RhineAugust 2, 2008 12:52 am

Sebuah kuil berdiri di Delphi, Yunani. Di dalamnya tinggal seorang pendeta wanita bernama Pythia, juru bicara Apollo. Mulai dari rakyat jelata hingga raja datang berduyun-duyun meminta nasihat dan kebijaksanaan Apollo melaluinya. Tepat di atas pintu masuk kuil terpampang tulisan “Gnothi Se Authon” yang artinya “Kenalilah Dirimu Sendiri”. Konon kalimat itu perkataan Apollo, kalimat yang jadi basis ajaran Socrates, “Sang Lalat” Athena. Socrates senantiasa “menyengat” para pemuda Athena untuk berpikir secara jernih ihwal jati diri mereka yang sebenarnya. Dengan eksplisit Socrates menyatakan dia mengemban misi besar, yaitu membantu manusia menemukan pengetahuan diri yang terpendam. Socrates menyatakan karakteristik ilmunya seperti ilmu bidan (ibu kandungnya sendiri adalah bidan) yang membantu kelahiran pengetahuan sejati melalui pengenalan diri. Sebagai seorang maleutikos (bidan) pengetahuan, Socrates “membidani” kelahiran pengetahuan diri murid-muridnya dengan melontarkan pertanyaan yang tepat dan menyentak. Socrates berkeyakinan manusia itu seumpama benda buatan yang mempunyai tujuan atau fungsi tertentu. Adalah tugas manusia untuk menemukan serta melaksanakan tujuan dan fungsi itu dengan tepat. (more…)

RhineJuly 31, 2008 2:52 am

Bayangkan, Anda membaca sebuah karya sastra yang indah lagi menyentuh tentang segala hal yang baik lagi puitis ihwal perempuan. Namun, penulisnya ternyata penindas perempuan. Kemudian, Anda pun sering membaca tulisan yang memikat berisi ketakziman dan keyakinan terhadap nilai-nilai kemanusiaan secara filosofis. Namun, dalam kesehariannya sang penulis ternyata sangat tidak peduli terhadap manusia. Selain itu, Anda pun gemar membaca buku agama karya seorang teolog. Namun, dalam realitasnya, ternyata sang teolog sama sekali tidak mengamalkan apa-apa yang dituangkan dalam bukunya. Menghadapi fakta-fakta tersebut, kira-kira bagaimana reaksi Anda? Masih berhargakah karya mereka? 

 

(more…)