Aku mengamati Arthur memanggil seorang pria bercelana jins, yang dengan menyebalkan datang lalu mengangkat lemari itu seolah lemari itu terbuat dari kertas—lalu aku membuntuti mereka masuk ke dalam toko yang hangat, dan mulai melihat-lihat ke sekeliling lagi padahal baru sepuluh menit yang lalu aku meninggalkan tempat itu. Aku betul-betul menyukai tempat ini. Ke mana pun kau menoleh, selalu ada sesuatu yang kau inginkan. Misalnya kursi berukir yang indah itu, dan penutup sofa dari beludru dengan lukisan tangan…Dan lihatlah jam besar menakjubkan itu! Setiap hari selalu ada barang baru.
Bukan berarti aku pergi ke sini setiap hari.
Aku hanya…tahu, kan. Aku hanya menebak saja.
“Anda telah membeli barang yang sangat bagus,” kata Arthur sambil menunjuk lemari koktail itu. “Anda jelas pintar menilai.” Dia tersenyum padaku, dan menulis sesuatu pada kertas.
“Saya tak begitu yakin,” jawabku merendah.
Walaupun sebetulnya aku memang pintar menilai. Dulu aku selalu nonton Antiques Road Show bersama Mum di setiap Minggu, jadi mestinya ada juga ilmu yang kuserap.
“Itu bagus juga,” ujarku sok pintar sambil mengangguk ke arah cermin besar berbingkai mengkilap.
“Ah, betul,” jawab Arthur. “Modern, tentu saja…”
Tentu saja aku tahu itu benda modern. Maksudku, benda itu bagus meskipun modern.
“Apakah Anda tertarik pada perlengkapan bar tahun 1930-an untuk melengkapi lemari itu?” Arthur menengadah. “Gelas tinggi…pitcher…Kami memiliki perlengkapan yang indah.”
“Oooh ya!” Aku tersenyum padanya. “Tentu saja!”
Gelas tinggi tahun 1930-an! Maksudku, siapa yang mau minum dari gelas modern yang buruk kalau bisa menggunakan gelas antik?
Arthur membuka buku besarnya yang bersampul kulit dengan tulisan “Kolektor”, dan aku merasakan sengatan rasa bangga. Aku seorang kolektor! Aku orang dewasa!
“Miss Rebecca Bloomwood…Perlengkapan bar tahun 1930-an. Saya punya nomor telepon Anda, jadi kalau kami dapat barangnya, saya akan menelepon.” Arthur memeriksa halaman bukunya. “Di sini saya lihat Anda juga tertarik pada jambangan kaca Venesia?”
“Oh! Mm…ya.”
Aku sudah lupa soal mengoleksi jambangan Venesia itu. Bahkan aku tidak yakin di mana jambangan pertamaku kusimpan.
“Juga jam rantai abad kesembilan belas…”jarinya menelusuri daftar. “Cetakan gaya Shaker…bantal jarum…” Dia menengadah. “Apakah Anda masih berminat pada benda-benda ini?”
“Yah…” Aku berdeham. “Sejujurnya, saya sudah tidak terlalu berminat pada jam rantai. Juga benda gaya Shaker itu.”
“Begitu. Dan sendok selai zaman Victoria?”
Sendok selai? Mengapa aku menginginkan setumpuk sendok selai tua?
“Anda tahu,” ujarku serius. “Saya rasa mulai sekarang saya fokus pada perlengkapan bar tahun 1930-an saja. Membangun koleksi yang betul-betul bagus.”
“Saya rasa Anda sangat bijaksana.” Dia melempar senyum padaku dan mulai mencoret-coret daftarnya. “Sampai berjumpa lagi.”
Ketika aku keluar dari toko menuju jalan, cuaca sangat dingin dan serpih-serpih salju melayang turun dari langit. Tapi tubuhku memancarkan kilau puas. Maksudku, itu tadi investasi hebat, kan? Lemari koktail asli tahun 1930-an—dan tak lama lagi aku akan memiliki koleksi perlengkapan bar yang serasi! Aku puas sekali.
Nah, apa tadi tujuanku keluar rumah?
Oh, ya. Dua cappucino.1

