Artes LiberalesAugust 23, 2008 8:57 am

Aku mengamati Arthur memanggil seorang pria bercelana jins, yang dengan menyebalkan datang lalu mengangkat lemari itu seolah lemari itu terbuat dari kertas—lalu aku membuntuti mereka masuk ke dalam toko yang hangat, dan mulai melihat-lihat ke sekeliling lagi padahal baru sepuluh menit yang lalu aku meninggalkan tempat itu. Aku betul-betul menyukai tempat ini. Ke mana pun kau menoleh, selalu ada sesuatu yang kau inginkan. Misalnya kursi berukir yang indah itu, dan penutup sofa dari beludru dengan lukisan tangan…Dan lihatlah jam besar menakjubkan itu! Setiap hari selalu ada barang baru.
Bukan berarti aku pergi ke sini setiap hari.
Aku hanya…tahu, kan. Aku hanya menebak saja.
“Anda telah membeli barang yang sangat bagus,” kata Arthur sambil menunjuk lemari koktail itu. “Anda jelas pintar menilai.” Dia tersenyum padaku, dan menulis sesuatu pada kertas.
“Saya tak begitu yakin,” jawabku merendah.
Walaupun sebetulnya aku memang pintar menilai. Dulu aku selalu nonton Antiques Road Show bersama Mum di setiap Minggu, jadi mestinya ada juga ilmu yang kuserap.
“Itu bagus juga,” ujarku sok pintar sambil mengangguk ke arah cermin besar berbingkai mengkilap.
“Ah, betul,” jawab Arthur. “Modern, tentu saja…”
Tentu saja aku tahu itu benda modern. Maksudku, benda itu bagus meskipun modern.
“Apakah Anda tertarik pada perlengkapan bar tahun 1930-an untuk melengkapi lemari itu?” Arthur menengadah. “Gelas tinggi…pitcher…Kami memiliki perlengkapan yang indah.”
“Oooh ya!” Aku tersenyum padanya. “Tentu saja!”
Gelas tinggi tahun 1930-an! Maksudku, siapa yang mau minum dari gelas modern yang buruk kalau bisa menggunakan gelas antik?
Arthur membuka buku besarnya yang bersampul kulit dengan tulisan “Kolektor”, dan aku merasakan sengatan rasa bangga. Aku seorang kolektor! Aku orang dewasa!
“Miss Rebecca Bloomwood…Perlengkapan bar tahun 1930-an. Saya punya nomor telepon Anda, jadi kalau kami dapat barangnya, saya akan menelepon.” Arthur memeriksa halaman bukunya. “Di sini saya lihat Anda juga tertarik pada jambangan kaca Venesia?”
“Oh! Mm…ya.”
Aku sudah lupa soal mengoleksi jambangan Venesia itu. Bahkan aku tidak yakin di mana jambangan pertamaku kusimpan.
“Juga jam rantai abad kesembilan belas…”jarinya menelusuri daftar. “Cetakan gaya Shaker…bantal jarum…” Dia menengadah. “Apakah Anda masih berminat pada benda-benda ini?”
“Yah…” Aku berdeham. “Sejujurnya, saya sudah tidak terlalu berminat pada jam rantai. Juga benda gaya Shaker itu.”
“Begitu. Dan sendok selai zaman Victoria?”
Sendok selai? Mengapa aku menginginkan setumpuk sendok selai tua?
“Anda tahu,” ujarku serius. “Saya rasa mulai sekarang saya fokus pada perlengkapan bar tahun 1930-an saja. Membangun koleksi yang betul-betul bagus.”
“Saya rasa Anda sangat bijaksana.” Dia melempar senyum padaku dan mulai mencoret-coret daftarnya. “Sampai berjumpa lagi.”
Ketika aku keluar dari toko menuju jalan, cuaca sangat dingin dan serpih-serpih salju melayang turun dari langit. Tapi tubuhku memancarkan kilau puas. Maksudku, itu tadi investasi hebat, kan? Lemari koktail asli tahun 1930-an—dan tak lama lagi aku akan memiliki koleksi perlengkapan bar yang serasi! Aku puas sekali.
Nah, apa tadi tujuanku keluar rumah?
Oh, ya. Dua cappucino.1

