Yang Lebur dalam Phantasmagoria: Melihat Bagaimana Hidup Kita Dibentuk dalam Televisi
“Hakikat televisi sama dengan sifat umum semua obat berbahaya. Acaranya yang terkendali, seragam dan diulang-ulang memungkinkannya menjadi alat pemaksa, pencuci otak dan manipulasi. Televisi menyurupi keadaan jiwa pemirsa yang merupakan persyaratan pertama yang perlu untuk dicuci”. (Terrence McKenna)
Benda itu memiliki banyak gelar seperti stupid box, layar kaca, kotak ajaib, pelipat dunia, bahkan ada pula gelar yang menyeramkan, yaitu tuan Iblis yang baik hati. Benda itu memang mampu menghipnotis manusia-manusia di sekitarnya, menyihir mereka untuk duduk yang manis dan memberikan responnya, entah itu gelak tawa, tangisan, ketakutan, keputusasaan atau amarah. Tapi semua gelar yang dinisbatkan kepada televisi—nama benda itu—memang tidak terlepas dari dampak sosial yang diakibatkannya dalam kehidupan manusia, baik itu positif maupun negatif. Dalam konteks media massa pengertian televisi lebih merupakan sistem komunikasi modern yang menjembatani kelompok kecil (elit) produser kebudayaan dengan kelompok besar (massa) konsumer kebudayaan. Sedang bagi para pemikir New Left dari Jerman seperti Theodor Adorno dan Herbert Marcuse, pengertian yang mereka berikan cenderung berkonotasi negatif, yaitu sebagai produk yang diperuntukkan bagi massa yang luas dan homogen yang dirancang oleh sekelompok elit/produser. Definisi ini menyiratkan penggambaran massa yang disamaratakan dan tak lebih hanya dari sekedar objek.
Bahkan sudah sejak tahun 1961 Lenin, seorang pemimpin Rusia saat itu, mengatakan bahwa media massa pada umumnya di masa Revolusi Bolshevik “…bukan hanya harus menjadi propagandis dan agitator kolektif, tapi juga harus menjadi pengorganisasi kolektif.” Lebih dari itu, televisi pun ternyata telah menjadi representasi bagaimana kita pada saat ini nyaris menghibur diri sampai mati, demikian menurut Neil Postman, seorang sosiolog televisi.
Dalam televisi, disadari atau tidak, sebenarnya sedang terjadi pembentukan sebuah bahasa. Bagi masyarakat yang kritis terhadap bahasa disekitarnya akan mempunyai kontrol kesadaran yang lebih besar dalam mamahami gejala-gejala sosial, karena melalui bahasa mereka bisa dibentuk menjadi subjek sosial tertentu. Tengoklah bagaimana televisi, iklan misalnya, telah membentuk masyarakat imajiner tertentu dengan seruannya “Belilah, belilah, belilah dan jadilah salah satu dari kami.” Televisi massa menawarkan barang-barang yang sekaligus suatu pintu gerbang bagi siapa pun untuk menjadi anggota suatu kelompok tertentu berdasarkan apa yang dibelinya.
Mary Talbot, seorang penulis Inggris, telah menganalis bagaimana bahasa bisa membentuk individu menjadi subjek sosial tertentu. Menurutnya, ketika kita membaca sebuah tulisan tertentu, kita terlibat dalam suatu interaksi. Secara relatif tulisan bersifat pasif dan merupakan proses satu arah bila dibandingkan dengan tatap muka atau percakapan melalui telepon, misalnya. Namun, sebenarnya tulisan bisa menimbulkan suatu proses timbal balik, yaitu antara penulis dan pembaca.
Ketika bahasa telah menjadi alat pengobjekan pihak tertentu dan masyarakat pun terjebak dalam pembentukan masyarakat imajiner, mereka seringkali terjebak dalam fungsi artifisial dan subtansial. Mereka tidak lagi membeli fungsi tetapi membeli makna. Mereka tak lagi memandang fungsi produk yang dibelinya tetapi justru pengakuan makna dari produk tersebut. Masyarakat selalu dirayu untuk selalu merasa butuh akan barang-barang yang ditawarkan dalam televisi agar berkesan lebih ‘modern’ dari kemarin karena sama dengan yang kemarin itu berarti kuno. Makna identitas bagi mereka sebagai orang yang selalu mengikuti gaya yang ngetrend adalah lebih utama daripada membeli fungsi (kebutuhan).
