ReflectereAugust 23, 2008 8:53 am

“Musuh terburuk adalah saran. Bolehkah aku memberikan saran? Ini masalah peka. Ini soal rambutmu, karena itu aku bertanya,” ujar John Milton kepada Mary Ann dalam sebuah pesta. “Tidak apa-apa, silakan saja. Maksudku, kau tidak menyukainya?”, balas Mary Ann. “Bukan, bukan. Aku suka. Rambutmu indah. Hanya saja tidak cocok denganmu. Kau terlalu ceria untuk berambut keriting begitu. Itu tidak menggambarkan dirimu yang sebenarnya. Kau harus menarik rambutmu ke belakang. Lakukanlah, lihat hasilnya,” tukas Milton. Dengan ragu Mary Ann kembali bertanya, “Sekarang, di sini, kau minta rambutku ditarik ke belakang?” “Apa permintaan itu berlebihan? Aku mau melakukannya, tapi jika kulakukan, semua orang yang pura-pura tak melihat kita akan berpikiran kita berselingkuh. Kumohon,” pinta Milton sambil merapatkan kedua telapak tangannya sehingga tampak seperti orang yang benar-benar sedang memohon kepada Mary Ann. Dengan ragu-ragu Mary Ann melakukannya sambil bercermin, dan kemudian Milton pun berkata, “Menyenangkan sekali jika pendapat kita benar.” Mereka berdua pun tertawa. Milton kemudian menyambung, “Ini baru indah. Kau harus memotong rambutmu.” Dengan sedikit terkejut Mary Ann bertanya, “Apa kau serius?” Milton pun kemudian menegaskan, “Bahu perempuan adalah bagian terpenting dari mistiknya. Dan lehernya, jika perempuan itu ceria, memiliki misteri seperti kota perbatasan. Tanah tak bertuan di pertempuran antara pikiran dan tubuh. Kau tahu, warna rambutmu yang asli akan memperindah matamu.” (more…)

Reflectere 8:18 am

“Eddie Barzoon, Eddie Barzoon. Akulah yang merawatnya saat dia melewati dua perceraiannya, rehabilitasi kokain, dan menghamili seorang resepsionis. Makhluk ciptaan Tuhan, bukan? Makhluk ciptaan Tuhan yang istimewa. Aku telah mengingatkan dia dalam setiap langkahnya. Mengamatinya terpental ke sana kemari seperti permainan keparat. Seperti boneka yang dapat diputar. Seperti makhluk serakah berjalan ke sana kemari dengan berat 250 pon yang memuaskan dirinya sendiri. Abad baru segera menjelang. Eddie Barzoon memang memiliki penampilan yang menarik, karena dialah anak milenium berikutnya. Asal-usul orang-orang seperti ini bukanlah misteri sama sekali. Engkau mempertajam hasrat manusiawinya hingga, sampai pada satu titik, ia bisa memecah atom dengan hasratnya. Engkau membangun ego hingga sebesar katedral. Secara fiber optik menghubungkan dunia dengan setiap impuls ego. Bahkan menyepuh mimpi paling membosankan dengan fantasi-fantasi berlapis emas, hingga setiap manusia menjadi kaisar yang bercita-cita tinggi untuk menjadi tuhan bagi dirinya sendiri. Dalam keadaan seperti ini, kemana engkau akan lari? Ketika kita berebut satu perjanjian ke perjanjian berikutnya, siapa yang mengawasi planet ini? Ketika udara menebal, air memasam, bahkan madu lebah memiliki rasa logam radioaktif, hal itu tetap terjadi dan semakin lama semakin cepat. Tak ada kesempatan untuk berpikir, untuk bersiap sedia. Ini tak ubahnya membeli masa depan dan menjualnya, ketika tak ada lagi masa depan. Kita tengah menaiki kereta yang tak terkendali, Nak. Kita punya jutaan Eddie yang kesemuanya berjoging ke masa depan. Setiap dari mereka bersiap untuk mengacungkan jari tengahnya ke bekas planet ciptaan Tuhan, menjilati jarinya hingga bersih tatkala menjulurkan tangannya ke cybernetic keyboard untuk menghitung bayarannya per jam, kemudian malah balik menghantam dirinya sendiri. Engkau harus membayar pilihanmu sendiri, Eddie. Di permainan ini, agak terlambat sekarang untuk melahapnya habis. Perutmu terlalu penuh, kemaluanmu sakit, matamu merah karena lelah, dan kau berteriak meminta pertolongan. Tetapi, apa yang terjadi? Tak ada siapa pun di sana! Engkau seorang diri, Eddie. Engkaulah makhluk kecil ciptaan Tuhan yang istimewa.” (more…)