Sekelumit adegan dari chicklit karya Sophie Kinsella di atas memang menarik sebab menggambarkan dorongan hasrat belanja secara konyol. Awalnya tokoh Rebecca Bloomwood hanya ingin membeli dua cappucino, tetapi dalam perjalanan dia malah membeli perlengkapan bar tahun 1930-an. Sekalipun konyol, kisah tersebut memperlihatkan kuatnya bujuk rayu objek desain terhadap manusia, juga rapuhnya manusia menghadapi hasratnya yang menggeliat karena bujuk rayu visual objek desain. Bahkan, di dalam cerita tersebut terlihat bagaimana Rebecca bisa merasa bangga karena namanya dimasukkan kedalam buku daftar kolektor. Setidaknya terlihat bagaimana di masa ini sebuah objek disesaki oleh berbagai citraan, yang bisa jadi tidak memiliki signifikansi apa pun dengan kebutuhan dasar manusia, kecuali bagi hasratnya. Setiap objek (baca: desain) harus dimuati citraan tertentu, dan akan lebih menjual apabila citraan yang disisipkan dapat membuat pemiliknya menjadi merasa berarti dengan kepemilikan objek tersebut. Visual bukanlah semata penampakan. Visual selalu mengandung hasrat sekaligus ‘mendesain’ hasrat pada diri individu (subjek) yang menatap objek tersebut. Subjek menginternalisasi hasrat dirinya dalam objek, dan sebaliknya, objek pun menginternalisasikan citraan tertentu yang dihasrati pada diri subjek.

Hasrat dan Visual

Visual merupakan fenomena yang cukup dominan dalam kehidupan masyarakat abad ke-21 ini. Mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur, manusia abad 21 mengalami beragam implosi visual hasil rekayasa teknologi. Bahkan, disadari maupun tidak, manusia seringkali terdorong untuk memilih objek berdasarkan suatu kualitas yang dia sukai dari objek tersebut, yang dirasakan dapat memberikan manfaat lebih, dan seringkali itu hanya berlabuh pada kualitas visualnya. Aspek visual memiliki daya tarik tertentu—tak jarang menipu—melalui penampilan indah atau cantik, dan pada umumnya adalah aspek visual yang menjadi objek hasrat manusia. Umumnya, manusia abad 21 memiliki kecenderungan lebih untuk menilai segala sesuatu berdasarkan apa yang dapat dilihatnya, dan jarang sekali sesuatu yang tidak terlihat dimasukkan ke dalam penilaiannya. Singkatnya, kualitas unsur visual akan tetap menjadi tolok ukur penilaian masyarakat atas kualitas sebuah benda.

Untuk meningkatkan kualitas visual sebuah benda mutlak diperlukan sentuhan desain. Benda yang diberi sentuhan desain (yang di antaranya melalui proses manufaktur industri) akan memiliki citraan yang berbeda dari benda yang hanya diberi sentuhan kriya (craft). Pada masa pramodern, benda-benda lebih banyak dibuat dengan memanfaatkan sentuhan kriya. Selain itu, pengklasifikasian kelas dan strata sosial melalui objek atau benda memang cukup menyolok. Kursi untuk seorang raja akan sangat berbeda, baik dari bentuk hingga bahan, dengan kursi untuk seorang rakyat jelata. Bahkan, dalam cara berpakaian pun, masyarakat pramodern tersegmentasi dengan sangat jelas. Sedangkan pada masa sekarang, kualitas-kualitas visual tersebut dibuat mengambang dan bisa dimiliki oleh siapapun. Umumnya, yang menjadi faktor pembeda adalah merek dagangnya saja. Kini, siapapun bisa menghasrati dan memiliki sebuah benda dengan kualitas visual tertentu asal dia mampu membelinya. Apabila objek desain tersebut harganya terlalu mahal, maka—umumnya di negara dunia ketiga—mereka bisa membeli barang tiruan (aspal alias asli tapi palsu), selundupan, atau barang bekasnya. Dengan barang “aspal” tersebut mereka bisa bergaya melalui citraan seolah-olah asli sebagaimana yang disisipkan dalam barang aslinya.