Louis Althusser, seorang filsuf Marxist strukturalis Prancis, pun tak ketinggalan menggambarkan kecenderungan dalam televisi yang acapkali memposisikan khalayaknya pada suatu citraan, suatu himbauan anonim yang melebar. Hal ini bisa kita lihat dalam iklan-iklan tertentu misalnya “Hai kamu!” atau “Anda yang berjiwa muda” di mana kata-kata tersebut ditujukan bagi siapapun tanpa batasan tertentu sehingga dihadapan televisi siapapun dapat berjiwa muda, siapapun dapat menonton acara apapun, siapapun dapat kehilangan tabunya, dan entah apa lagi.
Dari sini kita bisa melihat begitu besarnya kekuasaan dan kekuatan dari televisi, hingga mampu menyeret masyarakat ke dalam suatu perubahan yang sangat cepat, ‘sesuatu’ yang datang mendekat dan pergi menjauh lalu menghilang dalam kecepatan yang tinggi, atau disebut juga sebagai phantasmagoria. Paul Virilio, seorang pemikir Prancis menyebutnya dengan speed, dimana kehidupan kita dari hari ke hari semakin cepat, hingga pada satu titik kecepatan tersebut telah menguasai ruang. Misalnya untuk mengetahui apa yang terjadi di Amerika, kita dapat dengan cepat mengetahuinya melalui CNN, seakan-akan pergi ke Amerika dalam waktu sekejapan mata saja atau menyaksikan peristiwa akbar Piala Dunia France ’98, dan masih banyak lagi.
Tapi televisi pun memiliki kecenderungan untuk mengekspos apa-apa yang menurutnya perlu diketahui oleh masyarakat yang memang haus informasi (baca: sensasi). Adalah televisi yang menyerbu segenap indera pemirsanya dengan sensasi-sensasi di mana setiap sajiannya (nyaris) berupa hiburan semata. Di dalamnya kita bisa mengetahui habis-habisan rahasia percintaan seorang artis, ukuran tubuhnya, skandal para politisi dan entah apa lagi. Bahkan bagaimana sebuah gossip ber-headline “Istri artis X melecehkan suami artis Y” dapat menjadi berita besar. Sebenarnya kedua orang yang sedang berseteru tersebut bukanlah tokoh yang dikenal oleh masyarakat karena profesinya, mereka dapat menjadi sumber berita utama hanyalah karena mereka kebetulan menikah dengan seorang artis, itu saja. Adapun berita-berita sejenis itu yang disuguhkan kepada para pemirsa sedikitpun tidak membuat mereka menjadi pandai dan arif. Tidak ada kepentingannya bagi kehidupan seorang manusia untuk mengetahui ukuran tubuh seorang artis atau kisah percintaannya. Tujuan gossip-gossip tersebut hanyalah untuk sebuah sensasi, tak lebih.
Di sisi lain, topik pemberitaan seputar peristiwa sosial politik pun hanya menyerbu masyarakat dengan pemberitaan-pemberitaan yang tak kalah sensasionalnya. Masyarakat pun berpacu dalam keinginantahuannya mengenai berbagai skandal politik, korupsi, kolusi, juga bencana alam, kriminalitas, kerusuhan dan banyak lagi. Kesemua berita yang diterima masyarakat tersebut tak ubahnya banjir Nabi Nuh membanjiri benak mereka malah membuat mereka hanya menjadi pengumpul berita (sensasi) dan larut di dalamnya. Hal ini belum lagi di perparah dengan kecenderungan masyarakat untuk mencari berita-berita yang sensasional di internet, mengumpulkannya, menganalisinya sebagai sebuah realita tanpa peduli dengan validitas berita tersebut.
Hal inilah yang akhirnya menjadikan informasi-informasi tersebut menjadi tidak berharga. Sebuah epilepsi atau piknolepsi, sindir Virilio, dimana hidup kita terkondisikan sedemikian rupa hingga dipenuhi dengan ‘kejutan-kejutan’, terbenam dalam banjir informasi, gosip atau berita. Kesemuanya itu berlalu begitu saja dalam diri kita dengan intensitas yang tinggi. Maka masyarakat pun tergiring ke dalam budaya kesesaatan atau instant.
