereka mencoba menjadi Phallus, menduduki posiss pusat tersebut, karena mereka memiliki penis. Anak perempuan menemeui masa-masa sulit karena kesalahpemahaman (misperceive) diri mereka sendiri ketika mencoba menjadi Phallus karena mereka (sebagaimana dikatakan Freud) terbentuk oleh dan sebagai kekurangan, yaitu kekurangan akan penis, dan Phallus merupakan tempat yang di dalamnya tak ada kekurangan. Tetapi, menurut Lacan, setiap subjek dalam bahasa terbentuk oleh/sebagai kekurangan, atau Kekurangan. Satu-satunya alasan kita merangkul bahasa juga adalah dikarenakan kehilangan, atau kekurangan, akan penyatuan dengan tubuh maternal. Kenyataannya, adalah kebutuhan untuk menjadi bagian dari “budaya”, untuk menjadi subjek dalam bahasa, yang mendorong ketiadaan, kehilangan, kekurangan tersebut.
Perbedaan antara seks (sexes) tersebut sangat signifikan dalam teori Lacan, walaupun tidak dengan cara yang sama sebagaimana diuraikan dalam teori Freud. Inilah yang Lacan bicarakan dalam esai “The Agency of the Letter in the Unconscious” (lihat Ecrits). Dia menampilkan dua gambar dalam esai tersebut. Pertama adalah kata “Pohon” di atas gambar sebuah pohon—konsep dasar Saussurian, tentang petanda (konsep objek) atas penanda (kata). Kemudian dia menampilkan gambar lainnya, tentang dua gambar yang identik. Tetapi di atas tiap pintu tersebut terdapat kata yang berbeda: kata yang satu tertulis “Perempuan” dan yang lainnya tertulis “Laki-laki”. Lacan menjelaskannya sebagai berikut:
Sebuah kereta tiba di stasiun. Dua orang anak laki-laki dan anak perempuan, kakak beradik, duduk di kompartemen berhadap-hadapan di samping jendela yang melaluinya dapat terlihat bangunan di sepanjang stasiun yang dilaluinya ketika kereta perlahan berhenti. “Lihat,” seru anak lai-laki, “Kita berada di bagian Perempuan!” “Idiot, “ balas anak perempuan, “Tidakkah engkau dapat melihat bahwa kita berada di bagian laki-laki.”
Anekdot ini memperlihatkan bagaimana anak laki-laki dan perempuan tersebut memasuki tatanan Simbolik, struktur bahasa, secara berbeda. Dalam pandangan Lacan, setiap anak hanya dapat melihat penanda dari gender lainnya; setiap anak mengkonstruksi pandangan-dunianya, pemahamannya akan relasi antara penanda dan petanda dalam penamaan berbagai lokasi, sebagai konsekuensi menatap “liyan”. Sebagaimana dinyatakan Lacan, “Bagi anak-anak ini, Lelaki dan Perempuan untuk selanjutnya akan menjadi dua negeri yang kepadanya masing-masing jiwa mereka akan berusaha keras di sayap berbeda…” Tiap anak, tiap jenis kelamin, memiliki posisi khusus di dalam tatanan Simbolik; dari posisi tersebut, tiap jenis kelamin hanya akan dapat melihat (atau menandakan) keliyanan dari jenis kelamin lainnya. Anda bisa mengambil gambaran Lacan tentang dua pintu tersebut secara harfiah: itulah pintu-pintu, dengan pembedaan gendernya, yang melaluinya tiap anak harus lewati agar masuk ke dalam wilayah Simbolik.
*******
Jadi, ringkasnya, teori Lacan dimulai dengan ide tentang Yang Real; inilah penyatuan dengan tubuh ibu, yang merupakan state of nature, dan harus dipecahkan untuk membangun budaya. Sekalinya Anda bergerak keluar dari Yang Real, Anda tidak akan pernah kembali, tetapi Anda selalu menginginkannya. Inilah ide pertama tentang kehilangan atau kekurangan yang tidak dapat diperoleh kembali.