Meskipun objek-objek desain saat ini tidak lagi terbagi secara jelas dalam bentuk strata sosial, namun, objek-objek tersebut secara visual memiliki struktur arkeologis. Misalnya, ketika melihat sebuah film berlatar tahun 80-an, penonton akan segera menangkap nuansanya melalui objek-objek desain di dalamnya. Ada sesuatu dari unsur visual objek-objek tersebut yang sudah dilekatkan sebagai ciri tahun 80-an. Akan tetapi, di masa reproduksi seperti sekarang ini, visualisasi tidak selalu bergerak secara linier. Sebuah objek yang mengandung unsur-unsur visual dari masa lampau bisa kembali digemari melalui strategi retrospektif (melihat kembali ke masa lalu). Hal ini seringkali dinyatakan dengan slogan-slogan seperti “Back to 60’s” atau “Back to 80’s”. Persoalan tersebut semakin kompleks ketika berbagai unsur visual tersebut dipahami sebagai citraan-citraan yang mampu memberikan ciri atau identitas tertentu. Maka ketika citraan tersebut bertemu dan berpadu dengan hasrat, citraan itu pun dijadikan media representasi, tak jarang menjadi representasi yang seakan-akan identik dengan diri pemakainya.

Unsur-unsur visual itu diindrai oleh mata. Namun, pengindraan mata tersebut juga merangsang suatu persepsi, penafsiran, hingga hasrat, yang kesemuanya itu bersifat unik pada setiap individu—bergantung pada latar belakang yang membentuk individu tersebut. Objek karnal (lihat tulisan Homo Desiderare dalam buku ini) atau objek desain yang material dapat merangsang pertumbuhan hasrat karnal dalam persentuhannya dengan tubuh manusia. Misalnya, makanan yang lezat akan merangsang pertumbuhan hasrat karnal terhadap makanan tersebut ketika bersentuhan dengan lidah manusia. Atau, kasur yang empuk akan merangsang pertumbuhan hasrat karnal untuk tidur nyenyak dan nyaman ketika bersentuhan dengan tubuh manusia. Begitu pula halnya dengan unsur-unsur visual. Perpaduan dari berbagai unsur visual, yang kemudian diposisikan menjadi citraan tertentu, dapat merangsang hasrat karnal akan visualisasi tersebut ketika ditatap oleh mata sang subjek. Permainan perangsangan hasrat karnal visual ini bisa dilakukan dengan berbagai strategi, mulai dari siapa individu yang memperkenalkannya, bagaimana media gencar mempromosikannya, aspek erogen dari tubuh bagian mana yang dimanfaatkan, dan lain sebagainya. Seringkali kesemuanya itu disuguhkan sebagai sesuatu yang sejati, tak ubahnya seperti fatamorgana. Sulit bagi manusia untuk berjarak dari cetakan citraan dalam kehidupan sosialnya. Bahkan masyarakat kontemporer pun tampak seperti pesta pakaian fancy dengan identitas yang didesain, dicoba-coba, dikenakan untuk malam hari dan kemudian dijual pada keesokan harinya.

Citraan dan Kebudayaan Kontemporer

Dalam nuansa kebudayaan kontemporer seperti sekarang ini, persoalan hasrat dan citraan sudah semakin kental di setiap sendi kehidupan manusia. Nuansa kebudayaan kontemporer yang demikian itu sudah menjadi konsekuensi dari adanya pergerakan peradaban manusia. Konsekuensi ini yang kemudian menggiring kebudayaan kontemporer untuk memiliki nuansa yang berbeda dengan pola atau bentuk kebudayaan tradisi sebelumnya. Dalam kebudayaan kontemporer, manusia seakan tidak lelah mencari citraan yang dapat merepresentasikan dirinya, karakternya, bahkan egonya. Hasrat atas pembentukan citraan juga tidak lepas dari upaya pemaknaan diri itu sendiri. Citraan disini dapat dipahami sebagai tanda yang memiliki unsur penanda dan petanda. Ilustrasi antara manusia dengan citraannya dapat diibaratkan seperti ketika seseorang bercermin. Seseorang (penanda) akan melihat bayangan dirinya (petanda) di cermin. Penanda ini akan terus mencari citraan yang tepat yang dapat mewakili dirinya. Karena itu, manusia sebagai penanda akan mencari-cari petanda (citraan) yang sesuai dengan yang dihasratkannya (lihat tulisan Lacan dan Hasrat Cermin Cala Ibi dalam buku ini). Singkatnya, persoalan citraan ini tidak akan lepas dari hasrat seseorang untuk eksis dan tampil dalam kerumunan orang banyak. Disamping itu, citraan pun dapat dijadikan sebagai pembeda antara seseorang dengan yang lainnya, misalnya status sosial dan gaya hidup. Barangkali contoh yang paling jelas dari orang-orang yang citraan diri psikisnya berbeda dari citraan kebanyakan orang lainnya adalah mereka yang mengidap anorexia nervosa (lihat tulisan Hasrat Tubuh, Kosmetik, Kecantikan dalam buku ini).

