“Saya sama sekali tidak bangga dengan tesis saya. Tesis tersebut kini saya simpan di tempat paling tidak terlihat dari rak buku saya”, begitu ujar seorang lulusan S2. Sikap ini bermula ketika dia tengah menyusun tesis. Saat itu dia mengajukan tema tentang hiper-realitas kepada para pembimbingnya. Pembimbing kedua memang budayawan yang mumpuni dalam isu-isu semacam itu. Namun, pembimbing pertama ternyata sama sekali tidak terbuka terhadap wacana dari ranah lain—bahkan bisa dikatakan antipati. Pembimbing pertama ini memiliki fanatisme berlebihan terhadap segala hal yang berbau Jepang, negara tempat dia memperoleh gelar doktor. Sementara pembimbing kedua belum bergelar doktor. Maka, bermodalkan otoritasnya sebagai doktor dan pembimbing pertama, serta sekian dalih yang dibuat untuk mendukung ketertutupannya, maka mahasiswa bimbingannya tersebut dipaksa menuruti kehendak sang pembimbing pertama, yaitu, membuat tesis tentang kertas dalam budaya Jepang. Maka lahirlah tesis yang sama sekali tidak pernah diakui sebagai bagian dari diri sang mahasiswa yang menulisnya. Tesis itu malah terkesan lebih menyerupai aib atau ‘anak haram’. (more…)
EducatusAugust 2, 2008 12:37 am
EducatusAugust 1, 2008 11:56 pm
Konsumerisme, Pendidikan, Wawasan Kritis Lintas Bidang
Suatu ketika, Sokrates terlihat oleh sahabatnya tengah menimbang-nimbang berbagai barang mewah yang dijual di pasar. Hal itu cukup mengherankan, karena Sokrates dikenal sebagai seorang yang asketis. Sahabatnya bertanya, mengapa Sokrates sering pergi ke pasar, padahal tidak pernah membeli apa pun. Sokrates menjawab, “Setiap kali ke pasar saya selalu tersadar bahwa begitu banyak barang yang tidak saya perlukan.” (more…)