ReflectereAugust 19, 2008 3:18 pm

Pendahuluan

Dongeng Sangkuriang dalam berbagai versinya yang berkembang di masyarakat selalu menampilkan Dayang Sumbi, wanita yang melahirkan Sangkuriang terlahir dari babi dan ayahnya yang berupa anjing. Dongeng yang dihubungkan dengan mula terbentuknya Lembah Bandung dan Gunung Tangkuban Perahu ini sering ditafsirkan sebagai bentuk peyoratif penolakan orang Sunda terhadap incest. Dongeng ini paralel dengan mitos Oedipus dari Yunani yang diambil oleh Freud untuk membangun teori Oedipus Complex-nya. Freud memang menegaskan bahwa mitos yang mengungkapkan seorang tokoh yang membunuh ayahnya dan mengawini ibunya ini muncul tidak hanya dalam satu kebudayaan saja. Juga terdapat banyak anggapan bahwa dongeng ini adalah bentuk totemisme kebudayaan Sunda primitif sebelum datangnya ajaran agama-agama. Tetapi gagasan ini mengidap kelemahan historis di dalamnya. Bersamaan dengan pengadaptasian kisah Mahabharata dan Ramayana dalam pewayangan berabad-abad lalu oleh para waliyullah dalam penyebaran agama Islam di Tanah Jawa, mustahil bila sebuah dongeng yang melukiskan konstruk masyarakat sangat primitif yang bertentangan dengan ajaran agama tetap dituturkan secara lisan di berbagai tempat di Tatar Sunda yang telah memeluk agama Islam sejak lama. Tak kurang dari seorang Haji Hasan Mustapa menyebut dongeng ini sebagai kisah suluk. Sangkuriang dipenuhi dengan simbol-simbol yang demikian kaya dan sepintas saling kontradiktif dalam dirinya itu, seperti babi dan anjing, air seni sang raja, gunung dan lembah, taropong, tempurung kelapa, ayam jago, dan boeh rarang. Hal itu menuntut kita untuk menolak dongeng itu secara keseluruhan karena sama sekali tidak beresonansi dengan kesadaran atau memperlakukannya sebagai wacana yang mengaktivasi ruang kecerdasan khusus. Vico, seorang filsuf Italia telah mengutarakan pendapat yang dikembangkan oleh Levi-Strauss bahwa masyarakat lampau memiliki suatu ‘kebijakan-puitis’ (sapienza poetica), di mana mereka menyatakan cara pandangnya terhadap dunia lewat berbagai bentuk metafisik metafora, simbol, dan mitos-mitos. Khasanah Sunda inilah yang akan merekonstruksi konsep strukturalisme budaya dan hakikat kemanusiaan yang membentuknya. (more…)

ReflectereAugust 18, 2008 7:16 am

Dalam pembahasannya tentang pembagian absolut antara ketaksadaran dan kesadaran (atau antara id dan ego), Sigmund Freud memperkenalkan gagasan tentang diri manusia, atau subjek, sebagai sesuatu yang secara radikal terbagi dan terbelah (split) di antara dua wilayah kesadaran dan ketaksadaran. Pada satu sisi, gagasan umum humanis Barat tentang diri atau personhood didefinisikan dengan beroperasinya kesadaran, termasuk rasionalitas, kehendak bebas, dan swa-refleksi. Bagaimana pun, bagi Freud dan juga bagi psikoanalisis secara umum, tindakan, pemikiran, kepercayaan, dan konsep tentang “diri” utuh dideterminasi atau dibentuk oleh ketaksadaran, serta berbagai dorongan dan hasratnya. (more…)

Reflectere 7:02 am

“Hakikat televisi sama dengan sifat umum semua obat berbahaya. Acaranya yang terkendali, seragam dan diulang-ulang memungkinkannya menjadi alat pemaksa, pencuci otak dan manipulasi. Televisi menyurupi keadaan jiwa pemirsa yang merupakan persyaratan pertama yang perlu untuk dicuci”. (Terrence McKenna) (more…)

Older Posts