Secara umum, kita dapat membedakan tiga jenis citraan diri dalam konteks ini, yaitu:

Ketiga bentuk citraan diri tersebut terjadi melalui proses pencerminan, baik itu kepada diri sendiri, kepada hasrat, atau kepada orang lain. Namun, pada masa ini, hasrat untuk mewujudkan suatu citraan sebagian besar dipicu oleh nafas gaya hidup, atau dengan kata lain, sesuai perubahan trend dan mode. Trend atau mode inilah yang dijadikan patokan sehingga seseorang menumbuhkan hasrat untuk memperoleh citraan tertentu dalam kehidupannya. Perangkat yang dipergunakan dalam mengikuti trend atau mode ini beragam bentuknya, mulai dari kebutuhan primer sampai kebutuhan tertier, seperti busana (fashion), telepon genggam, mobil, dan arsitektur. Perangkat-perangkat ini sebetulnya merupakan kebutuhan untuk menunjang aktivitas hidup. Namun, seringkali perangkat tersebut seakan berubah fungsi dikarenakan upaya untuk memanipulasi nilai-nilai yang disisipkan dibalik penampilan fisiknya. Seperti misalnya busana, yang pada hakikatnya merupakan penunjang kebutuhan manusia untuk menutup aurat. Ketika busana tersebut bersentuhan dengan hasrat dan citraan, maka busana tersebut tidak hanya berfungsi sebatas penutup aurat lagi dan sudah menjadi komoditas gaya hidup yang merepresentasikan nilai-nilai yang dianut oleh pemakai busana tadi. Disinilah persoalan visual kemudian muncul dan mengiringi isu kebudayaan kontemporer mengenai hasrat visual.

Sebagaimana diuraikan Heidegger, manusia dalam kehidupannya seperti mendapati dirinya terlempar dalam cetakan tertentu dan faktisitas karena tidak tahu berasal dari mana dan hendak kemana. Keterlemparan ini membuat manusia meniru pola yang tersedia dari lingkungan untuk dirinya guna belajar “cara hidup normal”. Namun, peniruan tersebut lebih sering menggiring mereka untuk menjadi sangat umum, seperti kebanyakan orang. Di sinilah muncul lubang dalam diri manusia untuk mencari diri otentik. Lubang kosong akan diri otentik ini sering dijadikan peluang yang potensial untuk permainan citraan, dan, dalam banyak hal, desain memanfaatkannya melalui unsur-unsur visual. Manusia ditawari citraan-citraan tertentu yang diideologikan sebagai citraan diri sejati. Misalnya, orang yang sukses secara karir terkondisikan untuk merepresentasikan dirinya dengan menggunakan citraan dari mobil BMW. Seorang remaja bukanlah “anak gaul” apabila tidak berpakaian dengan citraan tertentu sebagaimana umumnya remaja “gaul”. Apabila ditelusuri, salah satu akar dari persoalan ini adalah upaya manusia untuk membuat berbagai langgam visual dan citraan tertentu, yang kemudian dalam sistem kapitalisme dijadikan komoditas gaya hidup masyarakat.

Proses pembentukan langgam visual dalam masyarakat tersebut bukan hanya terwujud berdasarkan batasan-batasan pengalaman. Melalui proses pendidikan seni dan desain, dengan beragam jenjang dan program yang ditawarkan beberapa institusi saat ini, masyarakat dapat memperoleh wawasan, pemahaman mengenai ihwal konstruksi dan manipulasi nilai visual sebuah benda. Namun pada umumnya, dalam pendidikan tinggi, aspek citraan yang sebetulnya memiliki kaitan erat dengan disiplin ilmu desain semacam ini seakan “dicabut” dan dihilangkan dari pembicaraan dan proses pengajaran. Para mahasiswa lebih sering diperkenalkan bahwa desain adalah sebuah upaya pemecahan masalah semata. Bahwa segenap solusi desain itu diarahkan kepada peningkatan kualitas kehidupan manusia melalui pendekatan yang terukur, seperti antropometris, ergonomis, dan ekonomis. Membicarakan desain dengan memasukkan unsur-unsur kritik sosiologis dan budaya seperti fenomena konsumerisme dan pemujaan citraan seakan dianggap menelan ludah sendiri, yaitu, mengajari bagaimana mendesain hasrat manusia melalui unsur-unsur visual sekaligus mengajari untuk bersikap kritis terhadap perbuatan tersebut.

