Dalam pembahasannya tentang pembagian absolut antara ketaksadaran dan kesadaran (atau antara id dan ego), Sigmund Freud memperkenalkan gagasan tentang diri manusia, atau subjek, sebagai sesuatu yang secara radikal terbagi dan terbelah (split) di antara dua wilayah kesadaran dan ketaksadaran. Pada satu sisi, gagasan umum humanis Barat tentang diri atau personhood didefinisikan dengan beroperasinya kesadaran, termasuk rasionalitas, kehendak bebas, dan swa-refleksi. Bagaimana pun, bagi Freud dan juga bagi psikoanalisis secara umum, tindakan, pemikiran, kepercayaan, dan konsep tentang “diri” utuh dideterminasi atau dibentuk oleh ketaksadaran, serta berbagai dorongan dan hasratnya. (more…)
Yang Lebur dalam Phantasmagoria: Melihat Bagaimana Hidup Kita Dibentuk dalam Televisi
“Hakikat televisi sama dengan sifat umum semua obat berbahaya. Acaranya yang terkendali, seragam dan diulang-ulang memungkinkannya menjadi alat pemaksa, pencuci otak dan manipulasi. Televisi menyurupi keadaan jiwa pemirsa yang merupakan persyaratan pertama yang perlu untuk dicuci”. (Terrence McKenna) (more…)
Ujian: Wahana Transformasi Diri dalam Suluk
Seorang ibu terbaring lemah di kasurnya dalam keadaan cukup parah. Kondisi itu bermula dari tekadnya untuk tidak menjamah makanan dan minuman hingga ajal, karena anak lelaki kesayangannya telah mengambil keputusan yang tidak direstuinya, yaitu, pindah agama. Ketika ibu itu sekarat, para sanak keluarga membawa anak lelakinya untuk melihat terakhir kali keadaan sang ibu dengan harapan hatinya akan tersentuh. Ketika anak lelaki tersebut melihat ibunya, didekatkanlah wajahnya ke wajah sang ibu seraya berkata: “Demi Allah, ketahuilah wahai ibunda, seandainya ibunda mempunyai seratus nyawa, lalu ia keluar satu per satu, tidaklah ananda akan meninggalkan Ad-Diin ini walau ditebus dengan apa pun juga. Maka terserahlah kepada ibunda, apakah ibunda mau makan atau tidak.” Begitulah ujian yang dihadapi Sa‘ad bin Abi Waqqash ketika memilih mengikuti jalan Rasulullah Muhammad Saw. Peristiwa ini diabadikan Al-Quran dengan turunnya ayat berikut: (more…)
Spiritualitas dan Realitas Kebudayaan Kontemporer: Catatan tentang Pemikiran Yasraf Amir Piliang
“Leon, rasanya aku jatuh cinta kepadamu. Kau tahu, ini adalah yang pertama kali bagiku,” ujar Mathilda. “Bagaimana kau tahu bahwa itu adalah cinta jika engkau tidak pernah jatuh cinta sebelumnya?” timpal Leon. “Karena aku merasakannya,” jawab Mathilda. “Di mana?” tanya Leon. “Di perutku…Rasanya hangat. Aku selalu merasa kejang di perutku, dan kini, kejang itu hilang,” jelas Mathilda. “Mathilda, aku senang engkau tidak lagi merasakan sakit perut. Aku pikir bahwa hal tersebut tidaklah bermakna seperti yang kau pikirkan,” jelas Leon untuk mencoba meyakinkan Mathilda. (more…)
Hasrat yang Tersembunyi di Balik Hijab: Mitologi, Teologi dan Ideologi dari Jilbab
Baghdad beberapa ratus tahun yang lalu. Seorang perempuan berwajah cantik memasuki kota tersebut dengan hanya menutupi separuh wajahnya menggunakan cadar serta membiarkan separuhnya lagi terbuka. Maka bertanyalah seorang lelaki yang berpapasan dengannya “Mengapa engkau tidak menutup seluruh wajahmu?” Dia menjawab, “Tunjukkan dulu kepadaku seorang laki-laki sejati agar aku bisa menutup seluruh wajahku. Di seluruh Baghdad ini, hanya ada satu laki-laki sejati, dan dia adalah Husayn (ibn Mansyur Al-Hallaj). Seandainya bukan karena dia, aku bahkan tidak akan menutup separuh wajahku seperti ini.” Perempuan tersebut adalah saudara Husayn ibn Mansyur Al-Hallaj, sang shufi martir; yang konon dikatakan bahwa dia pun mengklaim kesetaraan dengan laki-laki dalam perjuangan spiritual. (more…)