(more…)

Artes LiberalesAugust 14, 2008 12:54 pm

Dikisahkan bahwasanya Nasruddin Hoja sering keluar masuk negeri tetangganya. Tentu saja kebiasaan tersebut menimbulkan kecurigaan pada Fulan, petugas bea cukai di perbatasan. Dia yakin sekali bahwa Nasruddin tengah menyelundupkan sesuatu. Namun, setiap kali dia memeriksa Nasruddin dengan sangat teliti, tak ditemukan apa pun, karena Nasruddin hanya membawa keledai yang memanggul jerami. Demikianlah hal tersebut senantiasa berulang. Tahun demi tahun pun berlalu, hingga mereka berdua pun beranjak tua. Suatu ketika keduanya bertemu kembali, berkatalah si Fulan, “Nasruddin, sekarang kita sudah sama-sama tua. Aku sudah pensiun sebagai petugas bea cukai perbatasan, dan kau pun sudah tidak bepergian lagi ke negeriku. Sudah saatnya kau bicara jujur padaku, toh aku pun tidak akan bisa menangkapmu. Aku sebenarnya yakin sekali bahwa engkau tengah menyelundupkan sesuatu setiap kali memasuki negeriku. Namun, setiap kali aku memeriksamu, aku tidak menemukan apa pun selain keledai dengan jerami di punggungnya. Sebenarnya apa yang engkau selundupkan?” Dengan entengnya Nasruddin menjawab, “Keledai! Aku menyelundupkan keledai, karena di negerimu harga keledai lebih mahal.” (more…)

Artes LiberalesAugust 8, 2008 2:23 pm

“Saya mungkin satu-satunya tukang sabit rumput yang membawa telepon genggam (handphone),” ujar Kang Ibing dalam sebuah wawancara.1 Pernyataan tersebut terlontar sehubungan dengan pertanyaan wartawan mengenai hobinya yang unik, yaitu menyabit rumput untuk memberi makan domba-domba yang dipeliharanya. Domba—juga menyabit rumput—merupakan nostalgia akan daerah kelahiran—tentu saja bukan kota—dan memberinya kenikmatan lain, yaitu dapat berbincang-bincang dengan tukang rumput sungguhan lainnya. Meski demikian, sepintas saja orang akan segera melihat perbedaan kelas sosial yang menyolok antara diri Kang Ibing dengan para penyabit rumput sungguhan. Yaitu telepon genggam yang senantiasa terselip di pinggangnya.2 (more…)

Artes LiberalesAugust 7, 2008 2:09 am

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah yang dengannya Kami teguhkan fu‘ad-mu…” (QS Huud [11]: 120)

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran (ibrah) bagi orang-orang yang mempunyai lubb (ulil albab)…” (QS Yusuf [12]: 111)

(more…)

Artes LiberalesAugust 6, 2008 2:45 am

Tersebutlah seorang pangeran kecil dengan mahkota ajaibnya. Namun seorang penyihir jahat menculiknya, mengurungnya di menara, dan membisukannya. Dalam kurungan tersebut ada jendela berterali, dan pangeran itu membenturkan kepala bermahkotanya ke terali, berharap seseorang akan mendengar suara itu dan menemukannya. Mahkota itu membuat suara terindah yang pernah di dengar orang. Suaranya bergema sampai jauh. Begitu indahnya sehingga orang merasa ingin menangkap udara. Mereka tak menemukan sang pangeran, tak pernah menemukan kamar kurungannya, tapi suara itu memenuhi hati setiap orang dengan keindahan. (more…)

Older Posts