Apakah Desain itu?

Desain memiliki definisi dan pengertian yang sangat beragam. Dalam lingkungan akademik, beberapa disiplin ilmu acapkali mempergunakan istilah desain untuk mewakili misi/visi, metodologi, proses, dan kemungkinan pengembangan produk akhirnya, seperti bidang Seni Rupa, Teknik Arsitektur, Teknik Sipil, Teknik Mesin, Teknik Informatika, Teknik Elektro, Teknik Penerbangan dan lain sebagainya. Namun, pada intinya, desain dipahami sebagai upaya manusia untuk memperbaiki kualitas hidupnya untuk tujuan tertentu, melalui proses tertentu pula, dan berdasarkan beberapa pertimbangan, seperti budaya, ekonomi, politik, sosial, dan beberapa hal terkait lainnya. Penilaian kualitas desain itu sendiri umumnya berdasarkan fungsi yang dapat diberikan kepada pemakainya, diantaranya fungsi estetik dan fungsi praktis (sesuai dengan peruntukkan bendanya). Desain juga merupakan suatu materialisasi nilai-nilai melalui unsur-unsur visual yang bisa berbasiskan metode ilmiah, intuisi atau keterampilan semata, dan bisa berupa dua maupun tiga dimensi. Adapun nilai-nilai yang digunakannya diambil dari suatu budaya dan kebiasaan sehari-hari (habit). Luz María Jiménez Narváez berpendapat bahwa desain menghasilkan atau memproduksi kebudayaan material dan nonmaterial.2 Dari sini dapat dipahami bahwa desain memiliki peranan dalam menentukan arah perkembangan kebudayaan, yang pada akhirnya mengarah kepada perkembangan dan kemajuan peradaban manusia. Hal senada diutarakan oleh Sir Winston Churchill: “First we shape our buildings, then they shape us.” Pemikiran ini mengenai sebuah karya arsitektur –yang dipahami sebagai cikal bakal kelahiran ilmu desain– dibentuk oleh ilmu, imajinasi, bahkan hasrat seorang arsitek; namun kemudian karya tersebut akan memiliki andil dalam membentuk masyarakat. Simpulan yang dapat dipahami dari beberapa pemikiran diatas bahwa desain dan perkembangannya, terlepas dari disiplin ilmu yang melatarbelakanginya, dapat sejalan dengan perkembangan peradaban manusia, bahkan sangat potensial untuk memiliki andil yang cukup signifikan di dalamnya. Objek desain dapat menstimulus hasrat manusia, begitu juga sebaliknya, hasrat pun dapat diindividualisasikan dalam objek desain.

Berbeda dengan pemahaman para akademisi di atas, desain dalam pandangan sebagian masyarakat merupakan upaya peningkatan kualitas suatu benda sehingga dapat memiliki fungsi yang lebih baik di samping tampilan yang baik pula. Sebagian lagi berpendapat bahwa desain itu tidak lebih dari sekadar “pemolesan” suatu benda agar terlihat lebih cantik. Singkat kata, visual memang menjadi kata kunci bagi masyarakat dalam memahami desain serta menjadikannya sebagai salah satu tolok ukur dalam menilai kualitas desain. Pemahaman ini tidak sepenuhnya keliru. Karena pada kenyataannya, unsur visual ini lebih mudah ditangkap oleh indera penglihatan dan mampu memberikan nilai kepada sebuah benda dengan muatan yang lebih besar dan lebih banyak daripada sekadar tolok ukur kualitas desain secara praktis dan fungsional. Masyarakat kerap mempergunakan unsur visual sebagai nilai-nilai representatif dalam kehidupan sehari-hari, juga representasi gaya hidup, kegemaran, atau status sosial.

Perbedaan persepsi terhadap desain ini bukanlah hal yang baru. Sejak zaman sebelum revolusi industri sudah dikenal istilah budaya tinggi (High Culture) dan budaya massa (Mass Culture).3 Istilah ini dipicu oleh adanya perbedaan nilai dari karya desain itu sendiri. Karya yang dibangun dengan dasar dan prinsip satu atau beberapa disiplin ilmu seperti matematika dan filsafat akan masuk ke dalam kategori budaya tinggi. Namun, apabila karya tersebut dibangun dengan landasan pemahaman masyarakat secara turun temurun, maka karya tersebut masuk ke dalam kategori budaya massa.