Berikutnya datanglah tahapan Cermin, yang membentuk Imajiner. Di sini Anda memahami ide tentang liyan dan mulai memahami Keliyanan sebagai prinsip atau konsep penstrukturan, dan kemudian mulai memformulasi gagasan tentang “diri”. “Diri” ini (sebagaimana terlihat di cermin) kenyataannya adalah liyan, tetapi Anda salah mengenalinya sebagai Anda, dan menyebutnya “diri”. (Atau, dalam non-teori bahasa, Anda melihat ke cermin dan mengatakan “hei, itulah aku.” Tetapi bukan—itu hanyalah citraan).
Pemahaman akan diri ini, dan relasinya dengan liyan dan Liyan, menyebabkan Anda mengambil posisi dalam tatanan Simbolik, dalam bahasa. Posisi semacam itu memungkinkan Anda berkata “Aku”, menjadi subjek yang berbicara. “Aku” (dan seluruh kata-kata lainnya) memiliki makna stabil karena mereka ditetapkan, atau dijangkarkan, oleh Liyan/Phallus/Nama-Sang-Ayah/Hukum, yang merupakan pusat dari Simbolik, pusat dari bahasa.
Dalam mengambil posisi di tataran Simbolik, Anda memasukinya melalui pintu keluar masuk yang ditandai secara gender; posisi bagi anak perempuan berbeda dari posisi untuk anak laki-laki. Anak laki-laki lebih dekat ke Phallus daripada anak perempuan, tetapi tak aa seorang yang telah menjadi atau memiliki phallus—itulah pusat. Posisi Anda di tataran Simbolik, seperti posisi seluruh elemen pertandaan lainnya (penanda-penanda) ditetapkan oleh Phallus; tak sama dengan ketaksadaran, rantai penanda-penanda di tataran Simbolik tidak bersirkulasi dan menggelincir tanpa henti karena Phallus membatasi permainan.
Secara paradoks—seolah-olah kesemuanya ini tidak cukup buruk—Phallus dan Yang Real benar-benar serupa. Keduanya merupakan tempat di mana benda-benda adalah utuh, lengkap, penuh, menyatu, di mana tak ada kekurangan, atau Kekurangan. Keduanya merupakan tempat yang tidak dapat diakses oleh manusia subjek-dalam-bahasa. Tapi keduanya pun saling bertentangan: Yang Real adalah maternal, ranah yang darinya kita muncul, sifat dasar yang kita harus berpisah darinya agar memiliki budaya; Phallus adalah ide tentag Sang Ayah, tatanan patriarkal dari budaya, ide ultima dari budaya, posisi yang mengatur segalanya di dunia.
*******
Lacan tidaklah menuliskan pemikirannya dalam bentuk tesis-tesis, karena dia sendiri lebih berupaya untuk memetakan bentuk dan isi ketaksadaran manusia. Pandangan tersebut berakar dari keyakinannya bahwa ketaksadaran itu “terstruktur seperti bahasa”, dan berbagai paparannya, seperti diuraikan di atas, mencoba mengejawantahkan aturan-aturan bahasa tersebut. Mengikuti konsepsinya tentang bahasa, hal itu berarti bahwa teks Lacan memainkan suatu ketergelinciran terus menerus serta penundaan makna yang dihasilkan oleh substitusi dan pemindahan yang tak terelakkan dari penanda-penanda. Karenanya, permukaan dari teks Lacan merupakan bagian dari produksi teoretisnya, dan tidak dapat direduksi menjadi tesis-tesis tanpa berakibat akan kehilangan hal yang esensial dari teorinya. Bagaimanapun, justru reduksi teori Lacan menjadi tesis-tesis merupakan suatu penilai esensial sains, yang terkadang diinginkan oleh Lacan sendiri.
(Tulisan ini merupakan saduran bebas dari beberapa sumber, sayangnya karena sudah lama sekali saya menyadur tulisan ini, saya lupa dari mana saja bahan yang saya pakai. Lacan adalah termasuk salah satu pemikir pasca-Freud yang saya sukai, selain Deleuze & Guattari yang radikal itu. Tulisan ini pun saya tambal sulam sebagai upaya untuk memahami pemikirannya.)