Seperti perjalanan sebuah titik menuju pusat sebuah roda yang berputar dengan sangat cepat, demikianlah gambaran kondisi manusia sekarang. Semakin dekat titik tersebut ke pusat rodanya, semakin singkat waktu yang diperlukan oleh titik tersebut untuk satu putarannya. Tetapi ketika titik tersebut telah berada di pusat perputaran roda, maka waktu yang dibutuhkan untuk satu putaran pun tak lagi berbilang detik lamanya. Belum habis kita menelaah sebuah informasi, gaya, atau acara, ia telah diserang kembali oleh gelombang berikutnya. Dan susahnya, citra kemajuan pun semakin identik dengan seberapa cepatnya seseorang mengikuti perubahan tersebut.
Apabila Michel Focault mengatakan bahwa kekuasaan itu bergandengan dengan pengetahuan atau sebaliknya, maka menurut Virilio kekuasaan itu bergandengan dengan kecepatan. Di Indonesia dapat kita lihat kampanye Golkar yang “memiliki” kecepatan sangat berpengaruh terhadap peluang mereka untuk menang.
Tidak hanya itu saja, kita pun dapat melihat beberapa perubahan lain yang berkaitan dengan phantasmagoria tersebut. Yaitu perubahan dari eksplosi dan ekspansi menjadi implosi (ledakan ke dalam) dan inersia. Pada saat ini seakan segala sesuatu itu datang kepada diri kita. Menghujani kita dengan informasi, fashion, gossip, skandal yang kemudian dijejalkan ke dalam benak kita dari hari ke hari. Perubahan pun terjadi pula pada energi potensial yang berubah menjadi energi sinematik, dari teritorial menjadi de-teritorial, dimana seorang pemirsa ketika berada di hadapan televisi merasakan hilangnya garis batas negara hanya dalam satu gerakan jari saja, hanya dengan remote control. Sebuah zapping, istilah yang digunakan untuk mereka yang senang berpindah-pindah acara televisi yang lebih menarik (sensasional), yang membuat seorang pemirsa dapat berpindah-pindah dunia dalam sekejap mata dengan remote control ditangannya. Hanya karena kebosanan pada sebuah acara mulai terasa, pemirsa akan mulai membuka jalan menuju ‘dunia’ lain yang dia anggap lebih ‘menghibur’.
Dalam kehidupan sosial, kecepatan tersebut mampu menghanyutkan manusia dalam ekstasi pergantian produk mode dan gaya di dalam diskursus fashion yaitu ekstasi komoditi. Kesemua gejala ini pada ujungnya dapat menggiring manusia pada budaya ‘kesesaatan’ konsumsi yang menjerat mereka dalam satu siklus ‘perubahan abadi’-kairos (ini-lalu-ini-lalu-ini-lalu), sehingga mereka tidak mampu lagi menemukan siklus kedalaman chronos (spiritual, ideologi) dalam hidupnya. Apa lagi untuk memikirkan maksud penciptaan dirinya di atas dunia ini dan kemudian “bertemu diri”. Kepraktisan menjadi sebuah nilai tawar baru secara ekonomis, sementara kontemplasi adalah sebuah kesulitan hidup yang harus dihindari. Adakah hanya sebuah kepraktisan saja yang dapat membahagiakan kehidupan manusia di abad ini? Adakah perenungan tentang maksud penciptaan kita di muka bumi sudah tidak mendapatkan tempatnya lagi di masa ini?. Mungkin, jawabannya dapat kita temukan dalam ‘diri’ kita sendiri.
(Sebuah tulisan lama, bisa dibilang salah satu tulisan saya di fase awal belajar menulis. Sering tersenyum membacanya, melihat kenaifan dan emosi yang mengelegak. Tapi biarlah, saya tetap ingin mencoba menghargainya sebagai proses, dan kenangan masa-masa ketika hidup saya belum begitu ruwet dengan campur tangan banyak hal dan orang lain yang berebut mengatur ini itu.)