Persoalan nilai dengan beragam bentuk, sifat, dan maknanya seakan mengaburkan hal penting lainnya dari desain. Sebenarnya, manusia merupakan tolok ukur utama pada setiap segmen proses desain. Ketika seorang desainer (perancang) bekerja, dia akan selalu berhubungan dengan Client (pihak pemberi tugas) dan pihak user (pengguna desain). Dari keduanya, user merupakan elemen terpenting yang harus memperoleh pertimbangan khusus dalam proses pengembangan desain. Tingkat keberhasilan desain, secara teoritis, pada dasarnya ditentukan oleh tingkat kepuasan user dalam beberapa aspek seperti kenyamanan, efisiensi, kesehatan, dan keamanan; baik secara psikologis maupun fisiologis. Namun kini, nampaknya hasrat merupakan prioritas yang lebih diutamakan ketimbang aspek pokok lainnya, dan sengaja didesain pada diri user. “Much recent design has satisfied only evanescent wants and desires, while the genuine needs of man have often been neglected.”4 begitu ujar Victor Papanek dalam menyikapi perkembangan desain yang lebih mengutamakan keinginan dan hasrat manusia, daripada upaya pemenuhan kebutuhan manusia yang sebenarnya.

Desain dan Kebudayaan Kontemporer

Berbeda dari zaman sebelum revolusi industri, persoalan zaman ini bukan lagi nilai namun lebih kepada citraan yang disisipkan di balik tampilan atau visualisasi benda. Seperti telah disinggung pada butir sebelumnya, citraan dan kebudayaan kontemporer itu saling jalin menjalin. Sebagai produk kebudayaan yang dituntut untuk dapat berkembang sesuai perkembangan peradaban manusia, desain pun berpotensi sangat besar untuk dijadikan sebagai komoditas pertukaran citraan di masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari maraknya produk-produk yang dipasarkan dengan sisipan berupa citraan gaya hidup, kebiasaan, kegemaran serta status sosial tertentu.

Contoh yang paling mudah adalah telepon selular (ponsel). Kehadiran ponsel ini mampu membuat perubahan yang cukup signifikan dalam masyarakat. Kecenderungan yang muncul saat ini adalah seseorang yang belum atau tidak memiliki ponsel dapat merasa asing, bahkan rendah diri ketika berada diantara orang-orang yang menggunakan perangkat komunikasi ini. Belum lagi pengaruh publisitas media cetak dan elektronik yang seakan memperkuat pengkondisian dan bujuk rayu gaya hidup konsumerisme, sehingga sanggup membangun hasrat bahwa ponsel sudah menjadi kebutuhan primer bagi orang modern. Publisitas itu sendiri memang sengaja dibuat agar pemerhati (spectator) merasa tidak puas dengan kehidupannya pada saat ini. Publisitas ini seakan-akan memberikan nasihat bahwa apabila dia membeli objek yang ditawarkan/dipromosikan, maka kehidupannya akan lebih baik.5 Dari sini dapat dipahami bahwa ada proses berkelanjutan yang dilakukan oleh sebuah publisitas untuk terus memojokkan, menyisihkan seseorang sampai dia mengikuti dan terperangkap oleh buaiannya. Iklan dengan slogan “hari gini gak punya handphone” telah mempengaruhi sebagian anggota masyarakat untuk berusaha, dengan berbagai cara, untuk memiliki ponsel. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa ponsel sudah menjadi benda konsumsi, seperti layaknya seseorang membeli sepotong roti sebagai makanan sehari-hari. Pola ini kemudian ditanggapi oleh beberapa vendor ponsel untuk terus memasok produk baru dengan kualitas bentuk dan visual yang berbeda dan dilengkapi dengan beragam fitur terbaru. Hal ini kemudian akan mendorong seseorang untuk membeli ponsel yang baru, sementara dia sudah memiliki ponsel yang baru dibelinya beberapa minggu yang lalu. Kondisi ini semakin memicu pola konsumerisme di kalangan masyarakat dengan harga jual yang dapat dikompromikan sedemikian rupa. Untuk dapat memanjakan masyarakat dalam gaya hidup kosumerisme ini, produsen produk jual umumnya membuat strategi klasifikasi atau kategorisasi produk tertentu yang kemudian dilemparkan kepada masyarakat, seperti peluncuran seri tertentu untuk penggemar game, eksekutif muda, dan petualang.

Dari ilustrasi tentang perilaku konsumtif Rebecca Bloomwood di atas sebenarnya dapat terlihat dua kondisi yang berbeda. Perilaku konsumtif di masyarakat Barat umumnya lahir dari kondisi masyarakat yang sudah mencapai tingkat kemakmuran lebih tinggi daripada masyarakat di Dunia Ketiga seperti Indonesia. Karena itu, perilaku konsumtif di masyarakat Barat sedikit banyak merupakan konsekuensi dari kemakmuran ekonomi dan kematangan kapitalisme. Sementara di Dunia Ketiga, khususnya Indonesia, perilaku konsumtif di antaranya lebih banyak dipicu dari keinginan keluar dari citraan kemiskinan dengan menghasrati citraan-citraan kelas sosial menengah keatas melalui objek-objek desain. Sekalipun hasrat utuk memiliki citraan kelas sosial atas tersebut terbentur oleh kepemilikan modal, maka barang-barang “aspal” bisa memberikan substitusinya. Namun, hal ini pun bukan tanpa masalah. Tak jarang, masyarakat kelas menengah ke bawah yang menghasrati barang-barang bercitra kelas sosial atas tersebut mau berhutang atau menggadaikan barang demi memenuhi hasratnya tersebut. Bahkan, banyak juga yang pergi menjadi TKI di luar negeri agar mendapat penghasilan besar, kemudian pulang dan membelanjakan uangnya untuk barang-barang tertentu—yang lebih sering tidak signifikan bagi kebutuhan kesehariannya, namun dianggap penting untuk mengubah citranya di mata tetangga—dan setelah selang beberapa waktu, uang tersebut habis, dan mereka kembali menjadi TKI. Sepertinya tak terpikirkan untuk menjadikan uang penghasilannya sebagai TKI itu menjadi modal untuk usaha mandiri. Tentu saja tindakan-tindakan konsumtif yang konyol lagi fatal seperti itu hanya semakin membuat masalah kemiskinan menjadi semakin berlarut-larut di Indonesia. Kondisi semacam ini tidak lepas dari adanya “pengaruh” luar, terutama dari negara-negara yang sudah lebih maju dari negara ini. Celakanya, pengaruh luar yang masuk ini lebih ke budaya massa-nya yang notabene tidak memiliki kualitas yang bermanfaat bagi budaya lokal. Masyarakat melihat budaya luar ini sebagai “cermin” bagi mereka apabila ingin meningkatkan taraf kehidupannya, atau setidaknya hal semacam ini akan membuat mereka terlihat lebih makmur dari kerabatnya sendiri. Alhasil, masyarakat akan semakin terjerumus kedalam sebuah sumur gaya hidup yang tidak memberikan mereka kesempatan sedikitpun untuk menyelamatkan diri dengan berpegangan pada sesuatu di dinding sumur gaya hidup tersebut.

Pola konsumerisme ini sebetulnya sudah mengaburkan batasan antara pengguna (user) dengan konsumen itu sendiri. Pada dasarnya, pengguna dan konsumen itu serupa, yaitu, orang yang mengambil manfaat dari sesuatu, namun hasratlah yang membedakan pemahaman antara pengguna dengan konsumen. Melalui hasrat manusia dijerat oleh berbagai bujuk rayu citraan suatu produk sehingga, baik disadari maupun tidak, mereka akan terus mengonsumsi propaganda yang ditawarkan. Jean Baudrillard pernah menyarankan bahwa hasrat konsumtif terhadap objek-objek desain itu jauh lebih baik, karena itu akan mengalihkan manusia dari hasrat agresif dengan mematerialkannya menjadi benda-benda. Saran Baudrillard tersebut jelas absurd, permasalahannya kehidupan tidak selalu mengabulkan apa yang menjadi hasrat manusia. Hidup lebih sering membawa manusia dalam pola susah senang silih berganti. Karena itu, mematerialkan hasrat agresif menjadi hasrat konsumtif pastilah tidak semudah yang dikemukakan oleh Baudrillard. Ketika seseorang menghasrati suatu objek desain, dan dia sedang dalam kondisi tidak memiliki modal (uang), maka bukan tidak mungkin yang kembali muncul malah hasrat agresif, seperti menipu, menodong, mencuri atau merampok pihak lain agar bisa memiliki objek desain tersebut.

Poskrip

Gagasan yang ditawarkan di sini lebih kepada kemungkinan perubahan pemahaman, juga persepsi terhadap desain di masyarakat yang berhubungan erat dengan persoalan hasrat visual. Desain bukan semata-mata proses manifestasi gagasan berupa sebuah produk desain yang memiliki nilai praktis dan nilai estetis. Akan tetapi, desain harus disadari sebagai salah satu mata rantai dari proses pembentukan dan pengembangan peradaban manusia. Beberapa tulisan sejarah menggambarkan mengenai peranan hasrat yang mampu mendorong manusia untuk memperoleh kehidupan yang lebih maju. Mulai dari peperangan zaman kerajaan sampai dengan perkembangan teknologi saat ini, pada dasarnya kesemuanya itu merupakan hasil dorongan hasrat manusia untuk memperoleh impiannya.

Desain, seharusnya, memiliki Zeitgeist (semangat zaman) dan Zeitstil (gaya yang berlaku pada zaman saat itu). Ketika masyarakat mulai memperlihatkan hasratnya kepada salah satu jenis citraan, hendaknya dipandang sebagai salah satu peluang untuk mengembangkan sebuah produk desain. Untuk itu, perlu kiranya dilakukan sebuah upaya penyelarasan antara fenomena dan persoalan hasrat dengan “misi/visi” desain, sehingga tercipta sebuah hubungan yang harmonis dan proporsional. Disamping itu, masyarakat pun diharapkan untuk membekali diri dengan beberapa pemahaman, terutama mengenai hasrat visual, sehingga mereka akan lebih sadar dan mawas diri dalam suatu medan gaya hidup. Satu hal lagi yang perlu dipahami masyarakat adalah ketika mereka membeli sebuah objek desain, pada hakikatnya mereka sedang “membeli” sebuah gaya hidup.

Sedangkan bagi para desainer, bukan berarti yang harus dilakukan adalah berhenti mendesain atau melawan sistem kapitalisme, misalnya, dengan melakukan pemboikotan, mogok mendesain dan sebagainya. Ada satu hal yang setidaknya perlu dimiliki oleh para desainer tentang kondisi zamannya, yaitu sebuah world-view, sebuah pandangan tentang dunia. Sebuah pepatah Zen mengatakan bahwa “Sebelum mendapat pencerahan engkau mencangkul tanah, setelah engkau mendapat pencerahan engkau mencangkul tanah.” World-view, setidaknya itulah makna yang tersirat dari pepatah tersebut. Bisa jadi aktivitas dua orang desainer itu sama saja, tetapi world-view-lah yang membedakan keduanya. Karena itu, desainer sebaiknya membuka diri agar berpandangan luas, mau melihat dan mengambil aspek-aspek positif dari berbagai kritik sosial-budaya tentang fenomena hasrat konsumerisme serta tidak secara konyol menyamakan begitu saja antara kebutuhan dan hasrat. Sebuah kesadaran dan world-view atas fenomena hasrat zamannya, tentu akan membuat suatu pengaruh tersendiri pada sikap dan diri desainer. Tak ubahnya pemilik pisau yang bisa menggunakan pisaunya untuk mengupas buah atau menusukannya ke tubuh orang lain.[]

Catatan-catatan:
1. Sophie Kinsella, Shopaholic Ties The Knot (Si Gila Belanja Akhirnya Kawin Juga), penerjemah Ade Dina Sigarlaki, Gramedia: Jakarta, Desember 2003, hlm. 18-21.
2. Luz María Jiménez Narváez, Design’s Own Knowledge, Design Issues: Volume 16, Number 1 Spring 2000. Massachusetts Institute of Technology. hlm. 44.
3. Lihat Widagdo, Desain dan Kebudayaan, DITJEN DIKTI, 2001, hlm. 79.
4. Victor Papanek, Design for the Real World: Human Ecology and Social Change, London: Thames and Hudson. 1984. hlm. 15.
5. Lihat John Berger, Ways of Seeing, London:BBC. 1972. hlm. 142

(Ditulis bersama Ruly Darmawan, seorang teman lama dari masa SMA yang berlanjut ke masa kuliah di FSRD ITB dan terus hingga saat ini di Forum Studi Kebudayaan FSRD ITB.)